Minggu, 07 Maret 2010

PULAU KAKABAN




PULAU KAKABAN SEBAGAI KAWASAN KONSERVASI
MEMILIKI KEKAYAAN DAN KEUNIKAN ALAM
YANG PERLU DILINDUNGI DAN DILESTARIKAN


PENDAHULUAN

1. Latar belakang.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki kekayaan dan keindahan alamnya, dimana alam tersebut banyak ragam jenis flora dan fauna  yang sangat tinggi sehingga dimasukkan dalam salah satu negara mega biodiversity .   Dan sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan.
Predikat sebagai Negara mega-biodiversity baik dari segi keanekaragaman genetiK, jenis, maupun ekosistemnya memang cukup membanggakan, disamping menuntut adanya tanggung jawab yang sangat besar untuk mempertahankan keseimbangan antara kelestarian fungsi (ekologis) dan kelestarian manfaat (ekonomis) keanekaragaman hayati.
Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.  Sementara upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.
Dalam beberapa dekade terakhir hutan Indonesia memang mengalami berbagai gangguan, hal tersebut menimbulkan kerusakan di sana sini, baik pada kawasan hutan produksi, hutan alam maupun pada kawasan konservasi, yang sudah seharusnya dilindungi untuk berbagai kepentingan kini dan nanti. Dan kerusakan tersebut dapat menimbulkan gangguan pada berbagai kehidupan flora dan fauna, serta ekosistem di sekitarnya.  Sebab unsur-unsur yang ada pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi, sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem.
Kakaban merupakan pulau atol, adalah sebuah pulau yang terbentuk dari gugusan karang, dimana terbentuk dari lempeng samudra dari kedalaman sekitar 200-300 meter,  kini memiliki ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut, dan diperkirakan terbentuk selama 1-2 juta tahun. Pulau Kakaban merupakan salah satu dari 55 pulau atol yang terdapat di Indonesia. Dan sebagai salah satu kawasan konservasi yang memiliki keindahan alam serta keaneka ragaman jenis flora dan fauna endemik.
Danau Kakaban terletak di Laut Sulawesi, sebelah timur Sungai Berau, Kalimantan Timur. Dikenal karena kekayaan biota lautnya, dan tercatat sebagai salah satu tempat penetasan penyu hijau Chelonia mydas yang membuat tempat ini dikenal di dunia internasional.
Perlindungan dan pelestarian kawasan konservasi seperti Pulau Kakaban memang perlu dilakukan secara serius guna mempertahankan kawasan beserta ekosistem di dalam dan sekitarnya. Sehingga kawasan tersebut tetap memiliki keaslian, kekhasan, keindahan, yang sekaligus sebagai wisata alam yang mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri dengan segala potensi flora dan faunanya. Dan Kakaban memiliki keragaman yang tinggi untuk kehidupan di terumbu karang yang menyediakan sumber penghidupan yang melimpah bagi masyarakat, memiliki hutan tropis yang lebat dan hutan mangrove yang luas sebagai asey yang perlu dilindungi. Selanjutnya dapat dimanfaatkan dan dikelola secara bijak dan lestari untuk kepentingan bangsa dan Negara Indonesia sebagai anugrahNYA. Dan pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi untuk keperluan masyarakat,  khususnya bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.  
       
2. Maksud dan tujuan.

Maksud penulisan dari Pulau Kakaban Sebagai Kawasan Konservasi Yang Perlu Dilindungi dan Dilestarikan adalah sebagai bahan informasi, bahwa sebagai kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna seperti Pulau Kakaban perlu dipertahankan keberadaannya dan dikelola secara benar sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan Bangsa dan Negara, agar dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan segala ekosistem yang ada di sekitarnya.   Bahwa Pulau Kakaban merupakan salah satu Pulau Atol yang terdapat di Indonesia telah dikenal oleh dunia internasional sebagai salah satu tempat penetasan penyu hijau terbesar di Asia Tenggara. Dan Kakaban bagai kolam  di tengah laut yang banyak memiliki biota laut yang khas, dan Kakaban telah dinyatakan sebagai situs warisan dunia untuk kepentingan ilmiah.
          Adapun tujuan penulisan ini adalah :
-         Bahwa dalam upaya mempertahankan keberadaan sumber daya alam hayati merupakan salah satu program prioritas Dephut dibidang konservasi  yang perlu melibatkan pihak lain sebagai pengelola.
-         Pengembangan dan pengelolaan di bidang koservasi dapat  dilaksanakan di berbagai tempat, antara lain di Pulau Kakaban secara maksimal guna mempertahankan ekosistem dengan segala keanekaragaman biota laut serta jenis flora dan fauna yang ada guna kepentingan kini dan masa yang akan datang
-         Dapat meningkatkan peran masyarakat  dalam melindungi dan mempertahankan kawasan konservasi yang ada di sekitarnya agar kelangsungan hidup flora dan faunanya dapat tetap dipertahankan sebagai keunikan dan kekhasan, yang dapat membawa harum daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
-         Hasil pengelolaan bidang konservasi selanjutnya dapat  memberikan peluang bagi masyarakat di sekitarnya   

3. Ruang Lingkup.
         
Pengelolaan kawasan konservasi merupakan upaya yang telah dilakukan guna melindungi, mempertahankan kelestarain/keberadaannya dengan segala ekosistemnya,  sebagai salah satu bentuk kesadaran akan pentingnya sumber daya alam dan ekosistemnya, khususnya konservasi pada kawasan yang masih banyak memiliki potensi dengan segala keunikannya yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Upaya pengelolaan kawasan konservasi dapat dilakukan secara optimal di berbagai lokasi, yang memerlukan penanganan secara serius dan bijaksana tanpa adanya eksploitasi, tapi memperhatikan aspek kelestarian yang berkelanjutan.
Pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di Pulau Kakaban  merupakan salah satu upaya yang baik dari pemerintah, masyarakat dan pihak terkait, sehingga dapat mendukung kelestarian terumbu karang, hutan tropis, hutan mangrove serta biota laut dan berbagai jenis flora dan fauna endemik yang unik. Dan kekayaan alam yang terkandung di sana tentunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber penelitian ilmiah, bahkan dapat membantu meningkatkan pendapatan dalam upaya pemberdayaan masyarakat sekitar melalui program prioritas dalam bidang konservasi.  



PENGERTIAN DAN BATASAN

          Adapun pengertian yang akan diutarakan dalam tulisan ini adalah istilah-istilah yang berkaitan dengan permasalahan pokok dalam dalam karya tulis, antara lain sebagai berikut :
Pengelolaan  adalah suatu upaya rehabilitasi sumber daya alam yang dapat dipertahankan agar memberikan manfaat yang optimal dan berkesinambungan, dalam hal ini adalah upaya penangkaran dalam rangka perbanyakan jenis guna mempertahankan keberadaan jenis satwa liar dari kepunahan dimana jenis tersebut mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Sumber daya alam hayati  adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama unsure non hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. 
Konservasi sumber daya alam hayati   adalah pengelolaan sumber daya alam hayati  yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya..
Ekosistem sumber daya alam hayati  adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.
Satwa endemik  adalah binatang yang secara hidupan liar hanya terdapat di suatu bagian daerah, dan tidak terdapat di tempat lainnya.
Habitat  adalah lingkungan atau sebaran dimana salah satu satwa hidup yang telah bersatu dengan alam sekitarnya, baik mencari makan, berlindung hingga berkembang biak dalam satu kawasan serta jarak yang tertentu.
Taman wisata alam  adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan cirri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Pengawetan  adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah 


PENGUMPULAN DATA

          Dalam penyusunan karya tulis ini menggunakan beberapa cara yang sekiranya dapat dipergunakan sebagai pendukung hingga tersusun menjadi sebuah bentuk tulisan yang dapat dimanfaatkan sebahai bahan informasi lebih lanjut. Adapun teknik dan cara yang dapat dilakukan oleh penulis antara lain sebagai berikut :
Observasi
          Teknik observasi atau teknik pengamatan bertujuan menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda serta rekaman gambar. Untuk mendukung data, penulis melakukan pengamatan melalui gambar/foto tentang Pulau Kakaban dengan segala potensi atau kekayaan yang terkandung dalam kawasan tersebut.
Wawancara
          Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu kepada manusia sebagai sumber data. Dalam hal ini melakukan wawancara dengan pejabat dan petugas Balai Konservasi Sumberdaya Alam Propinsi Kalimantan Timur.
Pengkajian Dokumen
     Penggunaan teknik pengkajian dokumen sebagai salah satu teknik untuk pengumpulan data yang membutuhkan data tentang latar belakang ataupun keadaan suatu perihal yang ada kaitannya dengan kondisi saat ini. Dokumen yang dimaksud adalah data yang telah tersedia sebelumnya yang terdapat pada suatu lembaga formal, serta informasi yang dapat dipergunakan sebagai data, yang antara lain  adalah dokumen yang dapat berupa buku, leaflet dan bahan informasi lainnya dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan serta data-data lain yang dapat mendukung tersusunnya karya tulis ini.

PULAU KAKABAN


  1. Lokasi dan fasilitas

Kakaban terletak di Kepulauan Derawan, sebelah timur delta Sungai Berau, Kabupaten Berau di Propinsi Kalimantan Timur. Tepatnya terletak di Laut Sulawesi di antara Pulau Maratua, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, Pulau Panjang dan Pulau Samama.
Pulau Kakaban letaknya jauh dari ibukota propinsi (Balik Papan), dan dari Tanjung Redeh (ibu kota Kabupaten Berau) dapat ditempuh dengan speedboat selama 3 jam.  Adapun fasilitas yang terdapat di Pulau Kakaban antara lain adalah adanya titik penyelaman bagi para wisatawan yang senang akan petualangan bawah air, yaitu barracuda Point, The Drift, Cabbage Patch, The Wall, Blue Light Cave, The Plateau, Rainbow Run, Divers Delight dan The North Face. Sedangkan untuk wisata bahari telah dibangun dive resort bertarap internasional, seperti Sangalaki Dive Resort, Derawan Dive Resort dan Nabucco Resort serta Home Stay. Dan untuk memasuki kawasan Danau Kakaban telah dibangun pondok peristirahatan dan jalur setapak sepanjang 147 m.
Pulau Kakaban pada saat ini tidak memiliki sarana transportasi khusus yang dapat diandalkan, karena letaknya yang sangat jauh dari Balik Papan, sehingga dari ketapatan waktu maupun keamanan masih belum terjamin. Maka untuk pengembangan wisata mempunyai keterbatasan. Selain itu di pulau ini tidak terdapat air tawar yang bersih yang dapat dipergunakan sebagai sarana penting dalam kehidupan, dan sampai saat ini tidak ada masyarakat yang mau bertempat di kawasan tersebut.

  1. Asal-usul pembentukan Pulau Kakaban.   

Berdasarkan laporan yang disusun oleh  Kuenen  peneliti dari Belanda saat melakukan ekspedisi snellius I pada tahun 1929-1933, melakukan penelitian hidrografi dan geologi dengan mengumpulkan sediment dasar laut.  Menurutnya Pulau Kakaban terbentuk dari atol yang terangkat dari lempeng samudra dari kedalaman 200-300 meter. Pada awalnya terdapat daratan yang dikelilingi atol, lama kelamaan daratan tenggelam ke dasar laut karena proses geologi. Karang yang membentuk atol ini semakin tinggi, sementara daratan di bagian tengahnya semakin tenggelam sehingga sekarang ini atol pulau Kakaban mencapai ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut. Dan atol setinggi ini diperkirakan terbentuk selama 1-2 juta tahun.
Pembentukan Pulau kakaban berbeda dengan pulau atol lain. Karang yang mengelilingi daratan yang tenggelam dan akhirnya membentuk atol adalah mahluk hidup dan pada waktu terjadi akumulasi dalam pembentukan pulau, terjadi rekahan-rekahan sehingga jarang sekali terbentuk atol yang utuh. Sedangkan Kakaban yang terbentuk bagai angka sembilan mempunyai atol yang utuh, menutup rapat membentuk cincin di bagian utaranya, sehingga terbentuk suatu laguna di bagian tengahnya, dan pulau atol seperti ini jumlahnya sangat langka di dunia, dan tercatat hanya terdapat dua pulau, yaitu Kakaban dan Pulau di Mikronesia.
Laguna yang tertutup dan membentuk daerah payau dan terpisah dengan laut di sekitar Pulau Kakaban menjadikan pulau ini sangat unik. Juga memiliki proses evolusi tersendiri bagi biota laut di dalamnya . Air di dalamnya masih terpengaruh oleh pasang surut air laut, namun tidak seasin air laut karena tercampur dengan air hujan. Sementara biota laut yang dulu terperangkap dalam laguna Pulau Kakaban harus menyesuaikan diri dengan ekosistem yang tertutup, air yang bersifat payau, jumlah hara yang miskin, keragaman biota yang rendah, jaringan makanan yang sederhana, dan kondisi air yang tergenang seperti danau. Dan danau tersebut mempunyai luas 3,9 juta meter persegi yang mempunyai panjang 2,6 km dengan lebar 1,5 km sedangkan dalamnya mencapai 4-11 meter, dan ini merupakan bagian yang terbesar dari Pulau Kakaban yang mempunyai panjang 6 km, lebar 2,5 km. Disamping danau tersebut juga terdapat 6 danau kecil, empat diantaranya telah diberi nama yaitu Danau Kehedaing, Danau Manimpa, Danau Batu Raja dan Danau Tanjung Gemuk.  Semua itu dalam bidang ilmiah di kategorikan sebagai anchialine, yaitu suatu danau yang tidak mempunyai hubungan permukaan air dengan laut di sekitarnya, berisi air tawar atau payau, namun masih dipengaruhi pasang surut air laut.
Di sekitar tepi Danau Kakaban ditumbuhi oleh hutan mangrove yang lebat. Genera pohon pembentuk hutan mangrove ini antara lain adalah  Rhizophora (bakau), Bruguiera (tanjang), Avicennia (api-api), dan  Sonneratia  (pidata).
Pulau dan Danau Kakaban memang tercipta sebagai anugrahNYA untuk Bangsa dan Negara ini, dimana kawasan tersebut memiliki kekayaan sumber daya alam hayati yang belum banyak terungkap. Keunikan serta kekhasan pulau atol tersebut kiranya merupakan warisan ekosistem yang masih ada dan dalam keadaan baik. Kini telah banyak mengundang para ahli sebagai tempat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahun, serta sebagai salah satu tempat yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengetahui apa yang terkandung di dalamnya. Keaslian Kakaban kiranya perlu dipertahankan, juga dikelola serta dimanfaatkan untuk kepentingan dunia secara bijaksana tanpa harus mempengaruhi ekosistem yang telah ada.


    3.   Potensi alam Kakaban

Alam Kakaban masih banyak memiliki kemurnian dan jarang dikunjungi orang karena lokasi jauh terpencil dan belum ada sarana transportasi yang memadai seperti layaknya tempat wisata alam lainnya. Dan oleh karena sejarah pembentukannya, Kakaban dengan karakteristiknya yang unik banyak dipengaruhi oleh kehidupan terumbu karang, dimana dalam danau banyak dihuni oleh biota laut yang telah melalui proses berevolusi dan beradaptasi dengan keadaan alam sekitarnya selama jutaan tahun. Sehingga banyak dijumpai keunikan, kekhasan dan keindahan tersendiri, yang sukar bahkan tidak dijumpai di daerah lain.
Biota endemik  Kakaban jumlah spesiesnya memang sedikit, namun jumlah individunya sangat banyak.  Ini menyebabkan mereka semua terjalin ke dalam sejarah hidup yang satu sama lainnya, sehingga mereka menjadi contoh khas ekosistem yang dapat tercukupi sendiri. Dan ekosistem Kakaban menjadi contoh prinsip ekologi paling dasar, yang menunjukan piramid unik produsen primer consumer dan predator yang memperjuangkan hidupnya dalam dunia yang seluruhnya dibatasi oleh dinding-dinding karang atol.
Kakaban memiliki bentuk kehidupan tingkat tinggi, dimana spons, ubur-ubur dan anemon telah berevolusi menjadi spesies unik akibat dari kejadian geotektonik, hal tersebut digolongkan dalam ekosistem modern. Biota Kakaban mewakili bentuk kehidupan purba yang ekstrim yang mengalahkan evolusi ikan, reptile dan mamalia, maka Kakaban sudah seharusnya menjadi sumber daya yang sangat berharga di dunia, dan diprioritaskan sebagai situs warisan dunia untuk kepentingan ilmiah.
Keunikan biota yang dimiliki Kakaban antara lain empat jenis ubur-ubur endemik, yaitu Cassiopeia ornata, Mastigian papua, Aurelia aurita, dan Tripedalia cystopora . Sedangkan biota lain yang belum banyak terungkap adalah Anemon laut (Actinaria)  yang berwarna putih karena tidak bersimbiose dengan alga hijau yang ada di sekitarnya. Keunikan yang dimiliki anemone adalah sebagai pemangsa ubur-ubur. Danau Kakaban juga memiliki alga laut dan epifit dari beberapa genera. Dan genus yang dominan adalah Halimeda (Halimeda opuntia dan Halimeda tura). Karena jumlahnya yang melimpah di Danau kakaban, maka laguna tersebut sering dikenal dengan istilah “Laguna Halimeda”. Ciri unik lainnya adalah di danau tersebut tidak terdapat vertebrata herbivore, sedangkan invertebrate yang hidup di sana seperti moluska, gastropoda, spons, bivalvia, bintang laut, teripang, udang dan kepiting . Dua jenis teripang yang teridentifikasi adalah Holothuria cavans dan Synaptulaspinifera . Teripang jenis kedua ini lebih sukar ditemui karena lebih sering membenamkan diri pada pada sediment di dasar danau. Jenis kepiting yang baru ditemukan adalah Orcovita saltatrix danjenis tunikata yang baru (Styela complexa) .
Jenis ikan yang ditemukan di Danau Kakaban antara lain Serinding (Apogon lateralis), Puntang atau Gelodok (Exyrias puntang), Teri karang (Antherinomorus endrachtensis), dan ikan Julung-julung (Zenarchopterus dispar) yang hidup di permukaan air, Ular laut (Acrochondus granulatus). Sebagian besar biota Danau Kakaban ini merupakan jenis yang baru ditemukan atau dideskripsikan endemik atau jenis yang jarang ditemukan di tempat lain. Karena sifatnya yang endemik atau langka, maka lokasi ini memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin melihat biota laut dengan aneka warna indah yang hidup dalam danau.   
Selain itu Kakaban memiliki hutan tropis yang lebat dan hutan mangrove yang luas dengan berbagai kehidupan flora dan fauna yang sampai saat ini potensi tersebut belum banyak dipelajari keberadaannya oleh para ahli. Dan sumber daya alam hayati yang masih melimpah tersebut apabila dikelola secara benar dan bijaksana tentunya akan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Keindahan biota laut tersebut kiranya telah banyak mengundang para petualang bawah laut untuk menikmatinya. Dan di Pulau Kakaban memiliki empat lokasi penyelaman dengan gua bawah laut yang menarik untuk penelitian ilmiah dan sering dikunjungi wisatawan manca Negara.  Maka Kakaban memiliki potensi besar sebagai daerah pariwisata yang eksklusif (khusus) terutama pariwisata bahari. Hal tersebut banyak membantu masyarakat sekitar untuk meningkatkan pendapatan, tercatat pada tahun 2001 wisatawan dan peneliti yang datang sebanyak 50.000 orang, sehingga pendapatan per kapita meningkat dua kali lipat disbanding dengan penduduk Filipina.  Sedangkan danau-danau kecil di sekitar kakaban dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya sebagai tempat berternak maupun pembesaran ikan sebagai mata pencaharian tambahan dalam meningkatkan kesejahteraan.
Hutan mangrove yang luas sebagai tempat berlindung, mencari makan sekaligus berkembang biak bagi ikan maupun yang lain. Potensi tersebut belum terolah secara optimal, dan masih perlu penanganan serius dari berbagai pihak terkait, agar dapat membantu dalam upaya pemberdayaan masyarakat tanpa mengubah ekosistem yang ada, serta tetap mempertahankan kelestariannya guna kepentingan di masa berikutnya. Sedangkan hutan tropis yang ada memiliki pohon-pohon cukup besar, tinggi dan tumbuh  rapat  di atas karang atoll.  Belum ada penelitian mengenai vegetasi hutan Kakaban yang khas dengan karakteristik vegetasinya berbeda dengan komunitas serupa di daratan.
Karang-karang terjal di pantai sempit yang berpasir putih merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang menyenangi keindahan alam pesisir pantai Pulau Kakaban.  Keterpaduan dari berbagai jenis alam Pulau Kakaban merupakan asset besar yang belum banyak tersentuh, merupakan sebuah tantangan dalam pengelolaannya. Sebagai sumber daya alam dengan berbagai keanekaragaman jenis, tentunya akan sangat bermanfaat sebagai kawasan konservasi yang perlu untuk dikelola secara benar, bijaksana serta mengutamakan kelestariannya untuk perkembangan maupun keseimbangan selanjutnya.
Di sisi lain Pulau Kakaban dapat dikembangkan maupun dimanfaatkan sebagai salah satu lokasi wisata alam bagi wisatawan domestik dan manca Negara. Dan tentunya pembangunan tersebut tidak lepas dari upaya pemberdayaan masyarakat di sekitarnya dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.  Kebersamaan oleh pihak terkait dalam mempertahankan, melestarikan serta memanfaatkan Kakaban secara optimal untuk kepentingan nasional maupun internasional sangat diperlukan. Agar sumber daya alam hayati serta ekosistem yang ada tetap utuh dan berkesinambungan.

     4. Upaya-upaya

Kawasan konservasi seperti Kakaban merupakan sebuah peninggalan akan alam yang memiliki karakteristik serta berbagai jenis sumber daya alam hayati yang dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan berbagai kepentingan di sekitarnya. Dan pengelolaan tersebut tentunya dilakukan secara arif dan bijaksana oleh para pihak terkait, agar kawasan tersebut tetap lestari dan berkesinambungan hingga waktu-waktu yang akan datang. Sebagai warisan yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Kawasan Kakaban memang belum banyak tersentuh, sehingga masih banyak potensi yang belum teridentifikasi, baik pada daerah perairan maupun daratan. Dan atol yang berbentuk angka sembilan tersebut telah banyak dikenal oleh ilmuwan maupun wisatawan manca negara seperti Eropah, Jepang dan Amirika Serikat.  Dikenal sebagai tempat pelepasan penyu terbesar di Asia Tenggara dan danau yang dimiliki dikenal sebagai danau ubur-ubur yang unik.
Sebagai anugrahNYA tentu berusaha untuk dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak dalam memenuhi kepentingannya. Dan selama ini telah dilakukan upaya-upaya dalam pemanfaatannya, baik oleh pemerintah, masyarakat maupun pihak-pihak terkait lainnya. Bahkan pada tahun 2002 telah diselenggarakan Lokakarya Antar Kampung oleh LSM yang bergerak dalam pelestarian lingkungan. Dalam pertemuan tersebut telah disepakati bersama antar masyarakat maupun para pemilik tanah di sekitarnya, antara lain bahwa Pulau Kakaban sebagai kawasan konservasi yang dikelola menurut zonasi, dan tidak akan menjual lahan yang ada di Pulau Kakaban kepada pihak lain. Pemerintah daerah maupun DPRD Berau memberikan dukungan tentang Kakaban sebagai daerah perlindungan yang perlu untuk dilestarikan.
Banyaknya wisatawan yang datang ke daerah tersebut, maka telah dibangun sarana dan prasarana yang memadai, bahkan bertaraf internasional, seperti dibangunnya resort-resort dan home stay di sekitar Kepulauan Derawan. Hal tersebut dapat membantu masyarakat di sekitarnya dalam meningkatkan pendapatan dari wisata bahari.  Dan masyarakat di sekitarnya telah dibekali pelatihan bidang konservasi secara kelompok, sedangkan upaya-upaya lain yang telah ditempuh antara lain adalah pengembangan rumpon ikan, serta budidaya ramah lingkungan yang berupa pembesaran jenis biota. Memberikan pengarahan secara bertahap kepada masyarakat tentang perburuan dan pemanenan telur penyu di sekitar Kakaban.
Pengembangan pusat-pusat informasi di berbagai tingkat pemerintahan daerah sebagai wadah publikasi bagi kawasan konservasi di Pulau Kakaban.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
    5. Dukungan Institusi
                  
          Pemerintah Kabupaten Berau mendukung pihak-pihak terkait tentang Kakaban sebagai kawasan konservasi yang tetap membuka peluang pemanfaatannya yang berkelanjutan. Dimana pemanfaatan dititik beratkan kearah wisata bahari, namun harus dibarengi dengan penerapan dan pengawasan ketat dengan tidak mengabaikan hak-hak masyarakat. Dan mengharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk pengelolaan secara bijak dan berkelanjutan.
Sedangkan DPRD telah mengadakan pertemuan dengan Departemen Perikanan dan Kelautan serta sebuah LSM di Jakarta, bahwa konservasi untuk Kakaban yang telah menjadi kebabggaan bagi Berau tersebut merupakan model baru inisiatif konservasi Indonesia, serta perlu dibentuk suatu wadah untuk pengelolaan tersebut agar dapat terealisasi lebih jauh. Dan pemerintah mendukung bahwa pengelolaan konservasi pesisir dan laut tidak dapat dipisahkan  dengan upaya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Bahkan para mitra telah merancang bersama pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan konservasi Pulau Kakaban sebagai alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya masa kini dan masa depan. Kawasan ini berperan penting dalam pengelolaan  Sulu Sulawesi Marine Ecoregion serta berpotensi dan layak diprioritaskan sebagai Situs Warisan Dunia untuk kawasan laut.
Dukungan demi dukungan berdatangan dari berbagai pihak terkait, baik nasional maupun internasional dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi Kakaban.  Agar situs warisan dunia yang kaya dan unik tersebut dapat lebih berguna bagi semua kehidupan yang ada di dalam maupun di sekitarnya.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR


          Menurut sejarah, pulau kakaban sudah lama ditemukan oleh suku Bajau. Namun demikian suku Bajau atau pendatang yang lain tidak berminat untuk berdiam di pulau tersebut, karena di pulau tersebut tidak terdapat sumber air tawar.  Lagi pula sekeliling pulau tersebut merupakan karang yang terjal sehingga membahayakan keselamatan kapal yang akan merapat ke sana.
Pada tahun 1910 Pemerintah Belanda bekerjasama dengan penguasa setempat (Datu Raja, Kerajaan Sambailung) untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya dalam penanaman pohon kelapa, yang hasilnya untuk diekspor ke Filipina dan Malaysia. Dan pada tahun 1942 – 1947 usaha perkebunan kelapa sempat terhenti karena adanya perang, kemudian dilanjutkan oleh pihak kerajaan yang pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat dengan system bagi hasil hingga tahun 1955.
Pengelolaan lahan selanjutnya oleh masyarakat dan keturunan Datu Raja mulai simpang siur dan banyak terdapat versi yang berbeda, sehingga terjadi sengketa antar mereka, bahkan status kepemilikan tanah hingga saat ini belum terselesaikan dengan tuntas.  Dan sekitar 9500 pohon kelapa yang ada kini dikelola oleh sekitar 14 orang, usaha tersebut masih berjalan sebagai salah satu sumber pendapatan disamping usaha-usaha lainnya.
Pemanfaatan lain yang dilakukan masyarakat dalam meningkatkan pendapatan antara lain usaha budi daya ikan kerapu dan atau, pembuatan perahu, pemanfaatan sarang walet di sekitar gua karang Kakaban dan lain-lain.  Sedangkan danau-danau di sekitar Danau Kakaban dimanfaatkan sebagai tempat pembesaran ikan belanak, kima atau penyu sisik. Selain itu masyarakat juga dapat menikmati hasil dari jasa pariwisata yang ada di sekitarnya, baik sebagai pemandu para turis maupun hasil penjualan souvenir dan lainnya.
Kerjasama antara pemerintah daerah, masyarakat dan pihak terkait lainnya memang cukup baik, bahkan diantara masyarakat sendiri telah membuat kesepakatan secara bersama untuk melindungi dan mempertahankan Pulau Kakaban sebagai kawasan konservasi, sehingga kegiatan-kegiatan yang sekiranya akan mengganggu kelestarian lingkungan dapat diminimalkan dan dipantau secara bersama.  Sedangkan masyarakat sendiri masih mempunyai berbagai pilihan dalam memanfaatkan alam Kakaban sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan tanpa harus mengganggu keberadaan alam itu sendiri.
Upaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi seperti Kakaban memang perlu dilakukan secara hati-hati dan bijaksana. Dimana masyarakat dapat diikutsertakan sebagai pengelola, sehingga dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan yang telah memberikan penghidupan sampai saat ini dan masa yang akan datang. Dan pemerintah daerah maupun pihak terkait lainnya dapat mendorong dan membina masyarakat tersebut dalam pemanfaatan alam secara optimal dengan tetap memperhatikan aspek ekologis, sosial dan ekonomi.  
Mungkin selama ini masyarakat di sekitar Kakaban cukup memiliki kesadaran akan arti dan pentingnya lingkungan bagi kehidupan. Dan itu sebagai salah satu modal kuat untuk mengajak masyarakat dalam kegiatan selanjutnya untuk mengelola dan mengembangkan kawasan konservasi Kakaban sebagai salah satu kawasan dengan ekosistem yang unik di dunia, agar lebih terlihat potensi-potensi yang selama ini masih tersimpan sebagai kekayaannya yang dapat dan berguna bagi masyarakat lingkungannya secara serasi, seimbang dan berkesinambungan bersama generasi selanjutnya.
Keberhasilan dalam pemberdayaan masyarakat tentunya merupakan kebanggan tersendiri bagi pemerintah daerah dan atau pengelola kawasan konservasi tersebut. Merupakan asset sekaligus pendapatan bagi pemerintah daerah bersama masyarakatnya, yang dapat dipergunakan sebagai modal pengembangan daerah di masa mendatang.    

PERMASALAHAN


Adapun permasalahan yang dapat penulis sampaikan dalam tulisan ini yang berkaitan dengan upaya pengelolaan kawasan konservasi di Pulau Kakaban, antara lain sebagai berikut :
         
  -.  Dalam meningkatkan pengelolaan dan upaya-upaya guna melindungi   dan memanfaatkan kawasan konservasi di Pulau Kakaban perlu adanya bantuan modal dari pihak lain.
  -.  Pengumpulan data sebagai bahan informasi tentang Pulau Kakaban dengan segala potensinya belum dikelola secara maksimal, sehingga sampai saat ini bentuk publikasi tentan Pulau Kakaban belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, dan potensi alam yang unik di daerah terpencil tersebut kiranya belum banyak terungkap.
   -.   Pembangunan sarana maupun prasarana di kawasan konservasi bila tidak terawasi dan terkontrol oleh pemerintah daerah serta pihak terkait, maka akan  justru dapat merusak lingkungan, seperti yang telah terjadi dalam pembuatan jalur setapak baru-baru ini, yang melakukan penebangan dan pemanfaatan kayu sekitar hutan di Kakaban tanpa memperhatikan alam di sekitarnya.
   -.  Pembesaran penyu yang selama ini dilakukan oleh masyarakat sekitar dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada, sebab penyu sisik tersebut merupakan hewan omnivore yang dapat memakan moluska dan ubur-ubur yang ada di danau tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN


a.     Kesimpulan

Pulau Kakaban merupakan sebuah atol yang terbentuk selama 1-2 juta tahun,  yaitu daratan yang dulunya tenggelam dan terangkat dari lempeng samudra dari kedalaman sekitar 200-300 meter dengan memiliki ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut. Berbentuk seperti angka Sembilan terletak di Kepulauan Derawan, Laut Sulawesi di Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur.
Atol Kakaban merupakan atol yang utuh dan memiliki laguna yang tertutup dan terpisah dari laut sekitarnya. Dan keunikan ini hal sangat langka jumlahnya di dunia, maka Kakaban salah satu keajaiban sebagai situs warisan dunia yang karakteristik,  memiliki sumber daya alam hayati yang melimpah  yang belum banyak terungkap.
Danau Kakaban dikenal sebagai danau ubur-ubur dan memiliki empat jenis ubur-ubur yang langka dan tidak terdapat di daerah lain. Dan oleh dunia dikenal sebagai salah satu terbesar tempat pelepasan penyu hijau di Asia Tenggara.  Juga merupakan ekosistem terumbu karang yang banyak dihuni oleh berbagai jenis biota laut yang banyak menarik para penyelam dari manca Negara karena keindahan tersendiri serta keunikan-keunikan yang belum banyak terungkap yang merupakan tantangan para petualang bawah laut.
Selain biota laut, Pulau kakaban juga memiliki hutan tropis yang lebat dengan berbagai jenis flora dan fauna. Juga memiliki hutan mangrove yang luas yang merupakan aset besar untuk menunjang kehidupan di masa mendatang bila dikelola dengan benar dan bijaksana, secara optimal dan tetap memperhatikan aspek ekologis, sosial dan ekonomi dalam membantu pemberdayaan masyarakat di sekitarnya.
Pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan selama ini antara lain kegiatan perkebunan kelapa yang merupakan warisan jaman Belanda dan Kerajaan Sambaliung, pemanfaatan sarang wallet, budidaya ikan dan kima di danau seputar Danau Kakaban. Sedangkan jasa wisata alam yang dapat membantu pendapatan masyarakat seperti jasa pemandu bagi para wisatawan manca Negara yang banyak berkunjung ke Pulau Kakaban, terutama di empat titik penyelaman maupun di sekitar resort yang telah dibangun bertaraf internasional.
Masyarakat di sekitar Pulau Kakaban telah membuat kesepakatan bersama, bahwa Kakaban merupakan kawasan konservasi yang perlu untuk dijaga dan dilestarikan, dan Kakaban merupakan aset besar yang tidak akan dijual kepada pihak manapun. Di dukung oleh pemerintah daerah, DPRD, instansi, LSM serta pihak terkait lainnya yang akan tetap memanfaatkan kawasan tersebut dengan pengelolaan yang bijaksana untuk kelestarian selanjutnya. Dan tetap akan selalu mendukung kegiatan tradisional masyarakat yang ada di sekitarnya dalam meningkatkan kesejahteraan.
Sebagai kawasan konservasi Pulau Kakaban yang merupakan atol dengan segala keunikannya memerlukan penanganan yang hati-hati, agar apa yang menjadi kebanggaan dunia tidak terganggu dengan pelaksanaan, pengelolaan, maupun kegiatan pengembangan kawasan tersebut. Sehingga kekayaan yang selama ini terkandung di Pulau kakaban dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang terumbu karang beserta segala kehidupan yang terkandung di dalamnya. Dan dapat dimanfaatkan sebagai alam yang dapat memberi kehidupan serta pendapatan bagi masyarakat di sekitarnya dalam meningkatkan kesejahteraan secara seimbang dan berkelanjutan.   

b.     Saran-saran

Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan dalam tulisan kali ini antara lain sebagai berikut :
-         Kesepakatan bersama oleh masyarakat di sekitarnya tentang Kakaban sebagai kawasan konservasi yang perlu dilindungi dan dilestarikan, perlu mendapat perhatian, dorongan maupun bantuan dari pemerintah daerah dan pihak terkait, agar dalam pemanfaatannya dapat terkontrol kegiatannya.
-         Sarana dan prasarana sebagai tempat wisata masih perlu ditambah dengan tidak mengganggu ekosistem sekitar Pulau Kakaban, agar wisatawan maupun ilmuwan yang akan berkunjung ke Pulau Kakaban tidak mengalami kesulitan serta merasa aman dan nyaman. Sebab wisatawan khusus dari manca Negara merupakan penghasil devisa tersendiri bagi pemerintah daerah maupun masyarakat di sekitarnya.
-         Informasi tentang Pulau Kakaban dengan segala keunikan serta kekayaan sumber daya alam hayatinya masih perlu dikelola secara maksimal, agar mudah diketahui oleh masyarakat luas, bahwa di Kalimantan Timur terdapat kawasan konservasi yang belum banyak terjamah dan teridentifikasi kekayaan terumbu karangnya yang hidup dalam pulau atol langka seperti Kakaban.
-         Secara serius perlunya peningkatan pengamanan dalam rangka menjaga dan melestarikan kawasan konservasi dari berbagai pihak terkait guna melindungi asset warisan dunia yang karakteristik dan banyak memiliki keunikan maupun potensi biota laut yang hidup dalam Danau Kakaban.
-         Pembangunan yang akan dilaksanakan di sekitar Kakaban perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, dan harus berwawasan lingkungan agar tidak mengganggu ekosistem yang telah ada yang perlu dijaga keutuhannya


DAFTAR PUSTAKA :

-.       Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan, Jakarta,  Tahun 1991
-        Prosiding Lokakarya Kampung Mengenai Rencana Penetapan Status Pulau Kakaban,  BESTARI-KALBU, Jakarta 2002
-        Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistemnya,  Departemen Kehutanan, Jakarta, Tahun 2004
-        Merintis Konservasi Pulau Kakaban,   KEHATI,  Jakarta-2006
-        Informasi Kakaban Dengan Segala Potensi Alamnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Departemen Kehutanan, Kalimantan Timur,  Balik Papan 2006

                
         
   

    
    



     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar