Senin, 18 Januari 2010

KAWASAN KARST













PESONA
KAWASAN KARST

PENDAHULUAN
Telah dikenal dunia bahwa Indonesia memiliki banyak potensi alam yang indah dan menakjugbkan. Alam Indonesia dengan kekhasannya telah banyak menarik para wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjungi dan menikmati keindahan alam tersebut. Salah satu obyek yang menarik tersebut antara lain adalah kawasan karst yang banyak tersebar di berbagai wilayah.
Kawasan karst memang memiliki karakteristik tersendiri. Bentukan dan bentang alam yang khas dengan keunikan yang ada di dalamnya selalu menarik bagi para ilmuwan, pun para pemerhati dan penikmat alam (Usman, 2005). Karst pada awalnya merupakan nama kawasan batu gamping di daerah Yugoslavia. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi sebutan umum bagi suatu kawasan yang menunjukkan fenomena alam yang terjadi karena perpecahan batu gamping/kapur, dolomite, gypsum atau garam oleh air hujan, es yang mencair, aliran sungai ataupun aliran bawah tanah yang menghasilkan formasi atau bentuk celah, lubang, goa dan saluran-saluran air (Fajar, 2004). Kawasan ini dapat pula dikatakan sebagai bagian muka bumi yang dialasi oleh bentukan yang mengalami proses karstifikasi atau pelarutan batu gamping oleh air.
Ekosistem karst merupakan ekosistem yang unik. Keunikannya tidak hanya terlihat pada keindahan bentang lahannya saja, namun juga dicirikan oleh adanya fenomena kehidupan bawah tanah dan lorong-lorong celah bebatuan (gua) dengan segala komponen dan ornamennya (endokarst). Juga merupakan kawasan yang unik secara geomorfologi karena bentuk lahan permukaannya yang cantik dan spesifik yang tidak ditemukan pada unit geomorfologi yang lain. Selain itu karst merupakan salah satu sumber daya alam non hayati yang tidak dapat diperbaharui karena pembentukannya memerlukan waktu yang lama (jutaan tahun). Merupakan kawasan lindung cagar alam, dimana salah satu kekuatan potensinya merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan dan terdapat banyak sekali fenomena alam yang unik dan langka serta mempunyai nilai penting bagi kehidupan dan ekosistem.
Dengan segala keindahan dan kekhasan ekosistem karst, kiranya perlu untuk diinformasikan kepada publik agar karst Indonesia yang terdapat di berbagai wilayah dapat dipertahankan keberadaannya. Bebarapa kawasan karst di Indonesia telah mendapat perhatian khusus dari badan dunia internasional (UNESCO), bahwa kawasan tersebut sebagai kawasan warisan dunia (a world heritage site), dimana karst tersebut memiliki keunikan yang tidak terdapat pada kawasan karst di tempat lain. Agar dalam pengelolaan selanjutnya kawasan karst dapat dilaksanakan sesuai peruntukannya. Pengelolaan yang dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan, dapat dimanfaatkan sebagai penelitian dan ilmu pengetahuan tentang bumi, speologi, biologi, arkeologi dan paleontologi. Sebagai tempat keindahan, rekreasi, juga untuk usaha lain yang berkaitan dengan aspek ekonomi guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat si sekitarnya.
Diharapkan pengelolaan kawasan karst Indonesia dapat melibatkan berbagai pihak terkait, yang secara bersama dan terkoordinasi dapat melakukan upaya-upaya perlindungan sebagai warisan dunia untuk kepentingan di masa mendatang.

KAWASAN KARST INDONESIA
Karst Indonesia telah dikenal dengan keunikan dan keindahan yang tidak terdapat di tempat lain, kawasan tersebut banyak terbentang dari Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh) hingga Taman Nasional Lorentz (Papua). Sementara tiga kawasan yang telah diusulkan sebagai warisan dunia adalah kawasan karst yang berada di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang pada tahun 1993 dalam Kongres Internasional Kawasan Karst ke 11 di Beijing, oleh 34 negara peserta diusulkan sebagai warisan dunia. Dan pada tahun 2001 di Sarawak dalam Pertemuan Karst Internasional, oleh IUCN, UNESCO dan World Bank yang didukung oleh para ahli dari negara-negara peserta, bahwa kawasan karst Maros Pangkep dijadikan sebagai salah satu warisan dunia.. Sedangkan kawasn karst Pegunungan Sewu yang terdapat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1994 oleh International Union of Speleology juga telah diusulkan sebagai warisan dunia. Dan pada tahun 1997 International Union For Conservation of Nature mengukuhkan kawasan karst di Padalarang-Jawa Barat menjadi isu internasional.
Kawasan karst lain yang telah banyak dikenal oleh para ilmuwan maupun wisatawan antara lain kawasan karst Naga Umbang Lhok Nga (Aceh) yang terbentang pada ketinggian 50 hingga 1000 meter dpl dengan ketinggian bukit karst yang bervariasi dengan bentuk menara serta bentuk kerucut dengan kemiringan 18 derajat yang berpotensi tinggi untuk revitalisasi air. Kawasan karst Bahorok (Sumut), Payakumbuh (Sumbar), Tenggarong (Kaltim), Kalimantan Barat. Sukabumi Selatan (Jabar), Gua Pawon, Citatah merupakan kawasan tertua yang dikenal sebagai situs hunian manusia purba pertama ditemukan di Jawa Barat, Green Canyon (Jabar), Gombong Selatan (Jateng), Pacitan, Trenggalek, Tuban, Blambangan dan Malang Selatan (Jatim), NTB, NTT, Sumba, Timor Barat, Wowaselea (Sultra) Pulau Muna, Kepulauan Tukang Besi, Maluku (Seram-Halmahera), Fatah, Biak dan Lorentz di Papua.
Kawasan- kawasan karst tersebut memiliki potensi tak ternilai yang harus dipertahankan kelestariannya, juga dapat dikelola, dikembangkan, serta dimanfaatkan secara bijaksana untuk berbagai kepentingan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat. Pengelolaan tersebut tentunya dapat meningkatkan ekonomi daerah, sumber devisa negara, dan memberikan peluang kerja maupun usaha bagi masyarakat di sekitarnya guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
POTENSI KAWASAN KARST
Karst bukan saja sekedar bentang alam dengan segala keindahan dan keunikannya. Kawasan karst di Indonesia bukan hanya sebagai warisan dunia, tetapi kawasan tersebut memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kawasan karst lain di dunia, seperti kawasan Maros-Pangkep hingga dikenal dengan karst menara (The Spectacular Tower Karst) yang dicirikan dengan berkembangnya Menara Karst (Magote), yaitu bentukan positif dengan dinding-dinding terjal yang relatif tinggi. Dan bentang alam ini berkembang pada ketinggian 300-550 dpl. Merupakan bentangan karst tropik yang ditandai dengan fenomena khas berupa adanya bukit karst berbentuk kerucut (Conica) , adanya goa-goa yang dilengkapi dengan stalaktit dan stalakmitnya serta adanya sungai di bawah tanah seperti yang terdapat pada karst di Gunung Kidul, Yogyakarta dan kawasan karst lainnya (BKSDA, 2007).
Dari ribuan gua yang terdapat dalam kawasan karst di Indoenaia beberapa diantaranya merupakan gua prasejarah yang konon pernah dijadikan tempat hunian manusia pada zaman pra sejarah. Yang ditandai dengan ditemukannya kerangka manusia, peralatan masak, guci, benda tajam dan di dinding goa terlihat lukisan telapak tangan yang diduga dibuat beratus bahkan beribu-ribu tahun yang lalu. Sementara bentangan karst, disamping adanya menara, kerucut dan gua, juga terdapat kubah dan lembah-lembah (dofine, palije), memiliki kandungan kapur yang berkualitas baik. Keindahan relief dengan aneka tekstur pada dinding gua, stalagtit yang menjulur dari atap terkadang menyentuh lantai, ataupun stalagmit yang tumbuh menjulang tinggi membentuk bagai patung berukir. Semua merupakan sebuah feomena alam yang tak dapat diperbaharui, merupakan potensi kawasan karst yang dapat memberikan segala keunikan dan kekhasan yang dapat dipergunakan sebagai modal berbagai kepentingan di masa akan datang. Potensi lain yang dapat dikembangkan dalam kawasan kasrt seperti wisata tirta, pengamatan satwa, petualangan, wisata minat khusus dan lain sebagainya.
Memperhatikan potensi kekayaan alam dan perkembangan wilayah yang terjadi, dapat dikemukakan adanya nilai sebagai daerah wisata kawasan karst, antara lain sebagai berikut :

a. WISATA BUDAYA
Gua-gua peninggalan prasejarah memiliki nilai historis tersendiri, dimana terdapat lukisan serta benda-benda lain hasil aktivitas manusia yang berupa guci peralatan dapur, senjata tajam dari bahan batu dan lain sebagainya. Nilai sejarah tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan peneltian guna perkembangan ilmu pengetahuan tentang sejarah bagi pelajar maupun mahasiswa kini dan nanti. Bahwa di lokasi tersebut pernah hidup manusia yang belum banyak mengenal pembuatan rumah sebagai tempat tinggalnya, dan gua-gua tersebutlah yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat tinggal serta beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Seperti misal pada gua Seropan, Ponjong-Gunung Sewu, gua Pawon di Padalarang, gua di sekitar Leang-leang, Maros dan tempat lain yang telah dinyatakan sebagai situs sejarah manusia purba di Indonesia.
Konon cerita gua-gua dalam kawasan karst tersebut bukan hanya dimanfaatkan oleh manusia prasejarah. Namun pada masa pejajahan Belanda dan Jepang, lokasi tersebut dipergunakan sebagai tempat persembunyian sekaligus benteng bagi para raja bersama pengawal, prajurit, dan para pengikutnya. Juga dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia, lokasi tersebut sebagai tempat persembunyian sekaligus menyusun strategi perang gerilya melawan para penjajah dalam mempertahankan kedaulayan negara.
Letak gua-gua tersebut di lereng atau dinding-dinding karst di sekitar perkampungan dan pematang sawah yang pada umumnya memiliki lahan yang subur, sehingga terlihat semakin indah kawasan di sekitarnya tersebut. Perpaduan menara karst dengan alam sekitar, kiranya membentuk bentang alam yang memiliki keindahan dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, diselingi hawa segar nan sejuk membuat terasa nyaman bagi para pengunjung.

b. WISATA ILMIAH
Keunikan kawasan karst banyak menarik para ilmuwan untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna menggali pengetahuan tentang ilmu kebumian, speologi, biologi, arkeologi dan paleontologi.
Karst yang terbentuk sejak ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun, seperti misal gumpalan gamping yang terdapat di Gampingan-Yogyakarta, yang merupakan sisa fosil zaman Eusin 50 juta tahun yang lalu, banyak mengandung nilai-nilai sejarah yang bermanfaat sebagai sumber ilmu pengetahuan. Goa, stalaktit, stalakmit serta keunikan lain yang terbentuk oleh alam masih menyimpan banyak informasi yang perlu untuk digali dan diteliti secara maksimal sebagai warisan budaya masa lalu untuk kepentingan masa mendatang.
Wisata jenis ini masih banyak dilakukan oleh para wisatawan mancanegara maupun para peneliti negeri ini dengan melakukan penelusuran gua-gua tersebut. Biasanya mereka tinggal di desa-desa atau kota-kota terdekat dengan lokasi gua tersebut selama kurang lebih satu bulan, seperti di gua-gua di Pacitan dan Tuban (Jatim), gua di Gombong dan gua Ayah (Jateng), gua di Wonosari dan Baron (Yogyakarta), gua di Tenggarong (Kaltim), gua di Maros Pangkep (Sulsel), gua di Padang dan Bukit Tinggi (Sumbar) dan gua-gua di Wamena, Biak, Sorong, Oksibil (Papua).
Wisata yang dilakukan oleh para penelusur gua tersebut kiranya membawa keberuntungan tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Penginapan dan rumah-rumah penduduk sekitar dijadikan sebagai markas tempat berkumpul, beristirahat, berdiskusi hingga bermalam, atau penduduk setempat dimanfaatkan sebagai guide yang tentunya memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat tersebut. Sedangkan hasil penelusuran gua dapat dijadikan sumber ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan selanjutnya untuk generasi mendatang.

C. WISATA MINAT KHUSUS
Dalam wisata jenis ini hanya digemari oleh orang-orang yang memiliki jiwa sebagai petualang (adventure), seperti para pencinta alam, pendaki gunung atau pemanjat tebing yang umumnya memang telah dibekali keterampilan khusus. Wisata ini juga dikenal dengan wisata olah raga ekstrim yang memerlukan keberanian dan nyali tersendiri bagi para pelakunya. Mereka pada umumnya berupa kelompok atau regu yang telah terbentuk sebagai tim dengan berbagai keahlian.
Bukan hanya pada gua-gua berlorong sebagai tempat penelusurannya, tetapi gua-gua sumur (potholing) sebagai tempat petualangannya. Karena gua sumur memiliki nilai artistik dan keindahan ornamennya sangat menakjubkan, serta memiliki nilai yang lebih dibanding dengan gua biasa atau gua fosil. Gua sumur membentuk suatu kubah (doom) memiliki ornamen yang lebih besar serta kokoh.
Sementara dinding menara karst yang eksotik dijadikan sebagai arena olah raga atau wisata khusus panjat tebing yang kebanyakan para remaja yang gemar akan tantangan alam. Wisata ini memiliki keasyikan tersendiri, bahkan banyak mengundang pengunjung untuk melihat kelompok tersebut ketika melakukan pemanjatan pada tebing di antara bebatuan kapur di beberapa kawasan karst. Di lokasi tertentu banyak dimanfaatkan oleh TNI sebagai tempat latihan kemiliteran saat menggembleng para taruna maupun calon prajuritnya.
Wisata dengan minat khusus ini dilakukan oleh orang-orang yang menyenangi akan gejala alam yang khas dan memiliki karakteristik, unik serta keindahan dari bentukan kapur dalam proses karstifikasi. Bentukan tersebut dapat berupa stalagtit, stalagmit dan ornamen-ornamen lain yang dapat membentuk sebuah kesatuan bagaikan karya seni yang memang menakjubkan. Tekstur-tekstur halus, kasar, relung garis-garis vertikal, horisontal, melengkeng hingga melingkar dengan aneka warna alami memberikan nuansa bagai gedung yang dipenuhi dengan relief-relief indah, ukiran berbagai bentuk patung serta diterangi lampu-lampu kristal bak berlian tertembus cahaya yang memantulkan aneka warna membuat suasana semakin indah. Hal tersebut memang sulit untuk diceritakan, dilukiskan atau untuk dibayangkan, apalagi keindahan dari Sang Maha Kuasa itu jauh ada di dalam sana diantara kegelapan abadi dalam ketegaran karst nan menawan.

d. WISATA ALAM
Daya tarik kawasan karst bukan hanya pada bentukan stalgtit, stalagmit atau ornamen yang terdapat di dalam gua-guanya. Masih banyak potensi yang dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi dan melihat langsung kawasan karst tersebut. Kekayaan air di sekitar karst memiliki gejala alam yang mampuh menyuguhkan keindahan tersendiri. Wisata air, kiranya banyak dimgemari para pengunjung baik karena kejernihan, kesegaran maupun keindahan air terjunnya memberikan pesona yang memikat untuk dinikmati.
Salah satu daerah wisata tirta yang terbanyak dikunjungi oleh para wistawan antara lain adalah Air Terjun Bantimurung yang berlokasi di kawasan karst Maros Pangkep, Sulawesi Selatan. Dimana dalam setiap harinya tidak kurang dari 200 wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung ke lokasi ini. Bahkan di hari libur dapat menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Air Terjun Bantimurung yang dikenal sejak kedatangan Wallace, bukan sekedar menyediakan kejernihan dan kesejukkan airnya, namun dipercaya dapat memberikan terapi kesehatan bagi pengunjung yang mandi di bawah derasnya air terjun tersebut. Selain itu di sekitar air terjun banyak terdapat pepohonan yang membuat rindang dan sejuk di sekitarnya, serta lokasi tersebut relatif aman bagi anak-anak hingga orang dewasa.

Di sisi lain Air Terjun Bantimurung dan sekitarnya merupakan habitat ratusan jenis kupu-kupu yang hidup bebas di alam dan dapat dinikmati oleh pengunjung yang gemar akan keindahan aneka warna kupu-kupu tersebut. Kupu-kupu sering berterbangan bergerombolan membentuk bagai gumpalan awan aneka warna khas alami yang menarik dan menakjubkan yang tidak dijumpai di daerah lain. Keanehan lokasi tersebut dijuluki sebagai Kingdom Of Butterflies . Selain Kupu-kupu, pengunjung juga dapat melihat langsung kehidupan satwa liar lainnya, seperti Kera Hitam (Macaca). Oleh seorang pawang kera-kera tersebut dapat dipanggil dan berkumpul bersama pengunjung taman wisata.
Lokasi wisata tersebut kini banyak dilengkapi sarana dan prasarana yang lebih memadai seperti sarana untuk out bond, flying fox, olah raga, jalan trail, musolla, guest house, panggung hiburan, pos keamanan, arena parkir, warung makan, kios souvenir dan lain sebagainya. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat di sekitarnya guna menambah penghasilan dan pendapatan ekonomi baik sebagai jasa guide, pedagang souvenir, makanan, keamanan maupun bentuk kegiatan lain yang dapat memberikan peluang kerja dan usaha bagi mereka yang hidup di sekitar Taman Wisata Alam (TWA) Bantimurung.
Pemberdayaan masyarakat di sekitar TWA kiranya telah menumbuhkan partisipasi yang aktif, dengan tetap menjaga kelestarian serta kebersihan lingkungan di sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, khususnya di sekitar TWA Bantimurung. Oleh karena itu kawasan tersebut selalu terlihat rapih dan bersih yang dapat membuat kesan menyenangkan bagi para pengunjung.
Bentang alam yang berupa menara-menara karst didukung oleh alam sekitarnya yang hijau dan subur. Hamparan sawah nan luas membentuk pegunungan karst di sekitarnya menjadi sebuah pemandangan yang indah. Memperlihatkan keutuhan dan kemurnian kawasan tersebut, yang tak terusik oleh kegiatan penambangan kapur oleh masyarakat secara ilegal karena pada umumnya masyarakat di sekitarnya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak ikan karena memang lahannya yang subur serta air yang cukup melimpah di kawasan karst tersebut, yang merupakan sumber mata air sungai-sungai kecil dan besar di Sulawesi Selatan.
Wisata alam di kawasan karst masih banyak yang perlu dikelola secara terkoordinasi dari para pihak terkait. Karena potensi-potensi tersebut masih belum dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, maka masih banyak peluang usaha bagi masyarakat di sekitar kawasan karst melalui berbagai kegiatan wisata. Agar kawasan tersebut dapat memberikan pendapatan daerah, devisa negara serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Juga masyarakat dapat merasa memilki sekaligus mempertahankan dan melestarikan kawasan tersebut secara berkelanjutan.

STRATEGI KONSERVASI KAWASAN KARST
Dibalik daya pesona dan kekayaan alam dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, kawasan karst memiliki keanekaragaman fungsi yang disandangnya. Selain itu karst juga menyimpan potensi konflik yang besar jika pemanfaatannya dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan konservasi, maka kerusakkan sumberdaya alam lah konsekuensinya.
Keunikan dan kekhasan karst tropika yang dimiliki Indonesia memang telah banyak mengundang perhatian berbagai kepentingan dan kalangan, bahkan badan atau organisasi dunia. Dimana pada saat ini dalam kawsan tersebut masih terjadi eksploitasi batuan kapur berskala besar, perambahan, penebangan dan penambangan liar serta bentuk kegiatan lain yang dapat mengancam kelestarian ekosistem sekitar karst. Dengan adanya fakta-fakta tersebut, kiranya telah menggugah para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk berupaya melindungi kawasan tersebut sebagai warisan dunia.
Berbagai potensi karst kiranya merupakan modal yang besar bagi bangsa dan negara dalam pengelolaan selanjutnya. Secara bertahap potensi-potensi tersebut dapat dipertahankan, dikelola dan dimanfaatkan melalui pengelolaan yang terpadu dan terkoordinir dari para pihak terkait guna mendukung perekonomian untuk pendapatan daerah, devisa negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Kawasan karst beserta gua-guanya adalah sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui dan sangat peka terhadap erosi serta gangguan ekologi (Basuni,1993). Banyaknya ancaman yang dihadapinya merupakan tantangan bagi upaya konservasi kawasan. Dan konservasi tidaklah diartikan sebagai pelanggaran atau penutupan kawasan terhadap akses masyarakat. Namun merupakan perlindungan pengawetan dan pemanfaatan demi kelstarian fugsinya, baik ekonomi, ekologi maupun hidrologinya.
Mengingat proses pembentukan yang memerlukan waktu yang sangat panjang dan pekanya kawasan karst terhadap perubahan lingkungan, maka upaya perlindungan yang menjaga dan mempertahankan fungsi kawasan sebagai satu kesatuan, mutlak diperlukan. Upaya secara sederhana dapat dilakukan dengan meminimalisasi aktivitas yang dapat merusak ornamen dan landscape karst. Lebih jauh lagi bentuk pengelolaan dan konservasi kawasan karst ditetapkan berdasarkan karakteristik kawasan yang diklarifikasikan dalam beberapa jenis atau tipe konservasi, antara lain sebagai berikut :

a. Kawasan Karst yang dapat dieksploitasi
Karst memiliki kandungan kapur dan bebatuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia, seperti bahan bangunan, dips atau marmer dan lain sebagainya. Potensi ini dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian daerah, devisa negara hingga pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Pengelolaan kawasan tersebut dapat dikendalikan secara baik dan berkelanjutan apabila dilaksanakan secara bijaksana, terkoordinasi dan memperhatikan tata ruang dan kelestarian ekosistem yang ada. Sehingga pemanfaatan potensi tersebut dapat dikendalikan dan tetap memperhatikan kaidah konservasi agar kesemuanya dapat berjalan secara berkesinambungan.

b. Kawasan Karst yang Memiliki Nilai Geologi
Sebagai peninggalan masa lalu yang memiliki karakteristik dan berbagai keunikan, tentunya bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Maka warisan budaya yang berbentuk karst tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan dan atau tempat penelitian bagi para ahli selanjutnya, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan generasi mendatang. Oleh karenanya kawasan tersebut perlu untuk dipertahankan kelestariannya.

c. Kawasan Karst yang Memiliki Potensi Wisata
Keindahan dan kekhasan kawasan karst sebagai bentang alam memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Keindahan tersebut tentunya sebagai modal dalam pengembangan taman wisata alam di Indonesia. Terlebih lagi daerah tersebut merupakan warisan dunia yang tidak dijumpai di tempat lain. Maka pengelolaan wisata dapat dilaksanakan guna mendukung perekonomian masyarakat di sekitarnya. Sehingga ketergantungan masyarakat akan sumber daya alam dalam kawasan karst dapat ditekan dan disalurkan melalui berbagai jasa dan kegiatan wisata alam guna meningkatkan pendapatan.
Pengelolaan wisata alam pada kawasan karst tetap dalam koridor kelestarian, secara bijaksana, sehingga apa yang telah menjadi daya tarik serta keunikan, keindahan dan kekhasan bentang alam tersebut dapat dipertahankan hingga kemudian hari.

d. Kawasan Karst dengan Ekosistem Asli dan Langka
Pengelolaan kawasan karst dengan berbagai potensi yang dimiliki memang merupakan hal yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Perlu dilakukan upaya tersendiri agar dalam pelaksanaannya nanti tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat berakibat fatal, seperti yang telah terjadi selama ini dalam pengelolaan sumberdya alam secara berlebihan.
Kekhasan sumber daya alam pada kawasan karst, baik yang berupa satwa maupun tumbuhan asli (endemik) atau langka perlu untuk dipertahankan kelestariannya. Sehingga habitat sebagai tempat hidupan flora dan fauna tersebut tidak terusik, dan spesies asli tidak mengalami kelangkaan bahkan kepunahan. Spesies endemik tetap menjadi daya tarik tersendiri dengan segala keunikannya, yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai warisan kepada generasi mendatang secara berkelanjutan.

Sebagai warisan dunia perlu adanya suatu modal kemitraan pengelolaan baik berupa badan/komite/panitia yang beranggotakan unsur-unsur yang mewakili kelembagaan pemerintah pusat, propinsi, kabupaten, pengelola kawasan, kelompok masyarakat, LSM, dan berbagai stakeholder terkait dan berkepentingan yang akan menjadi forum koordinasi, pengarah, fasilitasi, untuk membantu kepentingan pengelola kawasan. Pengelolaan kawasan pelestarian yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Di sini diperlukan kelembagaan yang baik karena melibatkan berbagai kepentingan serta para pihak. Maka kesadaran akan arti dan pentingnya kelestarian perlu diterapkan bersama, sehingga koordinasi antar pihak terkait dapat dilaksanakan secara baik.

PENUTUP
Kekayaan alam Indonesia yang berupa bentang alam karst dikenal sebagai warisan dunia yang memiliki karakteristik, keunikan, kekhasan dan keindahan, memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk melihat dan mengunjunginya. Bentukan bebatuan dan kapur tersebut memiliki banyak celah dikenal dengan gua dengan berbagai ornamen indah. Di sekitarnya hidup berbgai jenis satwa liar yang tidak terdapat di tempat lain, serta spesies tumbuhan yang merupakan endemik kawasan tersebut.
Kawasan karst tersebut perlu dipertahankan keberadaannya, dilstarikan, dikelola secara bijaksana dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang dapat mendukung pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan secara berkelanjutan. Maka informasi dan publikasi melalui berbagai media perlu dilakukan secara maksimal dan disebarluaskankan kepada publik, disamping dilakukan penelitian secara profesional guna menggali potensi yang belum teridentifikasi untuk kepentingan di masa yang akan datang. (daniel)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar