Tampilkan postingan dengan label sanggar gedek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanggar gedek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juli 2010

LUAPAN HATI

SEMESTER PERTAMA SANGGAR GEDEK
      Pada bulan februari 2010 Sanggar Gedek yang berlokasi di Depok Jaya, Pancoran Mas membuka lounchingnya, yang kala itu diiringi lebatnya hujan alam sekitar. Aku hadir diantara para wakil-wakil dinas terkait, sesepuh budayawan Depok, rekan-rekan seniman maupun tamu undangan lainnya. Ketika mentari mulai condong ke barat acara lounching dimulai walau mundur beberapa saat oleh kurang akrabnya alam saat itu.  Kesibukan panitia tertebus sudah, lounching pun berjalan seperti yang diinginkan bersama.  Di atas lahan seluas 3000 meter persegi kini berdiri sebuah sanggar di sekitar kolam-kolam ikan dan suburnya pepohonan bambu di sekelilingnya. Nyaman dan strategis tempat itu, dan cocok sebagai wadah untuk berkreatifitas berbagai kegiatan seni maupun kegiatan positif lainnya, yang berguna bagi masyarakat sekitar sanggar.  
      Sejak itu  aku hadir di antara rekan-rekan seniman lainnya. Sebagai anggota sekaligus pendatang baru di sanggar Gedek maupun di wilayah Depok tentunya unggah ungguh aku lakukan sebagaimana layaknya orang jawa yang bertamu di kediaman orang lain , berusaha  menyesuaikan diri, mencari dan mengetahui segala apa yang ada maupun terjadi dalam wadah tersebut. Tak ubahnya aku bagai orang buta yang sedang memasuki sebuah ruangan atau tempat baru, yang masih asing bagiku. Layaknya orang buta hanya mengandalkan indera pendengar, peraba dan naluri dalam mencari sebuah bentuk kehidupan baru alam sekitar.
     Ruang begitu besar, tentunya gelap bagiku dan terang bagi mereka yang sudah lama berpijak, berkehidupan hingga bergaul sesama mereka. Berjalan perlahan tanpa tongkat petunjuk arah. Hanya dengan kedua belah tangan kujulurkan, dan kedua kakiku melangkah, tapi hati ini cuma kuat mendorong kemana aku kan melangkahkan kaki-kaki yang mulai renta oleh usia. Kehendak sebagai seorang seniman memberiku keyakinan akan eksistensiku di tempat yang baru ini. Aku tetap harus berjuang dengan segala kekuatan, keyakinan dan konsep yang ada dan sudah ada dalam kehidupan sebelumnya, dalam pengalaman-pengalaman selama hidupku berkecimpung dalam kehidupan sanggar di berbagai tempat maupun di berbagai bidang kesenian. Pengalaman sejak tahun 1975 dengan berbagai kehidupan seniman maupun budayawan kroco, menengah  hingga yang kini telah memiliki nama dan kehidupan yang lebih baik. Dengan pengalaman tersebut membuatku merasa tegar dimanapun aku berada, memberiku sebuah bentuk naluri yang jelas dalam berkonsep untuk berkesenian.
       Ketika aku melakukan observasi dalam pengenalan lingkungan, tanganku membentur sebuah benda. Aku raba benda itu  oooohhhhh berbentuk bulat seperti layaknya sebuah bola,  cukup besar bola itu dan terbuat dari bahan plastik, namun karena aku hanya orang buta akupun tak tahu apa warna bola tersebut.  Pikirku, mungkin berwarna merah, mungkin hijau, biru, putih bahkan mungkin bola itu berwarna loreng atau belang-belang dengan aneka warna. Sejenak aku terdiam dan tetap meraba-raba bola itu (anggap aja sedang meraba tubuh wanita cantik yang mulus ), tak lama kutemukan sebuah luka goresan pada salah satu bagian bola itu.
        Diantara sibuknya teman-teman aku berguman dan berusaha mencari tahu  kenapa bola itu tergores dan sobek ?      Bola itu sobek kemarin dipakai anak-anak main bola   mas ! kayanya kena duri deh  teriak teman yang ada di ujung sana,    bohong  mas ! bukan kena duri tapi kena paku dipagar seminggu yang lalu..... teriak teman yang lain. akupun masih meraba luka goresan pada bola itu, keesokan harinya, seorang teman membisikkan di telinga kiriku perlahan ... mas  bola itu sobek ada yang sengaja dengan cutter, oohh gitu ya jawabku, kemudian di telinga kananku berbisik lebih lirih lagi ...... mas ! itukan sobek gara-gara dipakai buat rebutan !  oh ya jawabku, orang itupun pergi entah kemana. Aneka jawaban yang aku terima tentang sobeknya bola itu saling berbeda dan selalu berbeda pada waktu yang berlainan, akupun tetap meraba-raba sobekan pada bola itu,  wow mana yang benar, dan mana yang harus kupercaya dengan jawaban teman-teman tersebut.?  . Kalau aku dapat melihat seperti kalian semua, tentunya akan mudah aku mengatasi sobekan itu,  aku tambal saja pakai solasi, atau pakai lakband atau apa saja yang penting tertutup kembali......... beres kan !.
       Aku tak tahu kemana aku harus mencari bahan-bahan untuk menutup luka goresan tersebut, bila aku tak buta mudah bagiku pergi ke warung atau toko terdekat membeli solasi atau lakban guna menutupnya. Tapi aku tak melihat apalagi mengenal daerah tersebut dengan baik, dimana aku bisa membeli bahan tersebut, dan dimana aku bisa menemukan toko terdekat.  Aku mencoba bertanya,  ada tuh  di ujung jalan sana yang jual solasi, belum aku berjalan kudengar teman lain berkata, sebelah sana mas lebih dekat dan lebih lengkap tokonya,   udaaahhh  tar aja nunggu orang yang mau disuruh  sahut yang lain,  sementara ada juga yang bilang  daahhh  biarin aja sobek !  Ya Tuhan berilah aku kekuatan dan kesabaran serta keiklasan dalam menghadapi semua ini.  Aku berupaya mencari sesuatu untuk menutup goresan pada bola itu . 
      Dua bulan  aku berdiam diri, mendengar apa yang dapat aku dengar melalui indera telinga ini. Kuraba dan melangkah ke sana kemari untuk mengenal lebih dalam  ruangan mapun benda-benda yang ada di sekitar dan di dalam ruangan itu.  April 2010 kuawali dengan sebuah ide yang memang belum ada dalam ruang itu.  Kegiatan anak-anak memberiku langkah yang menyenangkan karena memang itu bagian hidupku yang telah aku lakukan sejak lama sebelum aku berada dalam ruang yang gelap itu. Semua kulakukan bukan hanya sekedar  bentuk seni itu sendiri, di lain sisi aku mengharap dapat menutupi luka sekaligus bola dapat dimanfaatkan dan dapat dipakai untuk bermain kembali. Perjuangan memang sedang berjalan dan dilaksanakan , namun kulihat belum adanya koordinasi yang sebenarnya terjadi dengan baik dalam sebuah organisasi apalagi dalam wadah yang disebut sanggar.
       Bulan Mei kan berakhir bersama persiapan-persiapan sebuah acara untuk kota Depok, nada-nada sumbang terdengar diantara kedua anak telinga yang masih melekat di kiri kanan kepala ini, sementara penghayat sekaligus pelantum nada tak merasakan  atau tidak mendengar bahwa nada yang dimainkan terdengar sumbang, mungkin adanya angin kencang menyelinap di antara pepohonan bambu sekitar sanggar, sehingga nada lenyap terbawa bayu yang berlalu dan entah kemana arahnya. Maka aku manfaatkan bambu-bambu itu agar bayu  bertiup terasa sejuk dan nyaman serta memberikan angin segar di ruangan yang mulai pengap itu.  Aku buta juga tak mengerti apa yang selalu terjadi dan apa yang sebenarnya sedang terjadi  dan kenapa musti terjadi dalam kebangkitan yang sedang berjalan ini.
     Bola itu hanya tergores sedikit, masih bisa di ditutup dengan dengan solasi maupun lakban, sehingga dapat dipakai bermain kembali oleh anak-anak di lapangan sana. Tak perlu lagi mempermasalahakan kenapa dan apa sebabnya bola itu sobek, dan oleh siapa. Biarkan mereka bermain dengan aktivitasnya, kita hanya bisa sebagai wasit dan hakim garis atau pelatih yang baik bagi mereka. Kasihan apabila mereka tidak dapat bermain bola lagi, dan hanya dapat menonton di tv hingga adzan subuh hanya untuk sebuah team idolanya berharap menang dalam dunia persepakbolaan. Sementara kita hanya turut mengantuk menjagokan team idola menang untuk sebuah taruhan yang kurang mendidik anak-anak. Padahal sanggar sangat amat membutuhkan orang-orang seperti kita yang kompeten dan telah diberi tanggung jawab dalam pengelolaan wadah tersebut.
      Luka itu masih mudah untuk di atasi bila kita mau dan mampunyai niat untuk menutupinya dan secara bersama dalam sebuah kesepakatan meneruskan perjuangan yang baru dimulai ini. Tidak ada kata terlambat bila memang ada niat kesungguhan dan keiklasan hati, duduk bersama secara manusia dewasa mencari jalan keluar terbaik untuk tetap tegarnya organisasi. Lupakan segala kesalahan dan kelemahan orang lain, tapi mengingat akan kelebihan yang dimiliki, dan memberikan peluang sebagai satu kesatuan team. Karena mencibir kelemahan seseorang memang lebih mudah daripada mengakui kelebihan orang tersebut, dan gengsi dalam sebuah kekalahan memang sulit untuk diucapkan. Untuk itu dibutuhkan kerendahan hati secara bersama dan merasa saling memiliki dan membutuhkan akan kelebihan orang lain dalam organisasi tersebut
      Jangan hanya kekerasan hati dan gengsi yang akan merubuhkan sebuah bangunan yang baru saja selesai dibangun dengan jerih payah team itu sendiri. Berjabat tangan secara gentle, merangkul dalam persaudaraan dan melupakan semua kesalahan atau kekurangan dalam team ini, kemudian bercermin bersama agar dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Kemudian secara iklas berjalan bersama mempertahankan apa yang sudah dimiliki sebagai modal dalam menjalankan program-program selanjutnya. Sehingga apa yang terdengar sebagai orang buta dalam ruangan ini tidak lagi melantumkan nada sumbang, tetapi menyanyikan nada-nada lirih yang merdu dan dinamis yang dapat memberiku semangat menuntun langkah kaki dalam kegelapan hingga tak terpantuk atau terjatuh dalam ruang nan gelap itu.
       Lihatlah di depan sana kreatifitas anak-anak Depok masih dibutuhkan untuk mengisi hari-hari esok, jangan tengok dibelakang kalau hanya akan menghambat perjalanan kita ini. Yang lalu sebagai pelajaran kita semua sebagai team agar dalam membuka lembaran baru ini tidak terpaku dengan apa yang disebut konsep mandeg. Memang diperlukan pemikiran yang terbuka, koordinasi yang baik sesama personil dalam setiap langkah-langkah yang dijalankan. Sebuah keyakinan dalam suatu niat baik dan keiklasan akan memberikan jalan terbaik dalam upaya pengelolaan sebuah wadah kreatifitas yang disebut sanggar.

            Marilah bersama-sama kita evaluasi diri dan mencatat apa yang telah kita lakukan selama ini. Kemudian kita lihat konsep yang telah disepakati dalam kebangkitan wadah kreatifitas ini. Kita bisa merinci kebenaran, kekurangan dan kesalahan selama ini sebagai bahan pertimbangan selanjutnya dalam menentukan arah bagaimana dan kemana akan kita bawa bahtera kehidupan ini. Sementara samudera luas dihadapan sana masih menyimpan gelombang bahkan badai yang dapat meluluh lantahkan benda di sekitarnya.
Kini, aku masih buta di tempat yang baru pertama aku pijakkan kaki dan bernaung dalam sebuah organisasi yang disebut sanggar, hanya sebuah konsep dan keyakinan yang memberiku semangat tuk tetap bertahan dan berkreatifitas, walau aku pun belum bisa melihat hasil yang sebenarnya. Waktu masih panjang bahkan lebih panjang dari apa yang telah kita lalui bersama, yang hanya dalam ruangan gelap dan pengap. Padahal mentari masih setia memberi seberkas sinarnya untuk menembus diantara terali-terali jendela dan pintu yang lama tak pernah dibuka. Sinar itu akan memberi kita kesegaran diantara semilir bayu yang menyelinap di sekitar pintu dan terali jendela. Agar ruang tak lagi gelap, dan pengap, agar kita bisa menghirup udara segar, dan merasakan hangatnya sinar mentari. AnugrahNYA jangan kita sia-siakan begitu saja, yang hanya membuat sesak dada kita sendiri. Manfaatkan semua itu sebagai rasa syukur dengan segala karuniaNYA.
Sebagai manusia dewasa yang telah dibekali pikiran, perasaan dan kemauan tentunya dapat menyalurkan semua itu dalam sebuah kebajikan, setidaknya kepada lingkungan dimana kita bernaung dan berkreasi. Membuktikan diri apa yang selama ini telah diberikan kepercayaan dan tanggung jawab dalam mengelola wadah dan organisasi di antara budaya yang ada dan telah hidup di sekitarnya. Langkah demi langkah, gerak gerik kita tak luput dari sorotan mereka, yang tajam dan tak mengenal lelah dalam berucap, terlebih bila nada-nada sumbang masih terdengar santer oleh indera pendengar mereka. Memang ironis, tak ubahnya bayi saat belajar merangkak dan terpeleset oleh ceceran susu dalam botol yang menggelinding tertendang si bayi. Maka sesuatu yang nikmat dan dibutuhkan dalam perkembangan itu dapat juga mencelakakan diri sendiri.
Bayu masih setia bertiup, air kolam pun beriak perlahan membuat segarnya suasana alam sekitar sanggar. Keheningan masih menyelimuti tatkala langkah-langkah gontai menuruni anak tangga yang semakin usang oleh waktu. Tiang-tiang pancang masih mampu bertahan menahan beban, menjaga dan melindungi dengan setia hanya untuk orang-orang seperti kita yang sedang dalam proses mencipta, berekpresi dan berkreatifitas. Untuk itu mari kita topang tiang-tiang pelindung kita itu agar semakin kuat oleh hempasan alam, dan kita akan merasa lebih nyaman dan aman dalam berkegiatan di dalamnya. Mengisi segala lini kosong dalam ruangan itu, memberi nuansa-nuansa segar dengan aneka warna keceriahan, yang dapat membangkitkan jiwa kita maupun anak-anak dalam mengembangkan bakat-bakat seni yang masih tersimpan di dalam diri mereka masing-masing.
Kita sadari usia ini yang semakin condong senja, tak pantas lagi bergelut dengan emosi, tapi bertempurlah dalam wadah prestasi, dan tak patut lagi berebut sesuap nasi, tapi berjuanglah dalam kesadaran dan keiklasan hati untuk memberi sepiring nasi demi mereka yang membutuhkan. Terlebih kita hidup dalam sebuah kelompok, tentunya akan semakin mudah melakukannya. Karena kelompok memiliki kekuatan tersendiri bila dapat berjalan bersama dalam satu tujuan, apalagi bila tujuan itu mulia, jalan pasti kan terbuka lebar, terang dan penuh ketenangan dalam kedamaian.
Sebagai orang buta tentunya hanya memiliki bayangan dan angan-angan, masih membutuhkan banyak bimbingan dan uluran tangan dalam melangkahkan kaki, terlebih di tempat baru yang masih asing bagiku. Aku Cuma ingin orang-orang di sekitarku memberikan arah yang sama dan tidak membingungkan hayalan ini dengan aneka hal-hal yang belum jelas bahkan tidak pasti kemana arah dan tujuan tersebut. Agar langkahku tak tersandung dan terpeleset walau oleh sebuah kerikil yang kecil, tapi dapat mengakibatkan fatal ketika aku terjatuh. Peganglah tanganku bersama-sama dan tunjukkan aku jalan yang terbaik. Marilah kita bersatu untuk menutupi goresan yang ada pada salah satu sisi bola tersebut. Kemudian kita bawa bola ke dalam lapangan yang ada, ajak anak-anak bermain kembali agar terpuaskan kegembiraan mereka, dan terolah raganya agar sehat wal afiat. Jangan biarkan lagi mereka hanya menonton idolanya bermain melalui kaca lebar dengan aneka perjudian yang tersembunyi di belakangnya. Tapi agar mereka juga dapat menirukan kelebihan idolanya, bahkan memiliki kelebihan lain dalam menendang, menggocek maupun berstrategi dalam bermain sepak bola walau saat ini hanya dengan sebuah bola dari bahan plastik yang tertambal solasi. Kita harus yakin suatu saat kita dapat memberikan sebuah bola yang baru dari kulit, agar lebih awet dan mereka lebih bersemangat, lebih pandai bermain bola karena hanya dengan bola plastik pun sudah bisa bermain. Tinggal menyesuaikan naluri, gerakan dan kaki dalam mengolah bola dengan bahan kulit tersebut. Insya Allah .... setidaknya dapat terbentuk sebuh team yang dapat dipertandingkan walau awalnya hanya dalam memperingati kemerdekaan RI di lingkup sekitarnya.
Ujian semester sedang berjalan, banyak yang harus dilakukan agar dapat lulus walau hanya dengan nilai rata-rata cukup, dan dapat melanjutkan semester berikutnya tanpa adanya nilai kredit yang harus ditempuh dengan her. Membaca, belajar dan bertanya apa yang belum kita kuasai materi-materi yang tersisa dalam ujian semester tersebut. Gelar yang pantas masih jauh untuk diraih dan dibanggakan karena ini baru awal sebuah langkah semester pertama. Strategi perlu disusun dengan baik terlebih sebuah organisasi sanggar sebagai wadah kreatifitas berbagai seni. Jangan terlelap tidur dan bermimpi indah di siang hari, tapi bangkitlah bersama cerahnya mentari pagi di ufuk timur sana, dan segarnya semilir bayu ketika halimun masih membasahi rerumputan hijau. (toto, 14 Juli 2010)
      
          

Minggu, 20 Juni 2010

LOMBA DAN PENTAS SENI SANGGAR GEDEK

LOMBA BACA PUISI, MEWARNAI DAN MELUKIS KOTA DEPOK DALAM RANGKA HARI LINGKUNGAN HIDUP 2010

           Sanggar GEDEK semenjak lounchingnya pada bulan pebruari 2010, menunjukkan eksistensinya sebagai wadah kreatifitasnya kepada kalayak ramai. Memberikan peluang bagi anak-anak khususnya, yang berkecimpung dan berbakat dalam bidang puisi dan melukis.  Selama dua hari pada tanggal 19 dan 20 Juni 2010 menyelenggarakan kegiatan lomba di sanggar yang memiliki luas 3000 meter persegi tersebut, tepatnya di Depok Jaya, Pancoran Mas.
            Diantara lomba disuguhkan kepada pengunjung aneka pentas, dari musik hingga goyang dangdut, yang menambah meriahnya suasana sekitar hingga malam hari. Tapi tidak meninggalkan apa yang telah menjadi konsepnya sebagai wadah kegiatan kreatifitas aneka bentuk seni dalam kehidupannya sebagai sanggar yang tak lepas dari lingkungan dimana ia lahir dan dibesarkan.
            Bertepatan dengan hari lingkungan hidup, mencoba memberikan apresiasi kepada anak-anak tentang pentingnya alam bagi lingkungan. Melalui lomba lukis anak-anak yang bertemakan lingkungan tersebut memberikan pandangan kepada mereka sejak dini, bahwa negeri tercinta Indonesia ini memiliki kekayaan alam yang tak terhingga, dan bermanfaat bagi kehidupan kini, esok dan nanti.
          Siang menjelang sore musik bergema sekitar kolam dan pepohonan bambu yang mengitari lokasi sanggar GEDEK, sebagai tempat diselenggarakannya lomba baca puisi, mewarnai dan melukis. Sabtu 19 Juni 2010 waktu diresmikannya acara lomba, yang diawali dengan lomba baca puisi tingkat umum, yang diikuti oleh anak-anak hingga dewasa. Sekitar 12 peserta lomba beraksi dan berakting di atas panggung berukuran 18 m2 tersebut, masing-masing membawakan dua buah puisi sebagai pilihannya yang tentunya telah disediakan oleh panitia dari hasil karya para budayawan terkemuka negeri ini, termasuk daintaranya karya Rendra, Ismail Marjuki, Afrizal Nur dan lain-lain.
           Peserta lomba baca puisi ternyata memang mereka yang memiliki dan telah terbiasa membaca sebuah puisi, keberanian anak-anak memang perlu untuk diacungkan jempol dalam membawakan puisi-puisi tersebut dengan aneka ekpresi dan kekuatan yang dimilikinya. Sebagai juri dalam lomba tersebut dihadirkan para budayawan Depok yang memang memiliki keahlian dalam hal puisi. Usai lomba para juri memberikan pandangan-pandangan sebagai apresiasi kepada bagi para peserta dan hadirin, tentang apa dan bagaimana membaca sebuah puisi secara benar dan baik, sehingga dapat dipergunakan sebagai modal dan bekal pada lomba-lomba selanjutnya 
          Sore itu udara sedikit mendung namun acara semakin bertambah meriah dengan adanya pentas seni. Tampilnya seorang ayah dengan kedua putrinya yang masih anak-anak membuat hadirin terbawa dalam haru dentingan gitar ketika mengiringi suara-suara merdu nan lantang fasih dalam bait-bait lagu balada kehidupan. Lagu-lagu balada ciptaan Agus sebagai ayah kedua gadis kecil tersebut, memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut, aplus hadirin dengan tepuk tangan meriah saat lagu terakhir usai dilantumkan oleh keluarga itu. Dilanjutkan aksi musik gesek dari Joko, Bambu gesek sebagai hasil ciptaannya dimainkan dengan baik. Joko yang dikenal dengan panggilan Joker tersebut melantumkan irama-irama ekpresi jiwa yang telah menyatu dengan gesekan-gesekan nada dari alat musik dari bahan bambu tersebut. Joko membuat panggung bertambah meriah melalui gesekan-gesekan bak biola ataupun musik kecapi namun memiliki nada tersendiri, yang tentunya merupakan modal besar dikemudian hari sebagai kreatifitasnya selaku anak sanggar dengan hasil ciptaannya berbentuk alat musik dari bahan bambu. 
           Di sekitar arena lomba juga dipamerkan hasil karya anak-anak sanggar GEDEK, berupa kerajinan bambu dengan aneka bentuk menarik dan artistik yang baru ditekuni sejak awal bulan Juni 2010 ini.  Kerajinan bambu merupakan salah satu kegiatan di sanggar GEDEK guna memberikan wadah bagi mereka yang gemar berkecimpung dalam mengolah dan berekpresi dalam kreatifitas seni melalui bahan baku bambu. Juga dipamerkan karya-karya lukis anak-anak dari sanggar lukis GERTAK Bogor, sebagai bahan apresiasi bagi anak-anak peserta lomba lukis maupun masyarakat yang hadir dalam acara tersebut. Sebagai bahan acuhan selanjutnya dalam mengembangkan kegiatan melukis anak-anak di sanggar GEDEK, agar anak-anak lebih mengenal dan mengerti tentang seni lukis.
           Sore semakin redup, acara kian meriah dengan hadirnya organ tunggal dengan para penyanyi dangdutnya. Irama berubah mengiringi para pencinta suara dan pegoyang dangdut, panitia bersama tamu undangan hingga hadirin turut bergembira berjoget bersama tuk hilangkan lelah dan penat selama mempersiapkan acara tersebut. Dan kegembiraan itu berlangsung hingga malam hari. Keringat membasahi tubuh-tubuh mereka dan hanyut dalam kegembiraan antara persaudaraan dalam membangkitkan kreatifitas dan mengisi sanggar sebagai wadah kegiatan selanjutnya.
           Pagi-pagi panitia sibuk kembali seusai malam gembira, hari minggu itu akan berlangsung lomba mewarnai dan melukis bagi anak-anak tingkat TK dan SD se Kota Depok dan sekitarnya.  Sejak pukul sembilan anak-anak dan orang tua selaku pengantar dan pendamping peserta lomba hadir satu persatu dan memenuhi lokasi sanggar, untuk mendaftar ulang dan mendapatkan nomor peserta.  Tepat pukul 10.30 wib, lomba dimulai setelah mendapat penjelasan dari dewan juri tentang kriteria dan tema dalam lomba tersebut.  Lomba diikuti oleh sekitar 60 peserta dari TK hingga kelas enam SD. Lomba dibagi tiga kategori  Kelompok A untuk tingkat TK mewarnai gambar burung, yang merupakan salah satu satwa yang dilindungi oleh undang-undang, dan merupakan satwa asli Indonesia yang kini mulai jarang ditemui di lingkungan sekitar. Agar anak-anak mengenal bahwa satwa tersebut juga merupakan  bagian dari lingkungan hidup kita. Kelompok B untuk tingkat SD kelas 1 a/d 3, diberikan materi dengan gambar tentang lingkungan yang belum selesai, mereka berlomba dalam meneruskan gambar sesuai dengan kreatifitasnya, sehingga gambar menjadi sempurna dan memiliki nilai dalam arti lingkungan. Sedangkan kelompok C untuk tingkat SD kelas 4 s/d 6  mereka diberikan tema tentang lingkungan alam, baik alam pegunungan, alam pedesaan, alam hutan hingga alam laut yang memang merupakan kekayaan alam Indonesia yang memang dikenal oleh dunia.  Disini anak-anak dituntut untuk menangkap dan menggali ide maupun pengetahuannya tentang alam sekitar, yang kemudian disajikan dalam sebuah bentuk lukisan dengan aneka kelucuan, keluguan hingga keahlian anak dalam berekpresi diri secara bebas tanpa campur tangan pihak lain.
          Lomba mewarnai dan melukis anak-anak mendapat sambutan dan animo yang cukup menggembirakan sebagai awal kegiatan yang positif bagi anak-anak yang diselenggarakan oleh sanggar GEDEK sejak lounchingnya, guna menggali dan mengukur anak-anak wilayah Depok dalam kegiatan tersebut. Sehingga dapat memberikan apresiasi dan pengetahuan yang lebih baik di kemudian hari kepada anak-anak dalam kegiatan mewarnai dan melukis (menggambar). Peserta tidak hanya dari wilayah Depok saja akan tetapi juga dari wilayah Bogor.
             Sementara disisi lain pihak Dinas Pariwisata Kota Depok maupun pemda dan tokoh masyarakat di sekitarnya, mengharapkan kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang baik dan perlu untuk diteruskan dan dikembangkan lebih baik lagi dikemudian hari, mereka menyatakan dukungannya terhadap keberadaan sanggar GEDEK di Depok. Namun perlu juga sebagai perhatian dari panitia penyelenggara lomba tersebut, khususnya sambutan dari Ketua RW, " diharapkan  kegiatan semacam ini lebih dahulu melibatkan anak-anak di lingkungan sendiri, karena banyak potensi yang perlu mendapat perhatian maupun wadah bagi anak-anak berbakat dalam aneka kegiatan seni yang ada di wilayah Depok Jaya ini ". Anak-anak di lingkungan lokasi sanggar GEDEK perlu untuk dilibatkan dalam setiap kegiatan yang ada, agar mereka dapat berbuat lebih baik lagi di dalam sebuah wadah yang pantas sebagai tempat berekspresi, beraktivitas dan berkreatifitas seni dengan berbagai bimbingan dan petunjuk positif dari sanggar tersebut selaku wadah yang telah mendapat kepercayaan oleh masyarakat sebagai wadah penyaluran bakat aneka kegiatan bidang  budaya melalui berbagai kegiatan seni. Sehingga kegiatan tersebut tidak berhenti dan dapat diteruskan oleh mereka dikemudian hari, dan sanggar GEDEK tetap eksis dan diakui oleh masyarakat hingga nanti. 
           Lomba baca puisi dan menggambar yang diselenggarakan oleh Sanggar Gedek memang baru pertama kali sejak lounchingnya pada bulan Februari yang lalu. Dan sebagai awal pijakan kiranya cukup berhasil  dan sukses walau belum seperti yang diharapkan. Langkah masih panjang ke depan, dan jalan masih banyak yang harus di tempuh dengan berbagai rintangan yang ada dan yang akan ada. Rintangan tersebut dapat muncul setiap saat dalam kelahiran dan perjalanannya. Baik rintangan yang datangnya dari luar maupun yang hadir dari dalam sendiri. Untuk itu Sanggar Gedek harus banyak mawas diri dalam menjalankan  misi budayamya. Kritik-kritik yang datang merupakan modal dalam memperbaiki ketimpangan-ketimpangan yang ada. Dan selama triwulan pertama merupakan cobaan berat dalam mengisi kebangkitan selanjutnya.
          Sanggar Gedek kini merupakan kelanjutan sanggar gedek yang dulu dibawah kemudi saudara Hardiman. Saat ini wadah tersebut dipimpin oleh Eko, tentunya diharapkan akan lebih bervariasi dengan segala kegiatannya dalam memberi, menampung dan menyalurkan generasi penerus dalam berkesenian guna menambah warna budaya di wilayah Depok.  Keberadaan sanggar Gedek di Depok Jaya, Pancoran Mas merupakan barometer lingkungan sekitarnya dalam mengemban budaya,  Tanggung jawab sebagai wadah merupakan hal yang perlu untuk dipikirkan lebih lanjut, sehingga kegiatan yang ada tidak mandek dan berhenti ditempat. Tapi kegiatan-kegiatan tersebut justru semakin dikembangkan dan digali sesuai perkembangan yang ada.  Di sini diperlukan pendukung organisasi dari orang-orang yang profesional, yang mengerti dan mau berjuang demi kemajuan budaya sekitar. Keiklasan yang tinggi, bahkan pengorbanan dari orang-orang pendukungnya, yang menyadari akan awal kebangkitan sebuah sanggar yang baru merintis kembali dengan  segala keterbatasannya.
              Tempat yang begitu strategis dan luas serta amat memadai sebagai lokasi sebuah sanggar, tentunya merupakan sebuah modal yang baik dalam kebangkitan selanjutnya. Maka perlu di isi dengan sesuatu yang bermanfaat, kegiatan-kegiatan dari berbagai bidang dalam bentuk kesenian akan mengharumkan nama sanggar itu sendiri. Tentunya apabila diolah dan dikerjakan dengan benar dan terencana secara matang. Kepengurusan yang ada dalam organisasi tersebut akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, dan akan membawa baik buruknya nama wadah tersebut.  Setidaknya dalam menginjak triwulan kedua ini perlu mengadakan evaluasi dengan segala apa yang telah dilaksanakn selama ini,  Dengan evaluasi secara bersama  tentunya akan dapat memberikan pandangan selanjutnya arah dan tujuan sanggar dalam mengemban misi dan visi selanjutnya.
            Potensi-potensi yang ada dalam sanggar Gedek saat ini masih perlu polesan-polesan yang lembut dengan segala keiklasan hati, sehingga dapat mencapai apa yang diharapkan. Baik potensi teater, musik, lukis, kerajinan dan lain sebagainya perlu penanganan serius dalam manajemen yang profesional, terbuka dan berani berekperimen maupun berkreasi dengan sebuah tanggung jawab yang besar untuk kemajuan bersama. Tantangan sebagai wadah kreatifitas, apalagi GEDEK adalah Generasi Depok Kreatif  tentunya memiliki tanggung jawab sesuai nama yang dipakai dalam sanggar atau wadah tersebut. Tentunya sebagai warga atau berkecimpung di Depok berani berbuat kreatif tanpa terlebih dahulu memperhitungkan materi yang akan didapat, justru mengutamakan apa yang harus dilakukan dalam kreatifitas tersebut, berbuat untuk sebuah nama yaitu GEDEK.
              Lomba dan pentas seni dalam memperingati hari lingkungan hidup tahun 2010 di kota Depok oleh Sanggar Gedek tak lain sebagai pijakan kelompok seniman dalam organisasi tersebut dalam menentukan langkah selanjutnya. Berkumpulnya anak-anak dalam kegiatan lomba baca puisi dan menggambar merupakan sebuah momen yang baik dan sejarah dalam perjalanan terbentuknya sebuah sanggar di lingkunagn perumnas Depok tersebut. Di situ hadir budayawan senior maupun wakil pemerintah daerah yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Sebagai penghormatan sekaligus tantangan ke depan selanjutnya,  bukan sekedar kehadiran para tokoh, namun perjuangan dan momen awal tersbut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pengurus maupun pendukung sanggar GEDEK dalam menggali ide-ide, memperbaiki dan menyelenggarakan yang lebih baik lagi di hari-hari nanti.
              Kebersamaan tentunya diharapkan dalam penyelenggaraan sebuah kegiatan seni, terlebih untuk anak-anak yang sekaligus mayoritas didampingi oleh orang tua mereka dalam mengikuti lomba-lomba tersebut. Dapat dijadikan contoh dan panutan generasi pengganti juga para monitoring sang orang tua dalam menilai pelaksanaan kegiatan tersebut. Lomba, tentunya bukan sekedar mencari bakat-bakat yang ada pada anak-anak, namun yang lebih penting lagi kemana bakat-bakat tersebut disalurkan, agar nantinya mendapatkan wadah yang layak dan sesuai dalam perkembangan selanjutnya   Sanggar memang salah satu wadah tersebut, tentunya dapat memberikan informasi, dan menyalurkan apa yang telah menjadi potensi anak dalam keikut sertaannya untuk mengisi dan hadir dalam kegiatan lomba tersebut. Keterbatasan memang selalu ada dalam sebuah organisasi, terlebih sebuah sanggar yang baru berdiri dengan segala upaya kemandiriannya. Yang tentunya perlu diacungkan jempol dalam gebrakan pertama yang memberikan suguhan dalam cakupan kesenian setingkat kota Depok.
            Anginpun masih lembut menerpa dedaunan sekitar kolam ketika anak-anak beranjak pergi meninggalkan sanggar. Tawa, lugu dalam kemurnian seorang bocah semua tercermin dalam suara dan goresan aneka warna. Semua larut dalam suasana gembira, senja pun menghampiri dan menutup acara lomba anak-anak dalam berekpresi sebuah seni. ................................ kemana mereka kan berpijak ??? 

       


                    

Rabu, 17 Maret 2010

ALAT MUSIK BARU


BAMBOO STRING 
MENCARI IDENTITAS DIRI

Pagi itu udara cerah dan cukup panas, hingga tak kusadari keringat mengalir di keningku. Sementara bayu semilir mengitari dedaunan, menyelinap di sekitar pepohonan bambu di antara ketenangan, keruhnya air kolam. Suasana memang hening sunyi, seolah bagai suasana pedesaan jauh hiruk pikuk keramaian kota. Lirih terdengar mengalun membuyarkan keheningan suasana, berirama merdu lagu Ilir-ilir, bak seorang ibu meninabobokan anaknya. Semakin jelas suara musik itu, kupalingkan mencari asal suara itu. Seorang pria memainkan alat musik gesek, bak biola, bagai rebab, tapi bukan keduanya. Gesekan demi gesekan membuat suasana hening dalam ketenangan, kenyamanan seakan menggugah hati tuk mengerti akan arti hidup yang sebenarnya.
Joko, nama pria itu, sosok yang rendah hati, penuh percaya diri diantara kesederhanaan hidupnya. Ia dikenal dengan panggilan Joker oleh teman-teman sanggar di mana ia mengabdikan diri, berkarya, dan berkreasi. Memberikan ilmunya kepada anak-anak didiknya melalui musik, dalam sebuah wadah yang dikenal dengan ”Sanggar Gedek” , tepatnya di Jalan Durian, Depok Jaya, Pancoran Mas Kodya Depok.
          Sejak kecil Joker memang telah bercita-cita menjadi seorang pemusik, namun kedua orang tuanya berkehendak lain. Keinginan yang begitu keras, walau tidak mendapat izin tersebut, membuatnya sering kabur dari sekolah. Pada akhirnya ia memutuskan keluar dari sekolah dan hanya mau bermain musik, dan satu-satunya gitar menjadi teman sekaligus pelampiasan hati maupun ide serta mengisi kehidupannya sehari-hari. Dia berusaha membuktikan diri melalui petikan-petikan nada dan irama gitarnya,  kehidupannya semakin hari semakin enjoy, ia betul-betul menikmati dan mendapatkan kepuasan bathin yang selama ini ia idam-idamkan.
          Ketekunan dan tekad Joker, kiranya telah melahirkan ide-ide cemerlang  dalam kehidupan budaya masyarakat melalui alat musik hasil kreasi dan ciptaannya.  Alat musik yang sederhana terbuat dari bahan bambu, namun memberikan nilai artistik, memberikan warna  tersendiri yang berbeda dari apa yang selama ini banyak kita jumpai dalam blantika musik tradisional maupun musik modern.  Kemudian alat musik itu diberinya nama ”Bamboo string”  karena terbuat dari bahan bambu Wulung (hitam), dengan tiga  senar string guitar.
          Sejak tahun 1996, Joker menbuat alat tersebut dan telah beberapa kali mengalami perubahan untuk menemukan bentuk dan suara yang ideal. Kini alat tersebut membuat dirinya semakin percaya diri sekaligus kebanggaan, dan Joker satu-satunya orang yang dapat memainkan alat tersebut secara baik.
Bamboo string, dari bentuknya merupakan alat musik yang sangat sederhana. Bebentuk memanjang tak lebih dari 75 cm, satu ruas bambu dihilangkan kulitnya, sehingga memiliki kedudukan yang lebih rendah dari ruas bawah dan atas, dipergunakan sebagai tabung gema suara dari ketiga senar yang ada di atas permukaan bambu tersebut. Di bagian bawah diberi lubang berbentuk ukiran simetris yang telah direnungkan sebelumnya untuk menghasilkan suara yang diinginkan.  Senar dimasukkan melalui ruas bambu, dan di bagian bawah dipasang sebilah bambu dengan guratan tipis guna menempatkan garis senar agar tak bergeser saat dimainkan dengan gesekan, dan dapat mengelurkan suara yang diinginkan. Bagian atas tak lebih dari 20 cm diberi tiga buah lubang untuk menempatkan bilah-bilah bambu yang dibentuknya sedemikianrupa, berfungsi sebagai pengait dan penggulung senar, sehingga mudah untuk menyetem nada-nada yang diinginkan.
Alat gesek yang dipergunakan Joker tak jauh beda degan alat gesek pada biola atau rebab, terbuat dari bambu yang kedua ujungnya dihubungkan dengan deretan senar-senar halus dengan kelenturan yang telah diperhitungkan oleh sebelumnya. Sehingga gesekan-gesekan senar dengan naluri dan kepekaan tertentu dapat menimbulkan getar suara yang bergema dari tabung bambu dan keluar melalui lubang yang berada di bagian bawah. Sementara tangan kiri dengan jari jemarinya lincah menekan senar kesana-kemari bagai seorang gitaris. Joker memang mahir bermain gitar, namun dibalik semua itu, ia seorang pria yang kreatif, tekun, sabar dan memiliki kepekaan tersendiri diantara perkembangan budaya yang kini semakin maju dan berteknologi tinggi.  Kesederhanaan seorang Joker memberikan nuansa dan warna berbeda, terlihat dari hasil karyanya Bambbo string. Merupakan perpaduan yang diambil dari kekayaan alam negeri ini. Dan alat gesek yang terbuat dari bambu tersebut kiranya dapat ditempatkan di antara alat gesek Biola dan Rebab.
Sanggar Gedek, sebagai wadah bermain, berkarya, berkreasi dan berprestasi layak memberikan peluang seluas-luasnya kepada pria seperti Joko. Baik sebagai guru musik (gitar) maupun sebagai seniman yang telah menyumbangkan ide-ide dalam bentuk kreatifitasnya melalui Bamboo string sebagai ciptaannya. Dan bagi Joko memang wajar apabila hasil karya tersebut dapat diakui sebagai salah satu alat musik terbaru di Indonesia, bahkan mungkin merupakan alat musik terbaru di dunia. Karena alat tersebut memiliki nada-nada dasar yang cukup unik, namun dengan kepekaan tersendiri dapat menimbulkan suara dengan nada dan irama yang merdu, yang dapat menggugah hati dan perasaan seseorang untuk menikmati dan menghayatinya.
Bagi Joker, harapan dan cita-citanya sejak kecil kini telah terwujud, setidaknya kepuasan bathin sebagai seorang seniman, yang telah memberikan kebanggaan tersendiri, yang tak dapat dinilai oleh materi sebesar apapun. Pengakuan alat musik seperti Bamboo string kepada publik, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh orang lain dalam mendukung perkembangan blantika musik Indonesia. Di sini perlu dukungan para pihak terkait untuk memberikan jalan kepada Joker untuk memberikan jalan, membukakan sebuah pintu menuju sebuah bentuk ”Pengakuan”  dalam bentuk hak cipta (hak paten).  Melalui Sanggar Gedek (wadah komunitas seni dan budaya Depok) tempat sehari-hari ia mengabdikan diri dan berkreasi,  kiranya akan lebih mudah mewujudkan cita-cita tersebut. Bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Depok, tentunya dapat memberikan seberkas harapan akan Bmboo string untuk dipergunakan sebagai ciri atau khas wilayah Depok.
Bamboo string memang identik dan tak dapat dilepaskan dengan kehidupan seorang pria seperti Joker sebagai penciptanya, begitu pun telah lekat dengan eksistensi Sanggar Gedek. Ada Bamboo string ada Sanggar Gedek, ada Sanggar Gedek tentu juga ada Bamboo String, dan semua itu tak lepas dengan adanya Joker. Semua saling berkaitan, dan saling menggantungkan, setidaknya sampai saat ini.  Diharapkan,  ia mendapatkan wadah dan orang-orang yang dapat menghargai eksistensinya sebagai seniman tulen dibalik kesederhanaan dan idealisnya yang terkonsep.
Dunia seni memang penuh keanehan, dan kejutan-kejutan, bahkan mengagumkan hingga digemari banyak orang. Namun memang diperlukan perjuangan yang tidak mudah, berbagai rintangan bahkan tak sedikit cemoohan menghampiri hal-hal yang dianggapnya penuh keanehan tersebut. Ketekunan, kesabaran dan keiklasan yang disertai daya imaginasi tinggi sangat diperlukan oleh seorang seniman. Dimana ia telah dibekali pikiran, perasaan dan kemaunan dalam menerima kritikan, mengolah ide, yang selanjutnya mewujudkan ide-ide tersebut dalam sebuah karya seni yang dapat diterima dalam lingkungan seni itu berada, dan tersebar dalam kehidupan budaya suatu bangsa.
Indonesia memang dikenal akan keanekaragaman budaya dari berbagai tempat dan wilayah maupun suku. Begitu kaya akan budaya yang merupakan peninggalan nenek moyang kita, dan berkembang menyesuaikan zamannya dalam bentuk aneka seni. Baik senirupa, seni tari, seni musik dan lain sebagainya, baik dalam adat istiadat maupun dalam kemasan modern yang banyak kita jumpai pada kehidupan saat ini.  Bahkan masih banyak yang belum terungkap dan dikenal oleh publik, masih terpendam dalam kesendirian diantara kehidupan adat istiadat yang mengungkungnya. Mungkin juga berdiam diri dalam proses ide yang akhirnya lenyap tertelan masa dan kebisingan hingar bingarnya demokrasi yang kini semakin menghantui kehidupan masyarakat Indonesia dengan segala bentuk kehadirannya. (toto, maret,10)                     

SANGGAR GEDEK


PERANAN SANGGAR SEBAGAI WADAH KREATIFITAS


Siang itu hujan lebat yang diselingi angin mengguyur Kota Administrasi Depok, tak luput wilayah yang banyak memiliki berbagai potensi yaitu wilayah Pancoran Mas.  Sementara di Jalan Durian, Depok Jaya sekelompok seniman sibuk mempersiapkan diri dalam sebuah acara yang telah dirancang jauh hari sebelumnya. Air hujan masih setia mengucur membawakan berkah yang dikirim olehNYA diantara kesibukan anak manusia tuk wujudkan sebuah impian. Satu persatu berdatangan tamu undangan, menuruni anak tangga usang ke  tepian kolam dalam hamparan lahan seluas 3000 meter persegi.
Lahan di tepian perumahan tersebut tampak hening, hanya rumpun bambu tegar berjajar yang ditemani beberapa pepohonan lain serta rumput liar  sepanjang tepian kolam. Musik mengiringi hujan hingga tak terasa azan ashar menggema dalam keheningan mendung, kelompok seniman semakin sibuk menyambut dan berjabatan tangan dengan para tamu yang datang untuk menghadiri sebuah acara ”Apresiasi dan Lounching Workshop Sanggar Gedek”  
Guyuran hujan lebat tersebut terjadi pada hari Senin 15 Maret 2010, menyebabkan terlambatnya acara yang sedianya akan dibuka pada jam 14.00 Wib, alhasil mundur hingga sore hari, tentunya kehadiran tamu undangan tak seperti yang diharapkan, namun semua itu tak membuat lesu dan patah semangat para seniman. Bertindak selaku ketua panitia acara lounching adalah Eko, pria tengah baya dengan kemeja batik dan gaya khas Yogyakarta itu menyampaikan sambutan, visi maupun misi Sanggar Gedek ke depan dalam mengangkat generasi kreatif maupun seni dan budaya Depok.
Sanggar Gedek dalam kelahirannya telah merangkul dan bekerjasama dengan para seniman maupun tokoh lain dari berbagai disiplin ilmu, seperti teater, puisi, seni tari, seni musik, seni lukis, bahkan jurnalis yang ada di Kota Depok, mereka tak lain Johni, Andi, Dewi, feri, Joko, Anwar, Nining, Agus, Randu, Yantoto, Budi dan beberapa lainnya yang telah tersusun dalam kepengurusan Sanggar Gedek untuk periode 2010 s/d 2015.
Hujan telah reda ketika sebuah tarian kreasi baru menggebrak di awal launching, gemulai dan dinamis membentuk sebuah pesan tersendiri, penari cantik dari Sanggar Tari Ayodiapala, sebagai wujud eksistensinya untuk melestarikan budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat.  Selanjutnya pentas Bamboo String atau Bambu Gesek dari Joko bersama kedua anak didiknya. Alat musik yang terbuat dari bambu ini memang hasil kreatifitas Joko seorang, ia menciptakan alat tersebut sejak tahun 1996. Dalam panggung sederhana itu Joko memperkenalkan alat ciptaannya dalam sebuah tembang jawa ”Ilir-ilir” diiringi sebuah gitar oleh Rio salah satu anak didiknya, sementara murid yang lainnya membacakan sebuah puisi tentang arti sebuah kehidupan. Kolaborasi bambu gesek dan gitar memberikan warna baru dalam dunia musik, khususnya bambu gesek, alat musik baru, langka dan asli, hasil ciptaan generasi kreatif Depok, yaitu Joko.
Acara Apresiasi dan Lunching Sanggar Gedek juga dihadiri Wali Kota Depok yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,  Dinas Pendidikan, Camat Pancoran Mas, Kepala Desa Depok Jaya, dan beberapa tokoh masyarakat serta budayawan, seniman hingga wartawan media massa di wilayah Depok. Hujan pun menjadikan sebuah hikmah dalam mengiringi kehadiran tamu undangan dalam kebersamaan sebuah restu, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada sebuah organisasi sebagai wadah kreatifitas generasi Depok dengan segala aktivitas budaya dan seni dalam kehidupan masyarakat Depok yang beraneka ragam latar belakang.    
Untuk memberikan apresiasi kepada hadirin, Feri dengan rambut panjangnya khas seniman, tampil di atas panggung dengan guyon puisinya, kocak tapi penuh makna yang memang sulit dicerna oleh kebanyakan orang. Itu adalah hasil kreatifitas seniman, tentunya telah melalui proses yang tidak mudah yang tak kan hadir begitu saja dalam gerakan dan kata-kata dalam irama. Merupakan ciri dan kekhasan tersendiri dari puisi maupun bagi Feri seorang. Tak cuma itu kemahiran Feri, sebagai guru musik memberikan suguhan yang menawan dan menghangatkan suasana sore itu. Dengan kemahiran bermain gitar, ia berkolaborasi bersama Joko dengan alat bambu stringnya. Permainan musik yang mengasyikkan, irama lembut hingga cepat penuh dinamis membentuk nada-nada membuat pesona tersendiri.
Kreatifitas-kreatifitas seperti itu memang diperlukan oleh seorang seniman, sementara sanggar sebagai wadah dalam mengolah karya memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam meniti karier maupun kehidupan selanjutnya. Dan mereka memang membutuhkan sebuah wadah yang dapat menampung, menghargai hasil olahannya, baik dalam bentuk benda, suara, visual, maupun tulisan. Ide-ide cemerlang seniman memberikan warna baru dalam kehidupan budaya masyarakat, bahkan mengangkat wadah itu sendiri dalam sebuah bentuk yang lebih hidup dan menjanjikan diantara kehidupan masyarakat yang melingkupinya.
Depok sebagai salah satu gudang seniman yang telah banyak mengecam pengalaman dalam tingkat nasional, bahkan internasional seperti yang diungkapkan oleh sastrawan senior Afrizal Nur dalam sambutannya di sore itu. Namun Depok sampai saat ini belum memiliki ciri seperti halnya kota-kota lain, khususnya pakaian adat sebagai identitas diri. Maka ungkap beliau, wadah seperti Sanggar Gedek ini patut untuk didukung dalam menjalankan visi maupun misinya, pembinaan dari para pihak terkait hendaknya mengarah pada sebuah bentuk yang dapat mengangkat karya-karya seniman Depok dalam percaturan budaya bangsa negeri ini.  Tentunya dengan bersatu antara yang satu dengan yang lainnya, untuk sebuah tujuan yang positif demi mengangkat budaya lokal melalui berbagai kreatifitas seni dari generasi hingga generasi selanjutnya.  Dalam kesempatan ini Afrizal Nur juga menyuguhkan tontonan menarik, beliau membacakan dua buah puisi karyanya dengan kekhasan suara lantangnya, hadirin pun memberikan applus dengan tepuk tangan yang meriah di akhir puisi tersebut.
Di sisi lain, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Camat maupun tokoh masyarakat lainnya bersepakat mendukung keberadaan Sanggar Gedek maupun sanggar lain di wilayah Depok, yang kini telah mencapai kurang lebih 21 sanggar di berbagai tempat di Depok ini dengan berbagai macam kegiatan, baik bidang musik, teater, musik, tari dan senirupa.  Mengharapkan lahan seluas 3000 meter persegi dengan suasana yang mendukung untuk berkreatifitas tersebut, dapat mempertahankan eksistensinya sebagai wadah bagi para generasi kreatif Depok umumnya,  dan khususnya masyarakat di wilayah Pancoran Mas. 
Kelahiran sebuah wadah seperti sanggar memang bukan hanya sekedar peresmian ataupun lounching yang dihadiri oleh berbagai kalangan maupun tokoh. Namun sebuah tanggungjawab yang berat dalam menjalankan visi dan misi yang telah dijadikan pedomannya selaku wadah bagi generasi kreatif yang ada di sekitarnya. Menjadi sebuah sorotan apa yang selalu dilakukan dalam kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sanggar tersebut. Bahkan sebuah panutan dalam melahirkan budaya dengan berbagai bentuk karya seni. Pola hidup yang pada umumnya menganut bebas, yang terkadang membuat masyarakat umum salah persepsi kerap kali menjadi bumerang bagi gerak sanggar itu sendiri. Namun entah kenapa semua itu tetap dipertahankan dan dilestarikan, bahkan menjadi sebuah trade mark yang menjadi kebanggaan seniman itu sendiri.
Zaman telah banyak berubah, adat ketimuran masih kuat bercokol di negeri tercinta ini, dan dunia telah mengakuinya. Kreatifitas sangat diperlukan dalam sanggar, namun kebersamaan lebih diutamakan dalam membangun sebuah sanggar sebagai wadah kreatifitas itu sendiri. Menjalankan apa yang telah menjadi cita-cita, memberikan jalan kepada para anak didik untuk bekal dikemudian hari. Memberikan motivasi dalam kepercayaan diri mencari identitas dan pengakuan akan hasil karya-karyanya. Tugas sanggar memang tidaklah mudah dan ringan, sulit dan itulah adanya. Namun dengan keinginan yang dilandasi niat baik dalam ketulusan maupun keiklasan hati, kesabaran bersama akan menuntun dalam sebuah kenyataan mimpi.
Peranan sanggar sebagai wadah kreatifitas para seniman tentunya memerlukan pengurus dan atau pembimbing yang mengerti akan kehidupan seni itu sendiri. Bekerja secara profesional, sedangkan pendekatan sesama maupun terhadap anak didik dapat dilakukan secara kekeluargaan. Memberikan motivasi-motivasi dalam membangun untuk kepentingan kelompok maupun dalam membentuk pribadi anak didik guna meningkatkan daya imaginasi, agar dapat berkreasi secra profesional, dan dapat melahirkan ide-ide yang cemerlang. Sehingga karya-karya yang dihasilkan dapat memberikan nuansa-nuansa baru yang segar dalam khasanah budaya dengan berbagai bentuk karya seni.
Kehidupan seniman dalam sebuah wadah seperti sanggar, memiliki kekhasan tersendiri, berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Orang bilang penuh keanehan/eksentrik dengan penampilan yang serba adanya. Itu tak lain sebagai sebuah keseimbangan jiwa guna mencari identitas dan pengakuan akan karya-karya hasil kreatifitasnya. Namun yang lebih penting lagi selalu menyadari keberadaan dirinya sebagai mahluk sosial yang tak lepas dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Peka terhadap lingkungan dimana wadah itu berada, selalu menyadari bahwa sanggar hidup diantara kehidupan masyarakat dari berbagai lapisan. Sehingga dengan kepekaan tersendiri sebagai seorang seniman dapat memberikan ide dalam langkah-langkah inovasinya. Dapat mengangkat kehidupan alam maupun masyarakat di sekitarnya dalam sebuah karya, sehingga masyarakat di sekitarnya dapat mengakui eksistensi sanggar dengan segala kegiatannya.
Pengakuan terhadap seniman beserta wadahnya merupakan sebuah jalan dalam kebersamaan. Dapat memberikan motivasi yang lebih baik lagi di hari-hari selanjutnya, mewujudkan ketenangan yang memang sangat diperlukan bagi anak didik dalam mengikuti para pembimbing atau seniornya untuk mewujudkan cita-cita dalam mengembangkan talenta yang ada pada dirinya.  Untuk itu jalan bersama secara serasi, seimbang, dan berkesinambungan diperlukan dalam kehidupan sebuah sanggar. Saling mendukung dan mengisi satu sama lain dalam sebuah angan-angan yang telah tersurat dalam kalender misi dan misi.
Hujan rincik masih menetes perlahan mengiringi satu persatu langkah-langkah gontai dalam desiran bayu yang mulai terasa dingin menyentuh tubuh. Sementara beban pundak di hari esok makin terasa berat membayang dalam benak masing-masing. Para pihak selaku pembina sanggar melangkah meninggalkan lokasi, para tokoh beramah tamah, ikan-ikan di kolam sekitar sanggar turut menyaksikan ketika para tamu undangan menancapkan bibit-bibit tanaman berupa buah belimbing dan pohon bambu di tepiannya, dengan harapan lingkungan semakin berseri.  Sejalan Sanggar Gedek mengayuh bahtera kehidupan selanjutnya menggali Generasi Depok untuk lebih Kreatif.  Walau lelah tubuh ini, anganku berharap, apa yang telah terucapkan dalam sambutan-sambutan tadi akan terwujud di keesokan hari bersama menyingsingnya fajar. Sebuah kebersamaan membangun kota idaman dalam budaya adi luhung untuk membangkitkan masyarakat mencari identitas diri dalam bentuk karya seni, hasil generasi kreatif melalui sebuah wadah, yaitu Sanggar Gedek. (yanto’2010)