Selasa, 06 April 2010

WISATA DI YOGYAKARTA


PENDAHULUAN

          D.I.Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang memiliki kawasan konservasi unik dan menarik. Dimana terdapat keanekaragaman hayati yang tinggi, baik berupa tumbuhan, satwa maupun keindahan bentang alamnya. Potensi tersebut antara lain terdapat pada kawasan  suaka alam yaitu Cagar Alam (CA), dan Suaka Margasatwa (SM),  kawasan pelestarian alam yaitu Taman Wisata Alam (TWA).
          Taman Wisata Alam mempunyai daya tarik alam yang dapat dikelola dan dikembangkan sebagai pariwisata dan rekreasi alam, dan Cagar Alam mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya, sedangkan Suaka Margasatwa merupakan kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa.  Maka ketiga kawasan tersebut perlu untuk dikelola secara benar dan bijaksana, agar dalam pengelolaannya dapat secara optimal, dan tetap mengacu kepada fungsi yang sebenarnya, serta untuk menghindari adanya tumpang tindih kepentingan.
          Kawasan konservasi  di provinsi D.I.Yogyakarta perlu untuk diinformasikan kepada publik. Agar masyarakat mengetahui segala potensi yang ada  dalam kawasan tersebut merupakan asset tak ternilai, dan penting untuk dilindungi  Selain itu juga sebagai kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya dan wisata alam, berfungsi sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.
          Adapun informasi yang akan disampaikan dalam buku ini meliputi :   Cagar Alam Imogiri, Taman Wisata  Gunung Gamping, Suaka Margasatwa Sermo dan Paliyan, Desa Wisata, Kawasan Karst, Tahura, Taman Nasional serta  Kawasan konservasi pantai,  dengan segala potensinya, sekaligus media promosi dalam rangka publikasi pembangunan kehutanan dalam kawasan konservasi wilayah Provinsi D.I.Yogyakarta.  

TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI

1.     Keadaan Umum
         Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) diresmikan berdasarkan  Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 134/Menhut-II/2004  tanggal 4 Mei 2004 dengan luas 6.410 hektar (5.126,01 ha wilayah Jateng dan 1.283,99 ha wilayah D.I. Yogyakarta). Kawasan ini merupakan alih fungsi dari Hutan Taman Wisata Alam Plawangan Turgo, Cagar Alam Plawangan Turgo, Hutan Lindung Merapi, dan sebagian hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani.  Kawasan TNGM ini memiliki potensi wisata alam yang cukup atraktif dan memungkinkan untuk dikembangkan sebagai obyek wisata alam. Memiliki fungsi penting sebagai daerah penyangga kehidupan dalam satuan ekosistem sumber daya alam,  dan bertindak sebagai daerah tangkapan air bagi sungai-sungai penting seperti Sungai Progo, Sungai Opak, Sungai Krasak dan beberapa sungai lainnya.
         Kawasan TNGM memiliki topografi landai hingga berbukit dan bergunung. Di sebelah utara terdapat dataran tinggi yang menyempit di antara dua buah gunung (Gunung Merapi dan Merbabu) DI Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Di selatan, lereng merapi terus turun dan melandai ke pantai selatan di tepi Samudra Hindia, sebelum kaki gunung terdapat bukit Turgo dan Plawangan yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata Kaliurang.
         Kawasan ini memiliki iklim tipe C dengan rata-rata hujan 875-2527 mm per tahun. Sedangkan tanah berjenis regosol, andosol, allivial, dan litosol. Secara hidrologimerupakan sumber air bagi DAS Progo (Barat), DAS Opak (Selatan), dan DAS Bengawan Solo (Timur) dengan 27 anak sungai.

2.     Potensi Kawasan
a.     F l o r a
      Tumbuhan yang merupakan endemik kawasan TNGM antara lain  adalah Saninten (Castanopsis)  dan Anggrek Vanda tricolor . Sedangkan jenis lain yang ada dalam kawasan tersebut abtara lain adalah jenis palm, pinus, buah-buahan, rasamala, jati. Mahoni, Bambu, Rotan, Obat-obatan, Kantong Semar, Tanaman hias,  dan lain sebagainya.

b.     F a u n a
       Satwa endemik di kawasan taman nasional ini adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)  dan Macan Tutul (Panthera pardus). Sedangkan satwa lain yang terdapat dalam kawasan ini antara lain adalah Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Elang Ular Bido (Spilornis cheela),L Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus), Elang Brontok (Spizaetus cinhatus) , Elang Alap Besra (Accipiter virgatus), Elang Alap Cina (Accipiter soloensis) Elang Alap Nipon (Accipiter gularis), Alap-alap Sapi (Falco molucensis),  Alap-alap Kawah (Falco peregtinus), Alap-alap Macan (Falco saverus), Kera, Lutung, Ular, Bajing, Kupu-kupu dan lain sebagainya.

3. Potensi Lain
          Taman Nasional Gunung Merapi, disamping memiliki potensi flora dan fauna juga merupakan daerah tujuan wisata yang telah lama dikenal baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Memiliki bentang alam yang indah, hawa sejuk dengan udara yang segar.  Gunung berapi yang merupakan salah satu gunung yang paling berbahaya  di dunia itu sendiri yang menjadi obyek bagi wisatawan, apalagi di saat mengeluarkan lahar maupun awan panas merupakan pemandangan alam yang unik dan menakjubkan sekaligus menegangkan.
         Bagi para pecinta alam, merapi merupakan salah satu lokasi pendakian yang digemari,  dan tempat berkemah yang relatif aman dan menyenangkan. Juga merupakan kawasan konservasi yang baik untuk penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan serta pendidikan tentang lingkungan hidup, serta untuk pengembangan budidaya maupun budaya masyarakat di sekitarnya.  Penangkaran jenis tumbuhan seperti Anggrek vanda tricolor yang dilakukan oleh kelompok tani anggrek di daerah penyangga. Sedangkan sungai di sekitarnya merupakan potensi alam yang menghasilkan bahan tambang berupa pasir, batu dan sumber mata air bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
          Sebagai kawasan wisata alam yang menarik perhatian wisatawan karena banyak memiliki bentang alam yang indah. Disekitarnya telah dibangun fasilitas, seperti penginapan, rumah makan, menara pengawas, tracking, areal parkir, warung  souvenir dari berbagai bentuk kerajinan, dan lain sebagainya guna mendukung kehadiran wisatawan sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat di sekitar dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

4. Pemanfaatan
      Taman Nasional Gunung Merapi bermanfaat sebagai kawasan konservasi, kawasan penyangga kehidupan maupun pengatur tata air dalam satuan ekosistem sumber daya alam. Sangat baik untuk pelestarian berbagai jenis flora dan fauna, serta sebagai lokasi pengembangan wisata alam D.I Yogyakarta. Topografi yang landai hingga  berbukit dan bergunung membentuk keindahan tersendiri sebagai bentang alam yang banyak menarik perhatian. Gejala vulkanik gunung Merapi mempunyai cerita tersendiri bagi para peneliti tentang gejala alam dan struktur tanah maupun bebatuan di sekitarnya.  Kaliurang dan sekitarnya, baik oleh Pemerintah Daerah, Dinas Pariwisata maupun pihak Swasta telah dikelola dan menyediakan berbagai fasilitas guna mendukung pariwisata. Hal tersebut memberikan peluang bagi masyarakat turut berpartisipasi dengan mengisi berbagai kegiatan guna mendukung perekonomian dan kesejahteraan.  
       Di daerah Selo Boyolali telah dimanfaatkan sebagai lokasi agro dengan berbagai tanaman sayuran, buah-buahan dan tanaman hias. Menghiasi sepanjang jalan berliku dan berbukit, sehingga pemandangan semakin asri, sejuk dan menawan.  Dari sini gunung Merapi tampak jelas dan dekat, sehingga banyak wisatawan maupun para pecinta alam mengunjungi lokasi ini dengan berbagai maksud dan tujuan, seperti menikmati keindahan alam, kesegaran dan kesejukan udara, tracking, pendakian serta pengamatan gunung berapi melalui teropong di gardu/menara yang tersedia.
 
5. Transportasi dan Aksesbilitas
               Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi berjarak 30 km dari kota Yogyakarta, dan dapat ditempuh selama satu jam dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua.  


CAGAR  ALAM  IMOGIRI

1.     Keadaan Umum
           Cagar Alam Imogiri merupakan salah satu kawasan suaka alam di Provinsi D.I.Yogyakarta yang ditunjuk berdasarkan SK Menhutbun Nomor 171/Kpts-II/2000 dengan luas 11,4 hektar. Terletak di antara dua desa, yaitu Desa Wukirsari dan Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Kawasan ini berfungsi sebagai kawasan konservasi.  Merupakan daerah wisata  sekaligus tempat yang memiliki nilai budaya yang hingga saat ini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar khususnya dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya. Sebagai pagar hidup oleh karena keberadaan makam raja-raja Mataram Islam, serta raja-raja dan kerabat keluarga dari Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, maupun makam Seniman dan penduduk sekitar.
      Kawasan ini merupakan daerah berbukit dengan ketinggian rata-sata 100 meter dpl, memiliki hawa yang sejuk oleh karena alam di sekitarnya banyak ditumbuhi pepohonan rindang, yang tidak terganggu oleh karena memiliki kesakralan yang dipatuhi oleh masyarakat. Sehingga bangunan sejarah yang dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1632 masehi sebagai raja Mataram Islam terbesar, bangunan  bercorak Hindu tersebut masih terlihat baik.

2. Potensi Kawasan
    a. F l o r a
       Sebagai kawasan konservasi, CA Imogiri banyak mempunyai potensi flora yang dapat dinikmati keberadaannya. Jenis-jenis yang mendominasi kawasan cagar alam ini, antara lain seperti Tanaman Kayu Putih (Melaleuca leucadendron),  Pinus (Pinus mercusii), Akasia (Acasia auri culiformis), Jati (Tectona grandis), dan Sono (Dalbergia latifolia).  Tanaman tersebut telah berumur puluhan tahun, sehingga apabila kita masuk ke dalam kawasan tersebut, seakan-akan masuk dalam kawasan hutan yang belum terjamah oleh manusia. Hal tersebut menjadikan alam sekitar memiliki pemandangan yang indah, udara segar dan bersih menjadi kelebihan kawasan ini. Bahkan terdapat tanaman jati yang telah berumur lebih dari 300 tahun, juga terdapat pohon Beringin, Kepel yang kini merupakan tanaman langka dan menjadi tanaman mascot Yogyakarta, serta tanaman lain seperti Pala, Bambu dan pepohonan lain yang tumbuh tak terusik tangan manusia.

     b. F a u n a      
           Sedangkan jenis-jenis satwa yang dapat dijumpai dalam kawasan cagar alam ini didominasi oleh jenis burung (Aves), antara lain seperti Sesap Madu (Antreptes malacensis), Elang Bido (Spilornis cheela), Raja Udang (Alcedo althis), serta burung-burung lain, satwa lain yang telah teridentifikasi adalah Kucing Hutan (Felis bengalensis) dan Ular Jati (Ptyas corros)

3. Potensi Lain   
          Cagar Alam Imogiri, disamping memiliki potensi flora dan fauna yang menarik, juga memiliki banyak potensi lainnya karena kawasan ini tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan makam raja-raja di sekitarnya. Sebagai peninggalan sejarah yang masih dikeramatkan masyarakat, sehingga keberadaan makam dengan peninggalan lainnya masih terlihat utuh dan baik.
           Kawasan cagar alam ini tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan pemakaman raja yang megah tersebut. Terletak di puncak Bukit Merak dengan 410 anak tangga, dengan delapan kelompok pemakaman yang masing disebut Kedhaton, kedelapan Kedhaton tersebut antara lain adalah Sultan Agungan (Sultan Agung, Sunan Amangkurat II dan III), Pakubuwanan (Sunan Paku Buwono I dan II, Sunan Amangkurat IV), Bagusan/Kasuwargan (Sunan Paku Buwono III – V), Astana Luhur (Sunan Paku Buwono VI-IX), Girimulya (Sunan Paku Buwono X-XI),  Kasuwargan Yogyakarta (Sultan Hamengku Buwono I dan III) , Besiyaran (Sultan Hamengku Buwono IV-VI), Saptarengga (Sultan Hamengku Buwono VII-IX).  Makam-makam tersebut di dalam cungkup masing-masing dengan gaya arsitekstur yang bervariasi, namun yang menarik perhatian pengunjung adalah makam Sultan Agung, makam tersebut sederhana berbeda dengan makam lainnya yang tampak megah dengan berbagai ornamen serta hiasan lain. Raja yang tidak dimakamkan di komplek tersebut adlah Sunan Amangkurat I yang dimakamkan di Tegalarum (Tegal) dan Sultan Hamengku Buwono II yang dimakamkan di Hastana Kitha Ageng.
      Tak jauh dari pemakaman tersebut terdapat juga makam Giri Sapto, yang merupakan makam yang sifatnya khusus dan dikenal dengan makam seniman/budayawan, antara lain makam dari sastrawan Kirjomulyo, pelukis  H Widayat, sastrawan jawa dan tokoh seni tradisi Handung Kus Sudyarsono, dan tokoh musik Liberti Manik dan lain sebagainya. Kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Keindahan, keunikan dan  kelestarian alam bukit di Imogiri dikenal akan kesegaran dan kebersihan udaranya karena hutan di sekitarnya tetap terjaga dengan baik.       
  Di sekitar Imogiri,  penduduk menjajakan dagangannya berupa  minuman kepada pengunjung, yaitu minuman khas yang dijual oleh penduduk setempat yang tidak terdapat di daerah lain, adalah Wedang Uwuh/Wedang Secang, yang dalam bahasa Indonesia adalah Minuman Sampah, karena dalam menyajikan minuman tersebut dalam gelas terdapat daun-daun (sebagai bahan racikannya : gula merah, gula batu, jahe bakar, daun cengkeh, daun pala, daun kayu manis, dan kulit secang), bila diseduh dengan air panas akan muncul aroma sedap dan berwarna merah, minuman ini dikenal akan khasiatnya sebagai obat masuk angin dan pegel linu, dan terasa nikmat diminum di daerah perbukitan seperti kawasan Cagar Alam Imogiri.

4. Pemanfaatan                  
    Cagar alam yang terletak di perbukitan selatan Yogyakarta ini memiliki potensi sebagai lokasi wisata karena letaknya tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan makam-makam raja dan seniman. Dimana peninggalan sejarah tersebut merupakan lokasi yang masih keramat/sakral bagi masyarakat sekitar maupun masyarakat Yogyakarta. Sehingga keberadaan hutan dengan berbagai potensinya tidak mengalami gangguan yang berarti dari tangan manusia. Memiliki ekosistem yang masih baik bagi habitat berbagai flora dan fauna, yang dapat dimanfaatkan sebagai  Kawasan Pengawetan Keanekaragaman Tumbuhan dan Satwa Beserta Ekosistemnya. Juga sebagai Wilayah Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan
      Daya tarik nilai sejarah maupun alamnya dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pariwisata Yogyakarta untuk mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara. Sehingga berguna bagi pemberdayaan masyarakat di sekitarnya dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

5. Transportasi dan Aksesbilitas 
             Kawasan cagar alam Imogiri terletak di sebelah selatan sekitar 20 km dari kota Yogyakarta. Memiliki jalur beraspal yang baik, dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum, kendaraan pribadi baik roda ampat maupun roda dua selama 30 menit.  Imogiri juga dapat dijangkau melalui berbagai route melalui kota Yogyakarta


CAGAR ALAM/TAMAN WISATA ALAM
GUNUNG GAMPING

1. Keadaan Umum
          CA/TWA Gunung Gamping ditunjuk melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 562/Kpts/Um/7/1982, tanggal 21 Juli 1982 dengan luas 0,015 hektar sebagai cagar alam, sedangkan sebagai taman wisata alam seluas 1.102 hektar, terletak di sebelah Barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Ambar Ketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi D.I.Yogyakarta.
          Dalam kawasan ini terdapat sisa endapan batu gamping zaman Eosin yang telah berumur 50 juta tahun. Merupakan batu gamping yang langka, berukuran sekitar 3 m x 5 m dengan tinggi 15 m.  Pada batuan tersebut tak ubahnya seperti karang laut, terdapat sisa-sisa fosil ikan maupun biota laut lainnya,  berupa guratan dan warna-warna khas yang tertera pada batu kapur tersebut.  Berdasarkan penelitian,  batu  tersebut memiliki kandungan kapur yang berkualitas baik.
           Di sekitar kawasan CA juga terdapat sisa peninggalan sejarah berupa tembok kuno bekas pesanggrahan Ambar Ketawang yang merupakan tempat tinggal sementara Pangeran Hamengku Buwono I bersemayam.  Merupakan cikal bakal berdirinya Kraton Yogyakarta Hadiningrat yang dibangun oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar dengan Sampeyan Dalem Ingkang Susuhunan Kanjeng Sultan Hamengku Buwobo I. Dari tempat inilah tokoh Pangeran Mangkubumi pernah bermukim dalam mempersiapkan untuk membangun Keraton Yogyakarta. Sedangkan di sebelah selatan terdapat bangunan kuno yang dikenal dengan nama Kestalan, yang pada zamannya tempat ini dipergunakan sebagai kandang Kuda, di bagian Barat terdapat sisa tembok kuno yang dikenal dengan Kademangan, konon cerita tempat ini sebagai tempat tinggal seorang Demang.
          Dalam kawasan ini terdapat arboretum yang ditanami dengan berbagai tanaman pelindung guna  keasrian lingkungan sekitar cagar alam dan taman wisata alam, antara lain tanaman langka yaitu pohon Kepel.     

2. Potensi Kawasan  
           Potensi yang menonjol dalam kawasan ini berupa budaya hasil peninggalan sejarah. Baik yang berupa batu gamping dari zaman Eosin maupun sisa-sisa bangunan milik Keraton Yogyakarta, serta upacara adat tradisional secara turun temurun. Sementara potensi flora dan fauna  hanya beberapa jenis yang masih terlihat dalam kawasan tersebut. Hal tersebut karena letaknya yang tidak jauh dari kota dan keramaian, sehingga jenis tumbuhan yang ada merupakan hasil dari kegiatan penghijauan/rehabilitasi lingkungan oleh UPT yang berkaitan dengan berbagai tanaman kehutanan maupun tanaman langka serta tumpangsari dan obat-obatan. Untuk jenis satwa yang masih terlihat dalam kawasan ini adalah jenis burung, seperti Kepodang, Tekukur, Perkutut, Kutilang, Pipit, Burung Madu dan terkadang masih terlihat Elang Bido.

3. Potensi Lain 
            Peninggalan zaman Eosin yang berupa gundukan batu kapur memberikan arti tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Secara turun temurun masyarakat melaksanakan upacara tradisional Saparan yang dikenal dengan Upacara Bekakak, dilaksanakan pada setiap tahun pada bulan Sapar (Jawa). Upacara ini dilakukan  dalam rangka meminta keselamatan bagi masyarakat sekitar, dengan melakukan penyembelihan bekakak yang terbuat dari tepung  dilaksanakan CA Gunung Gamping.  Dalam pelaksanaan tersebut kiranya telah banyak mengundang wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kehadiran para wisatawan dari berbagai kota dan wilayah tersebut mempunyai berbagai tujuan. Ada yang memang mengikuti upacara bekakak, dan ada yang memang ingin mengabadikan pelaksanaan upacara tradisional tersebut.
              Peninggalan tembok dan atau bangunan kuno lainnya telah menarik bagi para ahli maupun masyarakat lain untuk mengetahui sejarah Ambar Ketawang, serta silsilah Pangeran Mngkubumi hingga berdirinya Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Maka kawasan ini memiliki potensi sebagai lokasi wisata Yogyakarta yang telah dikenal dengan Kota Wisata maupun Kota Pelajar dan Kota Gudeg.
              Batu gamping yang memiliki nilai sejarah geologi, banyak mengundang para peneliti untuk mengetahui lebih lanjut. Sebagai bahan ilmu pengetahuan, dan pendidikan bagi para pelajar, mahasiswa serta lainnya tentang karang/karst/kapur dan fosil biota laut sisa zaman Eosin lima puluh juta tahun lalu. Hal ini memang menarik sebagai lokasi wisata alam yang secara tradisional telah dipertahankan oleh masyarakat di sekitarnya oleh karena memiliki nilai kesakralan secara turun temurun.  Sementara di sekitar kawasan alam terlihat asri yang tidak mengalami gangguan berarti dari kegiatan manusia. 


4. Pemanfaatan    
       Dengan adanya sisa peninggalan zaman Eosin maupun sejarah Keraton Yogyakarta, keberadaan CA/TWA Gunung Gamping yang relatif dekat dengan kota Yogyakarta mempunyai daya tarik tersendiri bagi obyek wisata, penelitian, pendidikan,  pengembangan ilmu pengetahuan maupun untuk mendukung budidaya dan budaya daerah. Juga dapat dimanfaatkan sebagai  kawasan pengawetan keaneka-ragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya maupun wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.

5. Transportasi dan Aksesbilitas
                Letak CA/TWA Gunung Gamping berada sekitar 5,5 km sebelah Barat kota Yogtakarta. Lokasi ini mudah dijangkau dengan kendaraan umum, kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat dari Yogyakarta melalui route Yogyakarta – Purworejo, lokasi berada 500 meter dari jalan raya tersebut.


SUAKA  MARGASATWA  SERMO

1.     Keadaan Umum
           Suaka Margasatwa (SM) Sermo merupakan bagian dari Ekosistem perbukitan Kulon Progo yang berbatasan dengan jalur pegunungan Menoreh, dengan ketinggian bervariasi antara 70 meter – 100 meter dpl. Secara astronomis kawasan ini terletak antara garis lintang 7’ 4700” s/d 7’ 50000” LS dan 110’ 00” s/d 110’ 09 30” BT. Luas kawasan SM Sermo adalah 181 hektar. Sedangkan secara administrasi SM Sermo terletak di Desa Hargowilis, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi D.I.Yogyakarta. Keanekaragaman hayati berupa flora cukup homogen, mengingat kawasan hutan ini merupakan hutan tanaman, diantaranya adalah tanaman Mahoni, Akasia, Kayu Putih, dan Pinus. Sedangkan keanekaragaman satwa di SM Sermo termasuk dalam  kawasan plat Sunda, yang didominasi oleh jenis burung, seperti misal Elang, Srigunting, Burung madu dan lain-lain..
            Di sekitar kawasan terdapat waduk yang pertama di DI Yogyakarta, yaitu Waduk Sermo yang dibangun pada DAS Ngrancah, pada hulu pertemuan Kali Serang dan Kali Ngrancah. Kawasan SM Sermo tidak dapat dipisahkan dengan adanya waduk Sermo tersebut. Selain itu dalam kawasan SM Sermo terdapat bukit padang rumput, air terjun Sungai Serang, dan Bird watching serta camping ground di bawah tegakan mahoni.  Juga di sekitarnya terdapat berbagai tanaman buah-buahan yang ditanam oleh masyarakat sekitar, seperti durian, mangga, alpukat dan lain sebagainya.          

2. Potensi Kawasan   
     a. F l o r a
         Jenis tanaman yang terdapat dalam kawasan suaka margasatwa antara lain adalah : Pinus (Pinus merkusii), Kayu putih (Meulaleca leucadendrom), Jati (Tectona grandis), Sengon laut, Mahoni,. Sedangkan jenis buah-buahan yang banyak ditanam oleh masyarakat seperti Durian, Mangga, Nangka, Coklat, Rambutan, Alpukat, Kopi dan lain sebagainya.

     b. F a u n a   
                     Jenis satwa di SM Sermo cukup beragam, masih ditemukan hidupan liar di kawasan tersebut, berbagai jenis burung mendominasi keragaman satwa SM Sermo, diantaranya masih dapt ditemui burung Pelatuk, Srigunting, Kedasih, Ayam hutan, Elang Bido, Elang Hitam, Sesap madu, dan lainnya. Beberapa jenis mamalia antara lain seperti Tupai, Garangan, Musang dan lain sebagainya. Jenis ular dan reptil lain juga masih dapat dijumpai dalam kawasan ini.
                    Berdasarkan laporan masyarakat di sekitar kawasan maupun praktisi akademis dan peneliti, dalam kawasan SM Sermo masih dijumpai macan Kumbang, bahkan diperkirakan masih tersisa Harimau Jawa yang telah dikategorikan punah selama ini.

3  Potensi Lain    
                Disamping memiliki potensi flora dan fauna yang cukup beragam. SM Sermo juga memiliki potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata daerah Kulon Progo. Keberadaan Waduk Sermo untuk kepentingan perikanan, green belt dan ekosistem waduk, juga menarik wisatawan untuk menikmati keindahan alam serta air terjun.  Adanya tebing curam yang terkepras dan akibat erosi, merupakan sarana pembelajaran dan ilmu pengetahuan mengenai lapisan batuan dan tanah. Potensi hutan dan pemanfaatan hasil hutan non kayu yang berupa minyak kayu putih dapat memberikan arti tersendiri bagi pendapatan masyarakat di sekitarnya. Buah-buahan yang ditanam oleh masyarakat menarik minat wisatawan untuk datang ke kawasan tersebut, khususnya buah Durian sambil menikmati keindahan alam SM Sermo.
                 Bukit yang memiliki padang rumput di antara pepohonan menghadirkan hawa sejuk dan kesegaran bagi pengunjung. Sementara pemandangan indah di hadapannya membentang waduk Sermo. Sedangkan di sekitar tanaman mahoni terdapat camping ground yang dapat dipergunakan berbagai kegiatan pencinta alam maupun lokasi rekreasi keluarga yang relatif aman.
               Budaya masyarakat Hargo Wilis yang tetap mempertahankan adat istiadat serta kesenian tradisional membuat kawasan ini semakin menarik untuk dikunjungi. Pembuatan gula kelapa secara tradisional, kesenian Wayang Kulit, Ketoprak, Jatilan, Tarian Angguk dan Bersih Desa serta Nyadran merupakan budaya khas yang dapat dikembangkan maupun dimanfaatkan guna mendukung pariwisata D.I.Yogyakarta, khususnya merupakan pendapatan daerah Kabupaten Kulon Progo maupun masyarakat Hargo Wilis dan sekitarnya.

4. Pemanfaatan
             Kawasan SM Sermo dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Keberadaan Waduk Sermo seluas 157 ha dengan kedalaman air pada palung sedalam 40 meter yang berfungsi sebagai irigasi dan pengendalian air, juga dikembangkan untuk perikanan dn pariwisata. Sebagai arena memancing, Waduk Sermo cukup representatif, dengan didukung fasilitas yang ada seperti dermaga perahu, penyewaan perahu, warung makan, musholla, toilet, arena parkir dan pemandangan yang indah, dikelilingi hutan, baik untuk fungsi produksi maupun konservasi.  Kesejukan dan keindahan alam suaka margasatwa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung.  Budaya masyarakat Hargo Wilis dengan kesenian tradisional daerah mendukung usaha pengembangan pariwisata daerah. Keberadaan camping ground dapat dimanfaatkan sebagai lokasi wisata maupun pendidikan tentang alam. Sedangkan Bird watching bermanfaat sebagai tempat pendidikan atau pengenalan berbagai jenis burung dengan segala kehidupannya.
                 Dengan adanya berita dengan keberadaan macan kumbang dan harimau jawa, SM Sermo dapat bermanfaat sebagai tempat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang satwa tersebut. Kawasan tersebut juga bermanfaat sebagai tempat budidaya berbagai tanaman seperti buah-buahan yang selama ini telah dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.        

5. Transportasi dan Aksesbilitas      
            Beberapa route yang dapat dimanfaatkan untuk menuju kawasan SM Sermo maupun Wduk Sermo adalah sebagai berikut :
  • Yogyakarta – Wates – Hargo Wilis dapat ditempuh dengan jarak sekitar 50 km,  selama 1 jam dengan kendaraan umum, baik roda ampat maupun roda dua.
  • Yogyakarta – Pengasih – Hargo Wilis  dengan jarak tempuh 36 km, selama 40 menit dengan kendaraan umum, baik roda ampat maupun roda dua. 


SUAKA MARGASATWA PALIYAN

1. Keadaan Umum
      Suaka Margasatwa Paliyan ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 171/Kpts-II/2000, tanggal 29 Juni 2000 tentang penunjukan kawasan hutan di Provinsi D.I.Yogyakarta. Kawasan ini merupakan alih fungsi dari kawasan hutan produksi pada petak 136 sampai dengan petak 141 berada di wilayah BDH Paliyan. SM Paliyan memiliki luas total 434,50 hektar terletak di wilayah Kecamatan Paliyan dan Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Topografi kawasan berupa perbukitan karst dengan lapisan tanah yang tipis, dengan kelerengan diatas 40% serta memiliki ketinggian antara 100-300 meter dpl.
       Kawasan konservasi SM Paliyan ini berbeda dengan kawasan konservasi lainnya karena di kawasan ini dimulai dengan merehabilitasi kawasan bukan pengelolaan pada kawasan yang telah jadi. Oleh karena itu tujuan utama adalah mengembalikan fungsi hutan sebagai kawasan konservasi suaka margasatwa terutama pengaturan tata air (hidrologi dengan konsep pembangunan hutan yang memperhatikan kepentingan masyarakat yang berada di sekitarnya guna mendapatkan nilai tambah secara optimal.
           SM Paliyan memiliki potensi berupa pohon hasil rehabilitasi, seperti buah-buahan, pakan ternak dan tanaman tumpangsari. Sedangkan satwa yang mendominasi dalam kawasan ini adalah Kera ekor panjang, yang banyak mendiami goa-goa di dalam dan sekitar kawasan, serta beberapa jenis burung.
  
2. Potensi Kawasan
    a. F l o r a
       Tanaman yang tedapat dalam kawasan pada umumnya berupa pohon buah-buahan hasil rehabilitasi beberapa tahun yang lalu, yang melibatkan masyarakat di sekitarnya. Di bawah tegakan ditanami dengan tanaman tumpangsari dan pakan ternak.

     b. F a u n a
          Kawasan ini didominasi oleh satwa Kera ekor panjang, yang sekaligus sebagai penghuni goa-goa yang ada di dalam dan sekitar kawasan. Keberadaan kera-kera tersebut banyak menarik wisatawan untuk berkunjung ke kawasan ini.  Sedangkan jenis burung yang masih sering dijumpai antara lain adalah Bul-bul, Perkutut, Tekukur, Kutilang, Pentet Kelabu, Kepodang dan terkadang terlihat burung jenis Elang terbang mengitari kawasan tersebut.

3. Potensi Lain
Disamping potensi flora dan fauna, kawasan SM Paliyan masih menyimpan potensi lain yang berupa bukit-bukit karst dengan goa-goanya. Dimana di dalamnya banyak terdapat stalagtit maupun stalagnit yang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Diperkirakan dalam goa-goa tersebut masih terdapat biota dan sejenisnya maupun satwa lain yang belum teridentifikasi. Karst yang berupa batu kapur di Gunung Kidul tersebut merupakan salah satu warisan dunia yang terbentuk selama jutaan tahun. Dimungkinkan di dalam goa tersebut terdapat  peninggalan sejarah yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Goa-goa sangat menarik bagi para wisatawan yang gemar akan wisata khusus dan petualangan, penelusuran goa untuk menikmati keindahan stalagtit, stalagnit dan sejenisnya yang menakjubkan oleh karena keunikan hasil bentukan alam.

4. Pemanfaatan  
Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan di daerah perbukitan Gunung Kidul memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, khususnya yang memiliki jiwa petualangan. Karst dengan goa-goa dan bentukan batu kapur yang khas dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti misal penelitian, pengembangan ilmu poengetahuan dan pendidikan. Sebagai lokasi wisata khusus, serta merupakan tempat tersimpannya berbagai bentuk keindahan karst yang menyerupai ukiran/relief.  Di satu sisi kawasan karst banyak menyimpan air, yang bermanfaat untuk berbagai kepentingan mahluk hidup di sekitarnya. Juga batuan kapur tersebut berguna sebagai bahan industri semen, keramik dan lain sebagainya, yang dapat memberikan lapangan kerja dan usaha serta meningkatkan pendapatan bagi masyarakat di sekitarnya. Yang tentunya dalam pengelolaan dan pemanfaatannya tersebut tetap bijaksana dengan memperhatikan kelestarian alam sekitarnya
Keberadaan satwa Kera ekor panjang kiranya menambah keunikan tersendiri kawasan tersebut, yang dapat menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Sementara itu Bird watching bermanfaat bagi para wisatawan untuk menikmati dan mempelajari berbagai jenis burung dengan segala kehidupannya.

5. Transportasi dan Aksesbilitas
         Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan yang berada di bagian Selatan Yogyakarta tersebut berjarak sekitar 50 km dari kota Yogyakarta, dan dapat ditempuh selama 1 jam dengan kendaraan umum, baik roda ampat maupun roda dua.
DESA WISATA FAUNA KETINGAN

1. Keadaan Umum
    Desa Ketingan adalah salah satu desa wisata yang dimiliki Kabupaten Sleman. Dusun ini berada di Desa Tirtoadi, Mlati, Yogyakarta, di lereng Gunung Merapi.  Merupakan habitat ribuan burung Kuntul dan Blekok sejak tahun 1977. Yang kala itu bertepatan dengan kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Kanjeng Ratu Hemas secara khusus ke desa tersebut untuk meresmikan jalan aspal yang berada di tengah dusun hasil swadaya warga.  Ditetapkan sebagai Desa Wisata pada tahun 2000 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X
    Satwa Kuntul dan Blekok tersebut berhabitat di pepohonan bambu, melinjo, johar, flamboyan, sengon dan pohon lain yang berada di tepian sungai, pematang sawah dan kebun di sekitar pemukiman penduduk.  Interaksi antara warga dan burung merupaka bukti adanya kepedulian yang dimiliki warga Ketingan.  Kemitraan dan kepedulian menjaga menjaga lingkungan dan habitat inilah yang mengantarkan Dusun Ketingan menjadi salah satu dusun konservasi sekaligus desa wisata di Yogyakarta.    

2. Potensi Kawasan
    a. F l o r a
    Tanaman yang banyak dijumpai di dusun wisata Ketingan merupakan tanaman hasil dari penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan  hidup dan berbagai keperluan rumah tangga, seperti pohon Melinjo, Johar, Bambu, Flamboyant dan lain sebagainya.  Khususnya pohon melinjo dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku pembuatan emping, sedangkan bambu untuk keperluan bahan bangunan dan kerajinan secara tradisional.
  
      b. F a u n a
     Jenis fauna yang mendominasi di dusun Ketingan adalah burung Kuntul (Egreta) dan Blekok, diperkirakan telah mencapai jumlah lebih dari 10.000 ekor. Sedangkan jenis burung lain yang masih terlihat di desa tersebut antara lain burung Kutilang, Perkutut, Tekukur, Kepodang dan jenis burung-burung kecil lainnya.   

3. Potensi Lain
          Dusun Ketingan sebagai salah satu lokasi wisata fauna yang terdapat di Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman Provinsi D.I.Yogyakarta Lokasi ini memiliki potensi sebagai lokasi pengembangan wisata, karena memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Keberadaan ribuan burung Kuntul dan Blekok menarik perhatian, khususnya di pagi dan sore hari, ketika gerombolan burung-burung tersebut keluar dari sarangnya untuk mencari makan  dan atau ketika burung-burung tersebut datang untuk bersarang seusai mencari makan. Burung Kuntul dan Blekok berputar-putar mengitari desa, membentuk berbagai formasi sambil mengeluarkan suara yang khas. Formasi burung seolah bagai segerombolan pesawat yang sedang berakrobatik. Kejadian itu telah banyak menarik perhatian penduduk sekitar maupun wisatawan yang berkunjung ke Dusun Ketingan.
          Disamping potensi satwa, dusun Ketingan juga memiliki kegiatan seni dan budaya tradisional yang masih dipertahankan oleh masyarakat seperti Jathilan, Gejog Lesung dan Pek bung, juga adanya kegiatan pembuatan emping melinjo, kerajinan bambu dan jamu secara tradisional. Sedangkan fasilitas yang tersedia bagi wisatawan antara lain adalah bird watching (menara pangamatan burung), pemandu lokal dan tersedia juga home stay yang relatif murah.

4. Pemanfaatan     
          Desa wisata fauna Ketingan disamping sebagai desa konservasi sebagai habitat burung Kuntul dan Blekok, juga dapat dimanfaatkan sebagai lokasi penelitian, pengembangan ilmu serta pendidikan tentang satwa tersebut. Suasana pedesaan yang asli dan jauh dari keramaian memberikan kesan tersendiri bagi para wisatawan, bahkan wisatawan asing sering dijumpai menginap di kawasan ini.  Dusun Ketingan juga berpotensi sebagai lokasi pengembangan wisata

5. Transportasi dan Aksesbilitas    
         Dusun wisata fauna Ketingan berada 10 km dari kota Yogyakarta, dan 3 km dari jalan Magelang, dapat ditempuh dengan kendaraan umum baik roda empat maupun roda dua dengan waktu sekitar 15 menit.


DESA WISATA TRUMPON

1. Keadaan Umum
        Kawasan wisata ini terletak di Desa Mardikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta. Merupakan salah satu daerah penghasil buah Salak. Disamping sebagai lokasi wisata, Trumpon merupakan areal berkemah, outbond, tracking dan memancing yang banyak dimanfaatkan oleh berbagai kalangan dalam menikmati panorama alam serta refreshing.
       Trumpon memiliki topografi landai hingga berbukit, untuk itu dalam kawasan ini tersedia sarana gardu pandang sebagai tempat wisatawan menikmati keindahan alam di sekitarnya. Dari sini pengunjung dapat menikmati panorama lima gunung  sekaligus yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Pegunungan Menoreh dan Pegunungan Seribu.  Alam pegunungan tersebut sangat menarik perhatian wisatawan, disamping kesegaran dan kesejukan hawa serta kelestarian lingkungan di sekitarnya.

2. Potensi dan Pemanfaatan  
       Potensi hamparan kebun Salak merupakan tujuan wisata agro bagi kelurga untuk refreshing, berbelanja sekaligus menikmati buah Salak tersebut.  Keasrian alam sekitar mendatangkan dan sekaligus sebagai habitat berbagai jenis burung, kupu-kupu maupun serangga. Camping garound dan sarana tracking maupun tempat pemancingan sangat baik untuk melaksanakan pendidikan lingkungan kepada anak-anak sekolah maupun mahasiswa dan remaja pada umumnya, serta keluarga.
    Sementara bagi wisatawan yang gemar akan keindahan bentang alam dapat memanfaatkan gardu pandang sambil menghirup kesegaran dan kesejukan udara di kawasan tersebut.  Kawasan Wisata Desa Trumpon sering dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara, karena lokasi wisata ini disamping menarik juga relatif aman dan mudah ditempuh dari kota Yogyakarta, khususnya di hari libur panjang, anak-anak sekolah dari berbagai kota senang berkunjung ke lokasi ini. Menikmati perkebunan Salak dan keindahan alam lima pegunungan yang sulit dijumpai di daerah wisata lainnya, konon cerita hanya ada di Desa Wisata Trumpon ini. 

TAMAN HUTAN RAYA BUNDER

1. Keadaan Umum
        Secara administrasi, kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder terletak di Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul Provinsi D.I Yogyakarta.  Yaitu di tepi jalan raya Yogya-Wonosari,  sepanjang perjalanan menuju Tahura ini banyak dijumpai buah Sawo dan kerajinan kayu yang dijajakan oleh penduduk di sekitarnya.  Sebelum memasuki kawasan di tepi hutan Bunder terdapat rest area (tempat peristirahatan), shelter, ruang pertemuan, tempat bermain anak-anak, warung dan toko untuk kebutuhan sehari-hari, naik bagi pengunjung maupun masyarakat di sekitarnya.
       Kawasan ini memiliki luas sekitar 17 hektar,  seluas 6,2 hektar merupakan areal penangkaran Rusa Jawa (Cervus timorensis) . Sejak tahun 1999 dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Yogyakarta bekerjasama dengan kelompok tani yang berada di sekitarnya, dan saat ini rusa tersebut berjumlah lebih dari 30 ekor. Arboretum seluas 10,7 hektar dengan berbagai tanaman kehutanan. Selain itu terdapat persemaian dan pabrik pengelolaan minyak Kayu Putih ”Sendang Mole”.
     Tahura Bunder memiliki topografi landai dan berbukit, di dalam kawasan ini sebanyak 40 jenis tanaman yang telah teridentifikasi, dan beberapa jenis satwa jenis burung yang dilindungi oleh Undang-undang.  Terdapat juga bukit gunung tua, dari sini kita dapat melihat dan menikmati pemandangan yang indah, berupa lembah ngarai yang terhampar di bawah, dan alam pedesaan yang alami hingga kaki bukit.  Di sini kita juga dapat melihat secara baik keindahan sun rise (matahari terbit di pagi hari) dan sunset (saat matahari terbenam di waktu senja).

2. Potensi Kawasan
    a. F l o r a
    Kawasan Tahura Bunder memiliki berbagai Jenis tanaman, dan yang telah teridentifikasi sebanyak 40 jenis, diantaranya adalah tanaman Bendo, Timoho, Jati Kluwih, Glingsem, Kiputri, Mundu, Akasia, Kayu Putih, obat-obatan,  Adenium, buah-buahan dan lain sebagainya.

     b. F a u n a
      Untuk jenis satwa yang terdapat dalam kawasan Tahura Bunder antara lain adalah Rusa Jawa (penangkaran), Burung Madu Srigati (Neclarinia jugularis), Elang Ular Bido (Spezaetus cheela), Alap-alap Sapi (Falco sylvatica), Elang alpacina (Accipter soloensis), Raja Udang (Alcade meninting), Burung Madu Kelapa (Anthreptes malaccensis), jenis burung-burung kecil, beberapa serangga,  Ular, Tupai/Bajing dan lain sebagainya.

3. Potensi Lain  
       Disamping memiliki potensi flora dan fauna, Tahura Bunder juga memiliki potensi lain seperti penangkaran Rusa Jawa, Arboretum dengan berbagai tanaman kehutanan, persemaian, pabrik pengelolaan Minyak Kayu Putih, keindahan bentang alam serta keunikan dan kekhasan lain yang dapat dikembangkan sebagai kawasan konservasi maupun lokasi wisata alam. Kawasan ini juga berpotensi sebagai areal penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan tentang lingkungan hidup serta menunjang budidaya maupun budaya bagi masyarakat di sekitarnya.

4. Pemanfaatan 
Hutan Bunder bermanfaat sebagai kawasan konservasi ex-situ untuk perbanyakan jenis satwa liar yang dilindungi, seperti Rusa Jawa yang sekarang masih berlangsung dan dikelola oleh kelompok tani di sekitarnya. Keberadaan Arboretum dalam kawasan Tahura tersebut dapat bermanfaat sebagai lokasi penelitian ilmiah, pengembangan ilmu pengetahuan. Camping ground sebagai areal perkemahan merupakan lokasi yang baik untuk  pendidikan tentang lingkungan hidup. Sedangkan areal bermain bagi anak-anak,  sangat baik sebagai lokasi wisata keluarga yang relatif nyaman,  aman dan terjangkau.
Keberadaan kerajinan kayu dan penjualan buah-buahan oleh penduduk di sekitar kawasan mendukung pariwisata Tahura Bunder. Terlebih adanya keindahan bentang alam di Gunung Tua memberikan arti dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke kawasan Tahura Bunder.  Kawasan ini masih banyak memberikan peluang usaha, baik Pemda, pihak swasta maupun masyarakat di sekitarnya. Tentunya perlu adanya koordinasi yang baik dari para pihak, terencana dan ramah lingkungan dalam pengelolaannya, sehingga sebagai kawasan konservasi dan wisata alam dapat berjalan secara seimbang dan berkesinambungan guna memberikan peluang usaha dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya serta kelestarian kawasan Tahura Bunder itu sendiri

5. Transportasi dan Aksesbilitas
     Kawasan Tahura Bunder relatif dekat dengan kota Yogyakarta, berjarak sekitar 30 km (45 menit) melalui jalur jalan raya Yogyakarta-Wonosari, dan 10 km (15 menit) dari arah Wonosari. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua.  

HUTAN PENDIDIKAN WANAGAMA

1. Keadaan Umum
Kawasan ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul, dan merupakan hutan yang telah lama dikenal banyak orang hingga manca negara. Selain sebagai hutan pendidikan dan penelitian Wanagama juga dikenal sebagai hutan wisata. Obyek yang menarik di Hutan Pendidikan Wanagama ini antara lain berupa air terjun yang muncul saat musim hujan, selain itu dikenal sebagai museum kayu, terdapat juga persemaian dengan berbagai tanaman kehutanan, perlebahan serta adanya wisma-wisma yang cukup asri.
Daya tarik hutan tersebut banyak menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan bermalam dalam kawasan ini, diantaranya Pangeran Charles beserta istri Lady Diana pernah menginap di hutan Wanagama ini. Keberadaan hutan ini cukup mencolok dengan keadaan sekitarnya, dimana daerah Gunung Kidul dikenal akan tandusnya. Sehingga kawasan ini merupakan sebuah upaya yang gigih dalam mewujudkan alam yang asri serta bermanfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
Sungai Oyo yang mengalir dalam kawasan Hutan Wanagama memiliki nilai sejarah yang tinggi. Di sepanjang aliran sungai tersebut terdapat singkapan tanah dan batu geologis yang sangat menarik, adanya Watu Sipat yang konon merupakan peninggalan Sunan Kalijogo. Sementara pepohonan di sekitarnya nampak asri, sehingga pemandangan alam di kawasan Hutan Pendidikan Wanagama ini terlihat indah, berhawa sejuk dengan udara yang segar memberikan arti tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini.

2. Potensi dan Pemanfaatan  
Hutan Pendidikan Wanagama memiliki berbagai tanaman hutan, diantaranya adalah Rasamala, Akasia, Jati, Pinus, Mahoni, dan lain sebagainya. Sedangkan satwa yang trerlihat dalam kawasan ini adalah jenis burung, kupu-kupu, serangga dan di sekitar sungai terkadang terlihat biawak dan ular.  Keasrian hutan ini memberikan kesejukan dan udara yang segar, dan bentang alam yang indah serta menarik untuk dikunjungi sebagai lokasi wisata.
Keanekaragaman hayati serta ekosistem kawasan Hutan Wanagama bermanfaat sebagai lokasi penelitian, dan pendidikan lingkungan hidup. Juga berguna untuk pengembangan  dan perlindungan khususnya berbagai jenis tanaman kehutanan, pengembalaan  dan pemeliharaan berbagai jenis lebah madu. Disatu sisi kawasan ini berfungsi sebagai penyimpan dan pengatur tata air bagi daerah di sekitarnya.

3. Transportasi dan Aksesbilitas     
        Untuk menuju kawasan Hutan Pendidikan Wanagama di Gunung Kidul dapat ditempuh dengan kendaraan umum, berjarak sekitar 40 km (1 jam perjalanan) dari yogyakarta ke arah selatan, dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat atau dua.

PESONA PUNCAK SUROLOYO

1. Keadaan Umum
        Suroloyo terletak di perbukitan Menoreh, tepatnya di Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Merupakan kawasan tertinggi di pegunungan Menoreh dengan ketinggian mencapai 1.091 meter dpl. Memiliki tiga buah gardu pandang yang dikenal dengan istilah ”Pertapaan” dengan masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran, dan Suroloyo merupakan lokasi pertapaan yang memiliki 287 anak tangga.
        Puncak Suroloyo menyimpan mitos yang diyakini sebagai ”Kiblat Pancering Bumi” (pusat dari empat penjuru angin) di tanah Jawa, masyarakat percaya bahwa puncak ini merupakan pertemuan dua garis yang ditarik dari Utara ke Selatan dan dari arah Barat ke Timur Pulau Jawa.

2. Potensi dan Pemanfaatan
        Letaknya yang tinggi, Suroloyo memiliki keindahan alam yang menakjubkan. Dari sini kita dapat memandang hamparan hijau bak permadani alam, serta kemurnian alam pedesaan,  bahkan Candi Borobudur dapat dilihat dari puncak ini. Selain itu pengunjung dapat menikmati keindahan Gunung Merapi dan Merbabu serta Kota Magelang.  Udara yang cukup dingin memberikan kesegaran dan kesejukan tersendiri bagi pengunjung. Sehingga lokasi ini baik untuk dijadikan sebagai kawasan wisata alam.  Sedangkan bagi wisatawan khusus, lokasi ini baik untuk bersemedi dan atau bertapa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

3. Transportasi dan Aksesbilitas
Puncak Suroloyo terletak 45 km dari kota Yogyakarta, dan dapat ditempuh dengan kendaraan umum baik roda empat maupun roda dua.


KAWASAN WISATA GOA

 U m u m
  Goa, memang memiliki kekhasan tersendiri, bentukan dari endapan batu karang yang terjadi selama jutaan tahun mempunyai keindahan dan keunikan yang menakjubkan. Berbagai bentuk stalagtit dan stalagnit maupun biota yang ada di dalamnya mengundang berbagai disiplin ilmu untuk melakukan penelitian tentang keadaan, kehidupan serta ekosistem karst. Beberapa diantaranya memiliki aliran sungai atau sumber air yang  bersih dan dan segar,  baik untuk dimanfaatkan sebagai air meneral dan atau kebutuhan sehari-hari bagi penduduk di sekitarnya. Sementara yang lain ada yang merupakan habitat satwa, seperti misal kelelawar, kera atau jenis serangga. Di sisi lain bentukan batu kapur tersebut cukup rentan keberadaannya oleh kegiatan manusia, karena karst juga menyimpan bahan baku bangunan yang bernilai ekonomi tinggi, sedangkan  dalam pembentukannya memerlukan waktu dan proses yang panjang.
        Yogyakarta sebagai salah satu daerah yang masih banyak menyimpan potensi kawasan karst, bahkan pada tahun 1994 oleh International Union of Speleology karst Gunung Kidul diusulkan sebagai warisan alam dunia (World Natural Heritage)  yang merupakan  bentangan karst tropik dan ditandai oleh fenomena khas berupa adanya bukit-bukit karst berbentuk kerucut (Conical limstone), Kubah, Lembah-lembah (Doline, Polije), serta adanya goa-goa yang dilengkapi dengan stalagtit dan stalagmitnya serta adanya sungai di bawah tanah . Keunikan sekaligus keindahan tersebut telah menarik banyak perhatian para peneliti,  wisatawan, khususnya wisatawan dengan minat khusus yang gemar akan petualangan.
        Beberapa Goa di Yogyakarta yang telah lama dikenal oleh wisatawan diantaranya seperti :

a. GOA SELARONG    
           Goa ini dikenal sebagai markas besar laskar Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830. Selain memiliki keindahan akan stalagtit dan stalagnit serta ornamen-ornamen menakjubkan di sekujur dinding, juga merupakan goa wisata peninggalan sejarah yang mengandung nilai luhur. Yaitu sebagai program pembinaan kepada generasi muda dalam menjunjung semangat patriotisme dan nasionalisme seperti yang telah dilakukan oleh Pangeran Diponegoro beserta para laskarnya dalam rangka mempertahankan martabat bangsa dan negara. Dengan menunjukkan perlawanannya terhadap penjajahan Belanda di kala itu. Berjuang demi keadilan untuk menuju kemerdekaan,  dan berani mengorbankan jiwa dan raganya sebagai patriot.    
               Goa Selarong  berjarak 13 km dari kota Yogyakarta,  di sekitar goa terdapat gardu pandang untuk wisatawan yang akan menikmati keindahan lembah yang indah di bawahnya. Selain itu alam pedesaan di sekitarnya banyak terdapat tanaman Jambu Klutuk yang ditanam oleh masyarakat secara turun temurun, maka desa tersebut juga dikenal dengan buah jambu yang banyak dijajakan di sekitar kawasan.

b. GOA CERME
      Goa yang memiliki panjang 1.200 meter ini terletak di Dusun Srunggo, Desa Seloparmioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul yang berjarak 22 km dari kota Yogyakarta, dan dapat ditempuh dengan kendaraan umum baik roda empat atau roda dua. Goa Cerme juga dikenal sebagai tempat pertemuan yang dipergunakan oleh Wali Songo pada awal penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Cerme berasal dari kata ”Ceramah”  yang dilakukan oleh Wali Songo dan pengikutnya pada waktu merencanakan pendirian Masjid Agung di Demak.
   Di dalam goa ini terdapat aliran air yang jernih dan sejuk, serta keunikan stalagtit dan stalagnitnya, sehingga sering dimanfaatkan sebagai lokasi wisata khusus yaitu penelusuran lorong goa oleh wisatawan atau pecinta alam yang gemar akan petualangan, khususnya petualangan goa. Di sekitar goa tersebut terdapat beberapa buah goa yaitu Goa Dalang, Goa Ledhek,  Goa Badut dan Goa Kaum yang sering dipergunakan orang untuk semedi dari berbagai tempat.  

c. GOA KISKENDO
            Goa Kiskendo terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo.  Goa alam di pegunungan Menoreh ini berada di ketinggian 1.200 m dpl, sehingga memiliki hawa yang sejuk, dan memiliki panorama di sekitarnya yang indah.  Memiliki legenda tentang Istana Goa Kiskendo yang merupakan fragmen dari cerita Ramayana, merupakan tempat tinggal raksasa Mahesa Sura yang berkepala kerbau dan Lembu Suro yang berkepala sapi. Goa ini adalah sebagai tempat pertemuan Subali dan Sugriwa dengan Mahesasuro dan Lembusuro, serta arena pertempuran Subali dengan Lembu Suro.
Disamping memiliki daya tarik stalagtit dan stalagnit, Kiskendo juga memiliki daya tarik berupa relief di dinding pada pintu masuk lokasi obyek serta pendopo sebagai tempat pertemuan atau peristirahatan abgi pengunjung kawasan. Juga terdapat sumber mata air yang tidak pernah kering. Sedangkan di Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh terdapat penangkaran Rusa Jawa yang diprakarsai oleh BKSDA Yogyakarta, tapi saat ini ditangani oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang dikelola oleh kelompok tani di sekitarnya.
 Di sekitar goa banyak terdapat  pohon Pinus, sehingga menimbulkan kesejukan tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut, disertai suara merdu burung-burung berkicau di alam yang asri itu, membuat wisatawan semakin nyaman, dan menjadikan kawasan ini cocok sebagai lokasi wisata alam.  


d. GOA SEROPAN
        Goa ini terletak di Kecamatan Semanu, Wonosari, Yogyakarta, di tepi jalan raya Wonosari – Rangkop.  Salah satu keunikan dan keindahan yang menjadi daya tarik goa ini adalah  di dalamnya terdapat air terjun setinggi 7 meter. Tentunya sumber air di sini cukup melimpah, yang dapat dirasakan kesejukan, kesegaran dan kejernihannya oleh wisatawan yang berkunjung ke goa ini.  Keunikan dan kekhasan tidak berbeda dengan layaknya goa-goa yang lain, yaitu lekuk-lekuk dinding goa dengan warna coklat kekuningan hingga abu keputihan seolah menjulai bak gordyn dalam gedung mewah, sementara stalagtit dari atap goa menggantung bagai lampu kristal yang indah, dan di sekitarnya berdiri tegar karang dengan aneka bentuk dan ukuran seperti layaknya patung-patung hasil karya seniman besar menghiasi ruang pameran.
       Keindahan sekaligus keunikan dari bentukan batu kapur yang telah berusia jutaan tahun tersebut, memberikan nilai tersendiri sebagai kawasan wisata karst, bagi wisatawan khusus yang gemar akan tantangan serta petualangan. 
               

KAWASAN WISATA ALAM PANTAI

U m u m
          Pantai, merupakan salah satu wisata alam yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Di sini kita dapat memandang lepas laut yang membiru diselingi tiupan angin dan deburan gelombang ombak memutih bak buih yang bergulung-gulung. Pasir berwarna putih atau abu-abu lembut sepanjang pantai memberikan keindahan dan kenyamanan. Semua itu menyatu membentuk panorama yang menarik.
        Pantai Selatan merupakan salah satu pantai yang dikenal dengan ombaknya yang besar, di satu sisi dikenal banyak menyimpan keunikan dan cerita misteri di kalangan masyarakat yang berada di sekitarnya. Teluk maupun karang di sekitar pantai menyimpan berbagai potensi, baik sebagai kawasan wisata, perikanan, habitat ikan hias dan penyu maupun biota laut dan untuk berbagai kegiatan lainnya. Potensi ini perlu untuk dikembangkan guna mendukung kawasan pantai sebagai lokasi wisata alam.
    Yogyakarta banyak terdapat pantai yang merupakan salah satu tujuan wisata baik para wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara. Pantai-pantai tersebut antara lain sebagai berikut :
 
  1. PANTAI SAMAS
          Pantai ini terletak di Desa Srigading, Sanden, berjarak 24 km dari kota Yogyakarta. Dikenal memiliki ombak yang besar serta delta-delta, sungaidan danau air tawar yang membentuk telaga, berfungsi sebagai lokasi pengembangan perikanan, penyu, udang dan untuk aareal pemancingan.
       Di pantai Samas pada setiap liburan panjang dan Hari Raya Idul Fitri diselenggarakan Upacara Kirab ”Tumuruning Maheso Suro” yaitu labuan sedekah laut dan dan pentas seni budaya oleh Kraton Yogyakarta serta masyarakat di sekitarnya.  Sedangkan fasilitas yang tersedia antara lain penginapan, rumah makan, SAR, warung souvenir, musholla, MCK, dan areal parkir. Pantai ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun pribadi, baik roda empat ataupun roda dua.
       Pantai Samas dikenal memiliki pantai yang paling panjang di antara pantai-pantai yang ada di Yogyakarta, sehingga pantai ini merupakan salah satu pantai yang banyak dikunjungi para wisatawan karena panorama di sini sangat indah, terlebih panorama senja (sunset) warna merah dan lembayung begitu memukau menghiasi pantai Samas tersebut.  Di sekitar pantai terdapat hutan magersari dengan jenis tanaman kehutanan, cemara udang dan berbagai tanaman sayuran yang dikelola oleh masyarakat di sekitarnya, serta dibangun bak penampung dan sumur renteng.
     Samas sebagai salah satu tempat pendaratan dan bertelurnya Penyu. BKSDA bersama masyarakat sekitar melakukan kegiatan konservasi penyu yang telah mengantarkan salah seorang petani sebagai Kader Konservasi Tingkat Nasional pada tahun 2007. Kawasan ini sangat baik sebagai lokasi wisata alam pantai, dan pengembangan perikanan, penangkaran penyu sekaligus lokasi pemancingan serta agrowisata.
           Pantai lain yang sering dipergunakan sebagai tempat pendaratan dan bertelurnya Penyu di Yogyakarta adalah Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Sanglen, Pantai Ngrumput, Pantai Kapen, Pantai Wedi Ombo, Pantai Jungwok, Pantai Pulutan (Greweng), Pantai Sedahan dan Pantai Dadapan.

 2. PANTAI SIUNG
      Pantai ini terdapat di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus yang berjarak 35 km dari Wonosari (Gunung Kidul) atau sekitar 60 km dari Kota Yogyakarta, dapat ditempuh selama 60 menit – 90 menit dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua. Pantai Siung merupakan cekungan laut yang diapit oleh dua bukit dengan tebing yang terjal yang dihiasi oleh ornamen-ornamen indah perbukitan karst.
     Alam di sekitarnya merupakan habitat Kera Ekor Panjang, lingkungan yang asri dengan hamparan pasir putih dengan ombak yang tidak begitu besar. Sehingga panorama alam di kawasan pantai Siung ini terlihat indah dan menarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke lokasi ini.  Sedangkan masyarakat di sekitar pada waktu-waktu tertentu menggelar atraksi tradisional yang berupa Seni Doger.
     Disamping sebagai tujuan wisata alam pantai, Siung dikenal sebagai lokasi olah raga ekstrim oleh para pecinta alam, yaitu Panjat Tebing di keterjalan dua tebing yang mengapit pantai tersebut.  Keindahan tebing dengan aneka relief bebatuan kapur karst tampak bagai tembok raksana, seolah pintu gerbang pantai Siung.  Pantai dengan ombak yang tidak begitu besar ini merupakan salah satu lokasi yang nyaman dan aman bagi para nelayan untuk mencari berbagai jenis ikan. Sehingga wisatawan yang datang dapat menikmati ikan-ikan segar di warung-warung milik masyarakat sekitar dengan harga yang relatif murah, atau membeli ikan-ikan tersebut untuk dibawa pulang kerumah masing-masing sebagai buah tangan.
     Pantai Siung mulai dikenal wisatawan manca negara sebagai salah satu lokasi wisata yang memiliki daya pesona tersendiri, karena kawasan ini relatif masih banyak menyimpan keaslian serta memiliki lingkungan yang bersih serta asri.

 3. PANTAI KRAKAL  
     Krakal, dikenal sebagai pantai yang paling indah di seluruh pantai di Pulau Jawa. Memiliki bentuk pantai yang landai, berpasir putih membentang sepanjang 5 km dengan ombak yang cukup besar. Pantai Krakal merupakan ciri karst, sebagai daerah dasar laut yang oleh proses pengangkatan yang terjadi pada kerak bumi, pada akhirnya muncul sebagai dataran tinggi, dan karang yang dulu sebagai rumah binatang atau biota laut yang hidup pada masa itu. Maka tidak mengherankan apabila di pantai ini memiliki air yang begitu jernih, sehingga ikan-ikan hias dengan berbagai bentuk maupun warna indah mudah dilihat di sekitar karang-karang yang berada di pantai tersebut.
     Krakal juga dikenal sebagai perkampungan wisatawan, karena di daerah ini sering dipergunakan untuk menginap (di rumah penduduk)  oleh para wisatawan, khususnya wisatawan manca negara oleh karena keindahan pantai tersebut. Di sekitarnya banyak terdapat bukit-bukit kapur dan teras dengan batu karang, terlihat menawan yang menambah keindahan panorama alam pantai Krakal.
    Pantai Krakal berjarak 65 km dari kota Yogyakarta, oleh karena kondisi jalan menuju pantai merupakan daerah perbukitan dengan jalan yang berliku-liku di antara bebatuan karang, maka dapat ditempuh selama 3 jam dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.               

4. PANTAI BARON
       Pantai ini terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Wonosari (Gunung Kidul), berjarak 40 Km dari kota Yogyakarta. Di sekitarnya merupakan daerah berbukit kapur yang dikenal dengan pegunungan Seribu (Kawasan Karst). Merupakan teluk yang diapit oleh dinding bukit yang hijau dengan tanaman yang didominasi oleh pohon kelapa. Selain itu juga merupakan muara dari aliran sungai di bawah batu karang yang cukup jernih. Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar, tapi pengunjung masih dapat berenang sampai batas yang telah ditentukan.
       Lokasi ini sering dimanfaatkan sebagai areal lintas alam bagi pecinta alam dan pramuka serta pendidikan lingkungan bagi para remaja dari berbagai kota di sekitarnya.  Keberadaan dua bukit hijau yang mengapit pantai Baron disertai Pegunungan Seribu yang berupa bebatuan kapur di sekitarnya menjadikan kawasan ini menampilkan panorama yang cukup unik dan mengagumkan, sehingga pantai ini sebagai salah satu pantai tujuan wisata bagi para wisatawan.
     Alam pantai yang memiliki aliran sungai di bawah karang merupakan keunikan tersendiri dan jarang ditemui di tempat lain. Air yang cukup jernih tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya untuk berbagai keperluan sehari-hari, sekaligus bagi wisatawan yang berkunjung baik untuk mandi maupun sekedar merasakan kesegaran air tersebut. Keberadaan pohon kelapa di sekitar pantai memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sekitarnya, kelapa muda dijajakan di sekitar pantai untuk wisatawan yang berkunjung dengan harga relatif murah, minum es kelapa  muda di terik matahari dan tiupan angin di antara keindahan panorama pantai Baron dengan deburan ombak di antara birunya samudra dan cakrawala. Wisatawan juga dapat menikmati aneka ikan segar maupun siap saji, dengan harga terjangkau, termasuk menu khas Pantai Baron yaitu Sop Kakap.

 5. PANTAI PARANG TRITIS
        Pantai yang paling terkenal di Yogyakarta ini berjarak 27 km dari pusat kota, dan dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua.  Merupakan pantai yang banyak memiliki peninggalan sejarah yang berkaitan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul atau Ratu Penguasa Laut Selatan. Juga sebagai kawasan wisata alam yang sekaligus sebagai kawasan wisata budaya dan ziarah.
      Pantai Parang Tritis memiliki sumber air panas  bermineral yang tidak pernah kering sepanjang tahun yang dikenal dengan ”Parang Wedang”, sedangkan tempat yang paling dikeramatkan dan sangat sakral adalah ”Parang Kusumo”. Lokasi ini merupakan tempat pertemuan Para Raja Yogyakarta dengan Loro Kidul pada  batuan  yang merupakan sisa kegiatan vulkanis masa silam yaitu batuan intrusi di tengah hamparan pasir pantai dengan nama ”Watu Gilang”, di sekitar lokasi ini disediakan fasilitas berupa Masjid, Rumah Makan, dan Penginapan.
     Kawasan ini juga memiliki dataran tinggi yang dikenal dengan ”Gambirowati”  di sini pemandangannya sangat indah, di sisi lain terdapat ”Bukit Gupit” yang sering dipergunakan sebagai lokasi start Gantole. Di sekitar pantai ini juga terdapat makam dari Syeh Bela-Belu di Bukit Pemancingan,  merupakan makam yang keramat dan sering dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai wilayah.  
           Parang Tritis memang mempunyai berbagai potensi yang menarik, dari keindahan, keunikan, keanehan hingga misteri yang telah lama hidup dalam kawasan tersebut. Hal ini menjadikan Pantai Parang Tritis semakin dikenal dan dikunjungi banyak wisatawan domestik maupun manca negara.  Sehingga fasilitas yang tersedia di kawasan ini sangat lengkap, seperti penginapan, rumah makan, warung souvenir, bumi perkemahan dan lain sebagainya, guna memenuhi kebutuhan para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini.
           Yang paling menarik dari potensi di Parang Tritis adalah adanya ”Gumuk Pasir” yang merupakan sebuah warisan dunia (World Heritage) sebagai bentukan endapan pantai yang mencapai ketinggian 20 meter dpl. Di dunia hanya terdapat 4 dan salah satunya di Indonesia yaitu di Parang Tritis Yogyakarta. Lokasi ini merupakan lanoratorium alam dari berbagai cabang ilmu kebumian fenomena alam gumuk pasir membentuk ekosistem yang khas. Maka lokasi ini merupakan kawasan konservasi yang perlu untuk dipertahankan keberadaannya. Disamping keunikannya lokasi ini memiliki panorama alam pantai yang sangat menakjubkan sebagai anugrahNYA kepada Bangsa dan Negara ini.  

6. PANTAI KUKUP
      Pantai ini berdampingan dengan Pantai Baron, berjarak sekitar 1 km. Merupakan salah satu pantai di Indonesia yang sangat mempesona wisatawan, berpasir putih kekuning-kuningan serta memiliki Aquarium ikan hias air laut. Di sekitar pantai merupakan bukit-bukit karang dengan goa-goa yang menjorok ke laut memberikan keteduhan bagi ikan-ikan hias di bawahnya, dan  pantai yang memiliki air jernih di sekitar batu-batu karang tersebut merupakan habitat berbagai jenis, warna dan bentuk ikan hias yang sangat mempesona.
     Daya tarik lain pantai ini adanya bukit-bukit karang sepanjang pantai hingga pantai Baron yang merupakan bentang alam dengan segala keindahannya. Ombak yang membentur kaki-kaki bukit menimbulkan suara khas yang diselingi tiupan angin pantai, pasir putih membentang diantara birunya samudra dan cakrawala luas  dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke pantai Kukup ini. Sementara jalan menuju ke pantai ini banyak ditemui pemandangan indah dari Pegunungan Seribu dan hijaunya alam di tepian jalan tersebut.  
 7. PANTAI WEDI OMBO
           Wedi Ombo terdapat di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, berjarak 46 km dari Wonosari, atau sekitar 80 km dari kota Yogyakarta, dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.  Sepanjang jalan menuju pantai ini merupakan daerah perbukitan kapur dari Pegunungan Seribu di kawasan Selatan.  Pantai Wedi Ombo berbentuk teluk dan landai dengan pasir putih di sepanjang pantai, dikelilingi bukit kapur dan pepohonan yang rindang, sehingga pantai ini terlihat asri, nyaman dan sejuk.
          Sekitar 1,5 km dari pantai terdapat pulau Kalong, dan pulau tersebut merupakan habitat dan tempat hidup dari  ribuan kelelawar, hal ini memberikan nuansa keunikan sekaligus keindahan tersendiri dari kawasan karst dan pantai. Pantai ini memang merupakan salah satu pantai yang masih alami dan jauh dari pemukiman serta keramaian. Namun semua itu membuat pantai ini semakin digemari banyak wisatawan karena kemurnian dan kesederhanannya tersebut. Terlebih letaknya yang terbuka baik dari arah bukit maupun pesisir pantai, memungkinkan bagi wisatawan untuk menikmati panorama sunset yang sempurna. Sedangkan kesegaran udaranya dipercaya dapat membantu dalam penyembuhkan penyakit asma.  Sedangkan bagi wisatawan yang gemar akan memancing dapat melakukannya di pantai ini, karena pada saat-saat tertentu banyak ikan Panjo yang muncul sepanjang pantai. Dalam setahun sekali masyarakat setempat menggelar adat budaya Ngalangi, yaitu upacara prosesi menangkap ikan secara bersama-sama dengan cara menghalau dengan mempergunakan gawar yang terbuat dari akar pohon mawar.   
          Adanya satwa kelelawar di kawasan Wedi Ombo menunjukan adanya keanekaragaman hayati dan ekosistem yang perlu untuk dilindungi, oleh karena itu kawasan ini sebagai kawasan konservasi yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam. Baik untuk meningkatkan PAD maupun mendukung pemberdayaan masyarakat di sekitarnya dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan melalui wisata alam pantai Wedi Ombo.  Dalam satu kawasan dengan pantai ini terdapat Pantai Gremeng, dan Pantai Jungwok.
          Pantai Wedi Ombo dan Jungwok merupakan salah satu lokasi tempat pendaratan dan bertelurnya Penyu. Oleh karena itu BKSDA Yogyakarta bekerjasama dengan masyarakat di sekitarnya melaksanakan perlindungan terhadap penyu-penyu tersebut sebagai satwa yang dilindungi oleh Undang-undang.

8. PANTAI NGRENEHAN
          Pantai ini terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, berjarak 30 km dari Wonosari atau sekitar 65 km dari kota Yogyakrta, dapat ditempuh dengan kendaraan umum, kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua. Di sekitar pantai ini merupakan hamparan perbukitan kapur yang memiliki pemandangan sangat memukau, merupakan perpaduan serasi dari kawasan karst dan deburan ombak pantai yang menerpa pasir putih, sementara laut biru membentang luas dikejauhan sana.       
       Pantai ini bersebelahan dengan dengan Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan yang merupakan lokasi upacara adat ”Melasti” yaitu upacara tradisonal yang dilaksanakan pada Hari Raya Nyepi. Kawasan pantai Ngrenehan dan sekitarnya merupakan kawasan konservasi kawasan karst yang memiliki keunikan dan keindahan serta mempunyai daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Juga sebagai kawasan yang menarik perhatian para peneliti, sebagai tempat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan budaya tradisional.

9. PANTAI DRINI, CONGOT DAN GLAGAH
        Pantai Drini terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunung Kidul (sekitar 40 Km dari Yagyakarta). Keistimewaan pantai ini terdapat pulau karang yang ditumbuhi pohon Drini, kayunya dapat dipergunakan sebagai penangkal ular berbisa, sedangkan daunnya sebagai bahan camporan untuk kosmetik bagi putri-putri keraton.  Selain itu Pantai Drini memiliki potensi sebagai salah satu lokasi pendaratan dan bertelurnya Penyu. Sehingga merupakan kawasan konservasi pantai yang perlu untuk dijaga dan dilestarikan sebagai pendaratan satwa penyu yang dilindungi Undang-undang.
Pantai Congot dan Glagah letaknya berdampingan satu sama lain yang berjarak tidak lebih sari 1,5 km, terletak di Kabupaten Kulon Progo sekitar 40 km dari kota Yogyakarta.  Glagah dan Congot merupakan pantai yang cukup terkenal di Yogyakarta, karena kedua pantai ini memiliki panorama yang indah dan menarik untuk dijadikan sebagai lokasi wisata alam yang dapat menggugah minat  para wisatawan. Di pantai ini wisatawan dapat menikmati ikan segar siap saji sambil menikmati kesegaran serta kesejukan alam pantai.

10. PANTAI TRISIK
     Pantai Trisik masuk dalam wilayah Kabupaten Kulonprogo dan merupakan deretan pantai Selatan Pulau Jawa. Kawasan ini termasuk dalam potensi wisata pesisir atau pantai karena memiliki potensi wisata alam yang cukup menarik, potensi yang terdapat di Pantai Trisik antara lain adalah wisata pesisir dengan hamparan pasir dan gumuk pasir (Sand dune) yang sangat menarik untuk dikembangkan menjadi laboratorium slam (gumuk pasir). Juga adanya potensi vegetasi khas pantai seperti Keben dan jenis palmae. Potensi perikanan dan tempat pendaratan bagi nelayan, serta sebagai tempat pendaratan Penyu untuk bertelur, selain itu pantai ini memiliki pesona keindahan tersendiri.
     Melihat potensi wisata alam dan sumber daya alam yang ada di kawasan pantai Trisik tersebut perlu adanya pengelolaan yang sejalan dengan pembangunan daerah tanpa mengabaikan aspek konservasi. Pengelolaan pantai Trisik diharapkan mampu meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan bagi masyarakat sekitar kawasan pantai tersebut. Sehingga pengembangan wisata alam di sekitar kawasan konservasi dapat berjalan secara seimbang, dan memberikan peningkatan pendapatan daerah dari sektor pariwisata.   

PUSAT PENYELAMATAN SATWA

1. Keadaan Umum
    Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ) diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 7 Juni 2003 dengan luas 13,9 hektar, terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I Yogyakarta. Didirikan atas kerjasama Ditjen PHKA, Dpartemen Kehutanan, The Gibbon Foundation dan LSM sebagai pelaksananya. Tempat ini didirikan dengan tujuan untuk membantu proses penegakan hukum, peredaran illegal satwa liar yang dilindungi di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
     Sampai dengan tahun 2007 berhasil dikumpulkan sebanyak 498 ekor satwa yang terdiri dari 145 ekor jenis aves, 83 ekor jenis mamalia, dan 270 ekor jenis reptil. Satwa hasil sitaan tersebut dilatih di PPSJ yang selanjutnya untuk diliarkan kembali ke alamnya. Saat ini satwa-satwa tersebut dikelola oleh BKSDA Yogyakarta dibantu oleh tenaga administratif dari PPSJ, sedangkan kegiatan non satwa dikelola oleh Menoreh Green Land.
   Areal ini dilengkapi dengan aula bagi pengunjung untuk menonton film dokumenter tentang satwa, dikarenakan tidak setiap pengunjung dapat masuk ke lokasi PPSJ untuk menyaksikan secara langsung satwa sitaan tersebut,  hal itu dikhawatirkan dapat mengganggu keberadaan satwa.

2.     Pemanfaatan
       Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta mempunyai manfaat sebagai wadah penyelamatan satwa liar yang dilindungi hasil sitaan dari peredaran illegal di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Membantu  dalam proses penegakan hukum yang berlaku tentang satwa liar yang dilindungi undang-undang.
       Lokasi ini juga bermanfaat bagi pendidikan untuk anak-anak, penelitian satwa baik dari aspek pengelolaan satwa, aspek medis, perilaku satwa, nutrisi maupun biologi. Juga sebagai tempat latihan bagi satwa hasil sitaan yang selanjutnya untuk dilepasliarkan ke alamnya.
       Di lokasi ini tersedia film dokumenter tentang satwa yang dilindungi untuk disajikan kepada para wisatawan yang datang ke lokasi PPSJ tersebut.  Lokasi PPSJ disamping memiliki berbagai jenis satwa yang dilindungi juga suasana di sekitarnya nampak asri, sejuk dan berhawa segar, sehingga baik untuk lokasi wisata alam.

3.     Transportasi dan Aksesbilitas
Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta terletak sekitar 26 km dari kota Yogyakarta, dan dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit dengan kendaraan umum, kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda dua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar