Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Bambu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Bambu. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

KERAJINAN BAMBU DI SANGGAR LUMBUNG

         Awalnya pada tahun 1981 aku menekuni kerajinan bambu, yaitu ketika seorang expert FAO dari negara Srilangka RAJA MANTRI GUNATILAKA mengajak bergabung untuk membantu desainer dan pembinaan masyarakat di DAS Wiroko Wonogiri. Kerajinan bambu tersebut awalnya dari negara sakura Jepang, dan secara kebetulan di Wonogiri merupakan salah satu wilayah yang banyak memproduksi bambu, maka untuk menambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar aliran sungai Wiroko dibentuklah kelompok tani dengan kegiatan kerajinan bambu. Kegiatan tersebut memberikan pekerjaan sampingan bagi para petani setelah pulang dari ladang atau sawahnya, memberi penghasilan kepada mereka sebelum masa panen tiba, sehingga petani tetap memiliki penghasilan selain pendapatan dari pekerjaan pokoknya sebagai petani.
        Pada tahun 1989 aku lanjutkan kegiatan tersebut di wilayah Bogor guna memberi kegiatan pada kelompok karang taruna. hingga tahun 1991. Dan pada tahun 2010 kerajinan bambu tersebut aku lanjutkan pada sebuah wadah sanggar di wilayah Depok, tepatnya di Sanggar LUMBUNG berlokasi di jalan Nangka Raya (ex pemancingan TOYOSAE), Depok Jaya, Pancoran Mas. 

Kerajinan bambu di sanggar Gedek dimulai sejak akhir bulan Mei 2010, sedikit demi sedikit kerajinan bambu berjalan dengan baik berkat dukungan dari teman-teman.





Rabu, 21 April 2010

KERAJINAN BAMBU WONOGIRI


BAMBU, POTENSI HHBK DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Hutan bukan hanya sekedar pnghasil kayu, namun masih banyak potensi yang dapat dikembangkan. Salah satu potensi yang kini sedang digalakkan adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Potensi tersebut dapat berupa getah-getahan, minyak, gubal, serbuk, jasa lingkungan dan masih banyak potensi yang dapat mendukung perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. 
Bambu merupakan salah satu HHBK yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti bahan bangunan, alat transportasi, peralatan rumah tangga, kerajinan hingga alat musik.


Indonesia dikenal memiliki banyak tumbuhan bambu, sekitar 124 jenis bambu tumbuh di alam Indonesia, namun yang banyak dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat baru sekitar 20 jenis bambu, seperti misal bambu duri, andong, ampel, tali, betung, kuning, wulung dan lain sebagainya. Dari bambu tersebut telah banyak dihasilkan barang-barang kerajinan baik berupa anyaman maupun dalam bentuk lain sebagai barang pakai hingga souvenir.
Dengan bahan bambu banyak masyarakat di pedesaan memiliki keterampilan sebagai pengrajin, baik secara perorangan maupun secara berkelompok, Dan kerajinan bambu Indonesia memang telah memasuki pasar ekspor ke berbagai negara dengan aneka bentuk menarik, yang merupakan hasil keterampilan masyarakat tersebut, baik secara tradisional maupun dengan peralatan modern dari produk pabrik.
Wonogiri, salah satu daerah penghasil kerajinan dari bahan bambu memiliki kelompok-kelompok pengrajin hasil binaan Proyek Pengembangan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wiroko yang bekerjasama dengan FAO pada tahun 1981.  

Kerajinan bambu Wonogiri terdapat di Kecamatan Nguntoronadi (4 desa) dan Tirtomoyo (2 desa) dengan masing-masing desa beranggotakan sekitar 20 pengrajin dengan berbagai keahlian dalam hal membuat bentuk kerajinan. Dari kelompok-kelompok tersebut lahir bentuk-bentuk kerajinan yang banyak menarik perhatian, dan hal tersebut terbukti ketika mengikuti pameran dalam rangka peresmian Gedung Manggala Wanabakti Departemen Kehutanan pada tahun 1983 yang diresmikan oleh Presiden Soeharto. Salah satu bentuk yang menarik perhatian Ibu Tien adalah sebuah Tas, yang kemudian diserahkan oleh panitia sebagai souvenir, juga ibu-ibu menteri  yang hadir kala itu.
Sementara bentuk-bentuk seperti cangkir, ikat pinggang banyak menarik perhatian bapak-bapak baik sebagai benda pakai maupun hiasan atau souvenir.
Kehadiran kerajinan bambu dengan segala bentuknya telah menarik perhatian pengunjung di berbagai pameran yang diikuti, baik di arena Jakarta Fair, maupun di kota-kota lain seperti Solo, Yogyakarta dan sekitarnya. Pernah diikutkan pada acara Puncak Penghijauan Nasional di Wonogiri dan Kendari (Sulawesi Tenggara). Sejak saat itu banyak pesanan yang datang dari berbagai tempat, baik partai kecil maupun partai besar, baik sebagai benda pakai maupun benda souvenir dalam acara pesta pernikahan. Dan pemasaran kerajinan bambu tersebut menghiasi Pusat Industri Kecil di Yogyakarta dan Dinas Perindustrian Solo  serta Wonogiri.
HHBK melalui potensi bambu kiranya dapat mendukung program pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Dengan adanya kerajinan bambu dapat memberikan penghasilan tambahan bagi kelompok pengrajin di Wonogiri yang pada umumnya memiliki pekerjaan pokok sebagai petani. Dan kerajinan bambu merupakan pekerjaan sampingan dikala senggang sepulang dari ladang atau sawahnya, namun memberikan penghasilan yang memadai dengan apa yang diperbuatnya dalam memanfaatkan bahan baku bambu yang memang banyak tumbuh di sekitar kehidupan para pengrajin tersebut.
 
Kegiatan kerajinan oleh masyarakat dengan bahan baku bambu merupakan salah satu solusi dalam mendukung program pemerintah melalui pemberdayaan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Oleh karena itu perlu adanya dukungan dari para pihak terkait baik pemerintah daerah maupun pihak swasta. Sehingga kerajinan dari bahan bambu yang merupakan potensi HHBK dapat berjalan secara berkesinambungan, juga keberadaan bambu dapat dipertahankan guna mendukung para pengrajin dalam memproduksi barang-barang kerajinannya. Oleh karena bambu memberikan manfaat bagi mereka, tentunya diharapkan juga masyarakat di sekitarnya dapat memberikan partisipasi aktif dalam melestarikan jenis-jenis bambu sesuai dengan kemampuan bambu tersebut untuk berbagai jenis barang kerajinan.
Benda-benda kerajinan dari bahan bambu dapat berupa Kipas, yang banyak digemari oleh kaum wanita. Memiliki bentuk sederhana namun unik dengan hiasan-hiasan yang cantik, selain itu dapat dimanfaatkan sebagai hiasan dinding ruang tamu yang menarik. Kap lampu, selain dapat dipergunakan sebagai penerang ruangan juga sebagai hiasan, karena bentuknya unik dan menarik. Tas sekolah dalam setiap pameran paling banyak diminati pengunjung, selain aneh tas tersebut cocok untuk dipakai di berbagai tempat secara santai..Masih banyak lagi bentuk-bentuk menarik kerajinan bambu dari Wonogiri ini, seperti tkap lampu, tempat pinsil, tempat sikat/pasta gigi, tempat sisir, tempat tisue dan lain sebagainya. 

Bambu sebagai salah satu potensi HHBK kiranya dapat mendukung program pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kesejahteraan apabila dikelola dengan baik dan serius. Kerajinan bambu di Wonogiri sebagai salah satu kegiatan yang dikelola oleh kelompok tani di sekitar sub DAS Wiroko DAS Solo.