Minggu, 20 Juni 2010

LOMBA DAN PENTAS SENI SANGGAR GEDEK

LOMBA BACA PUISI, MEWARNAI DAN MELUKIS KOTA DEPOK DALAM RANGKA HARI LINGKUNGAN HIDUP 2010

           Sanggar GEDEK semenjak lounchingnya pada bulan pebruari 2010, menunjukkan eksistensinya sebagai wadah kreatifitasnya kepada kalayak ramai. Memberikan peluang bagi anak-anak khususnya, yang berkecimpung dan berbakat dalam bidang puisi dan melukis.  Selama dua hari pada tanggal 19 dan 20 Juni 2010 menyelenggarakan kegiatan lomba di sanggar yang memiliki luas 3000 meter persegi tersebut, tepatnya di Depok Jaya, Pancoran Mas.
            Diantara lomba disuguhkan kepada pengunjung aneka pentas, dari musik hingga goyang dangdut, yang menambah meriahnya suasana sekitar hingga malam hari. Tapi tidak meninggalkan apa yang telah menjadi konsepnya sebagai wadah kegiatan kreatifitas aneka bentuk seni dalam kehidupannya sebagai sanggar yang tak lepas dari lingkungan dimana ia lahir dan dibesarkan.
            Bertepatan dengan hari lingkungan hidup, mencoba memberikan apresiasi kepada anak-anak tentang pentingnya alam bagi lingkungan. Melalui lomba lukis anak-anak yang bertemakan lingkungan tersebut memberikan pandangan kepada mereka sejak dini, bahwa negeri tercinta Indonesia ini memiliki kekayaan alam yang tak terhingga, dan bermanfaat bagi kehidupan kini, esok dan nanti.
          Siang menjelang sore musik bergema sekitar kolam dan pepohonan bambu yang mengitari lokasi sanggar GEDEK, sebagai tempat diselenggarakannya lomba baca puisi, mewarnai dan melukis. Sabtu 19 Juni 2010 waktu diresmikannya acara lomba, yang diawali dengan lomba baca puisi tingkat umum, yang diikuti oleh anak-anak hingga dewasa. Sekitar 12 peserta lomba beraksi dan berakting di atas panggung berukuran 18 m2 tersebut, masing-masing membawakan dua buah puisi sebagai pilihannya yang tentunya telah disediakan oleh panitia dari hasil karya para budayawan terkemuka negeri ini, termasuk daintaranya karya Rendra, Ismail Marjuki, Afrizal Nur dan lain-lain.
           Peserta lomba baca puisi ternyata memang mereka yang memiliki dan telah terbiasa membaca sebuah puisi, keberanian anak-anak memang perlu untuk diacungkan jempol dalam membawakan puisi-puisi tersebut dengan aneka ekpresi dan kekuatan yang dimilikinya. Sebagai juri dalam lomba tersebut dihadirkan para budayawan Depok yang memang memiliki keahlian dalam hal puisi. Usai lomba para juri memberikan pandangan-pandangan sebagai apresiasi kepada bagi para peserta dan hadirin, tentang apa dan bagaimana membaca sebuah puisi secara benar dan baik, sehingga dapat dipergunakan sebagai modal dan bekal pada lomba-lomba selanjutnya 
          Sore itu udara sedikit mendung namun acara semakin bertambah meriah dengan adanya pentas seni. Tampilnya seorang ayah dengan kedua putrinya yang masih anak-anak membuat hadirin terbawa dalam haru dentingan gitar ketika mengiringi suara-suara merdu nan lantang fasih dalam bait-bait lagu balada kehidupan. Lagu-lagu balada ciptaan Agus sebagai ayah kedua gadis kecil tersebut, memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut, aplus hadirin dengan tepuk tangan meriah saat lagu terakhir usai dilantumkan oleh keluarga itu. Dilanjutkan aksi musik gesek dari Joko, Bambu gesek sebagai hasil ciptaannya dimainkan dengan baik. Joko yang dikenal dengan panggilan Joker tersebut melantumkan irama-irama ekpresi jiwa yang telah menyatu dengan gesekan-gesekan nada dari alat musik dari bahan bambu tersebut. Joko membuat panggung bertambah meriah melalui gesekan-gesekan bak biola ataupun musik kecapi namun memiliki nada tersendiri, yang tentunya merupakan modal besar dikemudian hari sebagai kreatifitasnya selaku anak sanggar dengan hasil ciptaannya berbentuk alat musik dari bahan bambu. 
           Di sekitar arena lomba juga dipamerkan hasil karya anak-anak sanggar GEDEK, berupa kerajinan bambu dengan aneka bentuk menarik dan artistik yang baru ditekuni sejak awal bulan Juni 2010 ini.  Kerajinan bambu merupakan salah satu kegiatan di sanggar GEDEK guna memberikan wadah bagi mereka yang gemar berkecimpung dalam mengolah dan berekpresi dalam kreatifitas seni melalui bahan baku bambu. Juga dipamerkan karya-karya lukis anak-anak dari sanggar lukis GERTAK Bogor, sebagai bahan apresiasi bagi anak-anak peserta lomba lukis maupun masyarakat yang hadir dalam acara tersebut. Sebagai bahan acuhan selanjutnya dalam mengembangkan kegiatan melukis anak-anak di sanggar GEDEK, agar anak-anak lebih mengenal dan mengerti tentang seni lukis.
           Sore semakin redup, acara kian meriah dengan hadirnya organ tunggal dengan para penyanyi dangdutnya. Irama berubah mengiringi para pencinta suara dan pegoyang dangdut, panitia bersama tamu undangan hingga hadirin turut bergembira berjoget bersama tuk hilangkan lelah dan penat selama mempersiapkan acara tersebut. Dan kegembiraan itu berlangsung hingga malam hari. Keringat membasahi tubuh-tubuh mereka dan hanyut dalam kegembiraan antara persaudaraan dalam membangkitkan kreatifitas dan mengisi sanggar sebagai wadah kegiatan selanjutnya.
           Pagi-pagi panitia sibuk kembali seusai malam gembira, hari minggu itu akan berlangsung lomba mewarnai dan melukis bagi anak-anak tingkat TK dan SD se Kota Depok dan sekitarnya.  Sejak pukul sembilan anak-anak dan orang tua selaku pengantar dan pendamping peserta lomba hadir satu persatu dan memenuhi lokasi sanggar, untuk mendaftar ulang dan mendapatkan nomor peserta.  Tepat pukul 10.30 wib, lomba dimulai setelah mendapat penjelasan dari dewan juri tentang kriteria dan tema dalam lomba tersebut.  Lomba diikuti oleh sekitar 60 peserta dari TK hingga kelas enam SD. Lomba dibagi tiga kategori  Kelompok A untuk tingkat TK mewarnai gambar burung, yang merupakan salah satu satwa yang dilindungi oleh undang-undang, dan merupakan satwa asli Indonesia yang kini mulai jarang ditemui di lingkungan sekitar. Agar anak-anak mengenal bahwa satwa tersebut juga merupakan  bagian dari lingkungan hidup kita. Kelompok B untuk tingkat SD kelas 1 a/d 3, diberikan materi dengan gambar tentang lingkungan yang belum selesai, mereka berlomba dalam meneruskan gambar sesuai dengan kreatifitasnya, sehingga gambar menjadi sempurna dan memiliki nilai dalam arti lingkungan. Sedangkan kelompok C untuk tingkat SD kelas 4 s/d 6  mereka diberikan tema tentang lingkungan alam, baik alam pegunungan, alam pedesaan, alam hutan hingga alam laut yang memang merupakan kekayaan alam Indonesia yang memang dikenal oleh dunia.  Disini anak-anak dituntut untuk menangkap dan menggali ide maupun pengetahuannya tentang alam sekitar, yang kemudian disajikan dalam sebuah bentuk lukisan dengan aneka kelucuan, keluguan hingga keahlian anak dalam berekpresi diri secara bebas tanpa campur tangan pihak lain.
          Lomba mewarnai dan melukis anak-anak mendapat sambutan dan animo yang cukup menggembirakan sebagai awal kegiatan yang positif bagi anak-anak yang diselenggarakan oleh sanggar GEDEK sejak lounchingnya, guna menggali dan mengukur anak-anak wilayah Depok dalam kegiatan tersebut. Sehingga dapat memberikan apresiasi dan pengetahuan yang lebih baik di kemudian hari kepada anak-anak dalam kegiatan mewarnai dan melukis (menggambar). Peserta tidak hanya dari wilayah Depok saja akan tetapi juga dari wilayah Bogor.
             Sementara disisi lain pihak Dinas Pariwisata Kota Depok maupun pemda dan tokoh masyarakat di sekitarnya, mengharapkan kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang baik dan perlu untuk diteruskan dan dikembangkan lebih baik lagi dikemudian hari, mereka menyatakan dukungannya terhadap keberadaan sanggar GEDEK di Depok. Namun perlu juga sebagai perhatian dari panitia penyelenggara lomba tersebut, khususnya sambutan dari Ketua RW, " diharapkan  kegiatan semacam ini lebih dahulu melibatkan anak-anak di lingkungan sendiri, karena banyak potensi yang perlu mendapat perhatian maupun wadah bagi anak-anak berbakat dalam aneka kegiatan seni yang ada di wilayah Depok Jaya ini ". Anak-anak di lingkungan lokasi sanggar GEDEK perlu untuk dilibatkan dalam setiap kegiatan yang ada, agar mereka dapat berbuat lebih baik lagi di dalam sebuah wadah yang pantas sebagai tempat berekspresi, beraktivitas dan berkreatifitas seni dengan berbagai bimbingan dan petunjuk positif dari sanggar tersebut selaku wadah yang telah mendapat kepercayaan oleh masyarakat sebagai wadah penyaluran bakat aneka kegiatan bidang  budaya melalui berbagai kegiatan seni. Sehingga kegiatan tersebut tidak berhenti dan dapat diteruskan oleh mereka dikemudian hari, dan sanggar GEDEK tetap eksis dan diakui oleh masyarakat hingga nanti. 
           Lomba baca puisi dan menggambar yang diselenggarakan oleh Sanggar Gedek memang baru pertama kali sejak lounchingnya pada bulan Februari yang lalu. Dan sebagai awal pijakan kiranya cukup berhasil  dan sukses walau belum seperti yang diharapkan. Langkah masih panjang ke depan, dan jalan masih banyak yang harus di tempuh dengan berbagai rintangan yang ada dan yang akan ada. Rintangan tersebut dapat muncul setiap saat dalam kelahiran dan perjalanannya. Baik rintangan yang datangnya dari luar maupun yang hadir dari dalam sendiri. Untuk itu Sanggar Gedek harus banyak mawas diri dalam menjalankan  misi budayamya. Kritik-kritik yang datang merupakan modal dalam memperbaiki ketimpangan-ketimpangan yang ada. Dan selama triwulan pertama merupakan cobaan berat dalam mengisi kebangkitan selanjutnya.
          Sanggar Gedek kini merupakan kelanjutan sanggar gedek yang dulu dibawah kemudi saudara Hardiman. Saat ini wadah tersebut dipimpin oleh Eko, tentunya diharapkan akan lebih bervariasi dengan segala kegiatannya dalam memberi, menampung dan menyalurkan generasi penerus dalam berkesenian guna menambah warna budaya di wilayah Depok.  Keberadaan sanggar Gedek di Depok Jaya, Pancoran Mas merupakan barometer lingkungan sekitarnya dalam mengemban budaya,  Tanggung jawab sebagai wadah merupakan hal yang perlu untuk dipikirkan lebih lanjut, sehingga kegiatan yang ada tidak mandek dan berhenti ditempat. Tapi kegiatan-kegiatan tersebut justru semakin dikembangkan dan digali sesuai perkembangan yang ada.  Di sini diperlukan pendukung organisasi dari orang-orang yang profesional, yang mengerti dan mau berjuang demi kemajuan budaya sekitar. Keiklasan yang tinggi, bahkan pengorbanan dari orang-orang pendukungnya, yang menyadari akan awal kebangkitan sebuah sanggar yang baru merintis kembali dengan  segala keterbatasannya.
              Tempat yang begitu strategis dan luas serta amat memadai sebagai lokasi sebuah sanggar, tentunya merupakan sebuah modal yang baik dalam kebangkitan selanjutnya. Maka perlu di isi dengan sesuatu yang bermanfaat, kegiatan-kegiatan dari berbagai bidang dalam bentuk kesenian akan mengharumkan nama sanggar itu sendiri. Tentunya apabila diolah dan dikerjakan dengan benar dan terencana secara matang. Kepengurusan yang ada dalam organisasi tersebut akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, dan akan membawa baik buruknya nama wadah tersebut.  Setidaknya dalam menginjak triwulan kedua ini perlu mengadakan evaluasi dengan segala apa yang telah dilaksanakn selama ini,  Dengan evaluasi secara bersama  tentunya akan dapat memberikan pandangan selanjutnya arah dan tujuan sanggar dalam mengemban misi dan visi selanjutnya.
            Potensi-potensi yang ada dalam sanggar Gedek saat ini masih perlu polesan-polesan yang lembut dengan segala keiklasan hati, sehingga dapat mencapai apa yang diharapkan. Baik potensi teater, musik, lukis, kerajinan dan lain sebagainya perlu penanganan serius dalam manajemen yang profesional, terbuka dan berani berekperimen maupun berkreasi dengan sebuah tanggung jawab yang besar untuk kemajuan bersama. Tantangan sebagai wadah kreatifitas, apalagi GEDEK adalah Generasi Depok Kreatif  tentunya memiliki tanggung jawab sesuai nama yang dipakai dalam sanggar atau wadah tersebut. Tentunya sebagai warga atau berkecimpung di Depok berani berbuat kreatif tanpa terlebih dahulu memperhitungkan materi yang akan didapat, justru mengutamakan apa yang harus dilakukan dalam kreatifitas tersebut, berbuat untuk sebuah nama yaitu GEDEK.
              Lomba dan pentas seni dalam memperingati hari lingkungan hidup tahun 2010 di kota Depok oleh Sanggar Gedek tak lain sebagai pijakan kelompok seniman dalam organisasi tersebut dalam menentukan langkah selanjutnya. Berkumpulnya anak-anak dalam kegiatan lomba baca puisi dan menggambar merupakan sebuah momen yang baik dan sejarah dalam perjalanan terbentuknya sebuah sanggar di lingkunagn perumnas Depok tersebut. Di situ hadir budayawan senior maupun wakil pemerintah daerah yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Sebagai penghormatan sekaligus tantangan ke depan selanjutnya,  bukan sekedar kehadiran para tokoh, namun perjuangan dan momen awal tersbut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pengurus maupun pendukung sanggar GEDEK dalam menggali ide-ide, memperbaiki dan menyelenggarakan yang lebih baik lagi di hari-hari nanti.
              Kebersamaan tentunya diharapkan dalam penyelenggaraan sebuah kegiatan seni, terlebih untuk anak-anak yang sekaligus mayoritas didampingi oleh orang tua mereka dalam mengikuti lomba-lomba tersebut. Dapat dijadikan contoh dan panutan generasi pengganti juga para monitoring sang orang tua dalam menilai pelaksanaan kegiatan tersebut. Lomba, tentunya bukan sekedar mencari bakat-bakat yang ada pada anak-anak, namun yang lebih penting lagi kemana bakat-bakat tersebut disalurkan, agar nantinya mendapatkan wadah yang layak dan sesuai dalam perkembangan selanjutnya   Sanggar memang salah satu wadah tersebut, tentunya dapat memberikan informasi, dan menyalurkan apa yang telah menjadi potensi anak dalam keikut sertaannya untuk mengisi dan hadir dalam kegiatan lomba tersebut. Keterbatasan memang selalu ada dalam sebuah organisasi, terlebih sebuah sanggar yang baru berdiri dengan segala upaya kemandiriannya. Yang tentunya perlu diacungkan jempol dalam gebrakan pertama yang memberikan suguhan dalam cakupan kesenian setingkat kota Depok.
            Anginpun masih lembut menerpa dedaunan sekitar kolam ketika anak-anak beranjak pergi meninggalkan sanggar. Tawa, lugu dalam kemurnian seorang bocah semua tercermin dalam suara dan goresan aneka warna. Semua larut dalam suasana gembira, senja pun menghampiri dan menutup acara lomba anak-anak dalam berekpresi sebuah seni. ................................ kemana mereka kan berpijak ??? 

       


                    

Rabu, 21 April 2010

KERAJINAN BAMBU WONOGIRI


BAMBU, POTENSI HHBK DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Hutan bukan hanya sekedar pnghasil kayu, namun masih banyak potensi yang dapat dikembangkan. Salah satu potensi yang kini sedang digalakkan adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Potensi tersebut dapat berupa getah-getahan, minyak, gubal, serbuk, jasa lingkungan dan masih banyak potensi yang dapat mendukung perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. 
Bambu merupakan salah satu HHBK yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti bahan bangunan, alat transportasi, peralatan rumah tangga, kerajinan hingga alat musik.


Indonesia dikenal memiliki banyak tumbuhan bambu, sekitar 124 jenis bambu tumbuh di alam Indonesia, namun yang banyak dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat baru sekitar 20 jenis bambu, seperti misal bambu duri, andong, ampel, tali, betung, kuning, wulung dan lain sebagainya. Dari bambu tersebut telah banyak dihasilkan barang-barang kerajinan baik berupa anyaman maupun dalam bentuk lain sebagai barang pakai hingga souvenir.
Dengan bahan bambu banyak masyarakat di pedesaan memiliki keterampilan sebagai pengrajin, baik secara perorangan maupun secara berkelompok, Dan kerajinan bambu Indonesia memang telah memasuki pasar ekspor ke berbagai negara dengan aneka bentuk menarik, yang merupakan hasil keterampilan masyarakat tersebut, baik secara tradisional maupun dengan peralatan modern dari produk pabrik.
Wonogiri, salah satu daerah penghasil kerajinan dari bahan bambu memiliki kelompok-kelompok pengrajin hasil binaan Proyek Pengembangan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wiroko yang bekerjasama dengan FAO pada tahun 1981.  

Kerajinan bambu Wonogiri terdapat di Kecamatan Nguntoronadi (4 desa) dan Tirtomoyo (2 desa) dengan masing-masing desa beranggotakan sekitar 20 pengrajin dengan berbagai keahlian dalam hal membuat bentuk kerajinan. Dari kelompok-kelompok tersebut lahir bentuk-bentuk kerajinan yang banyak menarik perhatian, dan hal tersebut terbukti ketika mengikuti pameran dalam rangka peresmian Gedung Manggala Wanabakti Departemen Kehutanan pada tahun 1983 yang diresmikan oleh Presiden Soeharto. Salah satu bentuk yang menarik perhatian Ibu Tien adalah sebuah Tas, yang kemudian diserahkan oleh panitia sebagai souvenir, juga ibu-ibu menteri  yang hadir kala itu.
Sementara bentuk-bentuk seperti cangkir, ikat pinggang banyak menarik perhatian bapak-bapak baik sebagai benda pakai maupun hiasan atau souvenir.
Kehadiran kerajinan bambu dengan segala bentuknya telah menarik perhatian pengunjung di berbagai pameran yang diikuti, baik di arena Jakarta Fair, maupun di kota-kota lain seperti Solo, Yogyakarta dan sekitarnya. Pernah diikutkan pada acara Puncak Penghijauan Nasional di Wonogiri dan Kendari (Sulawesi Tenggara). Sejak saat itu banyak pesanan yang datang dari berbagai tempat, baik partai kecil maupun partai besar, baik sebagai benda pakai maupun benda souvenir dalam acara pesta pernikahan. Dan pemasaran kerajinan bambu tersebut menghiasi Pusat Industri Kecil di Yogyakarta dan Dinas Perindustrian Solo  serta Wonogiri.
HHBK melalui potensi bambu kiranya dapat mendukung program pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Dengan adanya kerajinan bambu dapat memberikan penghasilan tambahan bagi kelompok pengrajin di Wonogiri yang pada umumnya memiliki pekerjaan pokok sebagai petani. Dan kerajinan bambu merupakan pekerjaan sampingan dikala senggang sepulang dari ladang atau sawahnya, namun memberikan penghasilan yang memadai dengan apa yang diperbuatnya dalam memanfaatkan bahan baku bambu yang memang banyak tumbuh di sekitar kehidupan para pengrajin tersebut.
 
Kegiatan kerajinan oleh masyarakat dengan bahan baku bambu merupakan salah satu solusi dalam mendukung program pemerintah melalui pemberdayaan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Oleh karena itu perlu adanya dukungan dari para pihak terkait baik pemerintah daerah maupun pihak swasta. Sehingga kerajinan dari bahan bambu yang merupakan potensi HHBK dapat berjalan secara berkesinambungan, juga keberadaan bambu dapat dipertahankan guna mendukung para pengrajin dalam memproduksi barang-barang kerajinannya. Oleh karena bambu memberikan manfaat bagi mereka, tentunya diharapkan juga masyarakat di sekitarnya dapat memberikan partisipasi aktif dalam melestarikan jenis-jenis bambu sesuai dengan kemampuan bambu tersebut untuk berbagai jenis barang kerajinan.
Benda-benda kerajinan dari bahan bambu dapat berupa Kipas, yang banyak digemari oleh kaum wanita. Memiliki bentuk sederhana namun unik dengan hiasan-hiasan yang cantik, selain itu dapat dimanfaatkan sebagai hiasan dinding ruang tamu yang menarik. Kap lampu, selain dapat dipergunakan sebagai penerang ruangan juga sebagai hiasan, karena bentuknya unik dan menarik. Tas sekolah dalam setiap pameran paling banyak diminati pengunjung, selain aneh tas tersebut cocok untuk dipakai di berbagai tempat secara santai..Masih banyak lagi bentuk-bentuk menarik kerajinan bambu dari Wonogiri ini, seperti tkap lampu, tempat pinsil, tempat sikat/pasta gigi, tempat sisir, tempat tisue dan lain sebagainya. 

Bambu sebagai salah satu potensi HHBK kiranya dapat mendukung program pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kesejahteraan apabila dikelola dengan baik dan serius. Kerajinan bambu di Wonogiri sebagai salah satu kegiatan yang dikelola oleh kelompok tani di sekitar sub DAS Wiroko DAS Solo.

 

Minggu, 18 April 2010

ALAT MUSIK GESEK





BAMBU, POTENSI HASIL HUTAN BUKAN KAYU SEBAGAI MEDIA KREATIFITAS SENIMAN DALAM MELAHIRKAN ALAT MUSIK BARU KHAS KOTA DEPOK









Indonesia bukan hanya dikenal akan kekayaan alamnya, tetapi juga kaya akan aneka ragam budaya. Aneka kesenian lahir dan hidup sebagai bentuk kesenian daerah dengan berbagai kekhasannya. Bambu telah lama dikenal masyarakat untuk berbagai keperluan, salah satunya sebagai alat musik tradisional. Depok, melalui kreatifitas senimannya telah mengolah bambu sebagai media dalam menemukan alat musik baru yang dapat dijadikan icon daerah Depok.



Hutan bukan hanya sebagai penghasil aneka jenis kayu dengan segala potensinya. Hutan memiliki banyak keanekaeragaman jenis potensi yang dapat dikembangkan guna mendukung perekonomian maupun pemberdayaan masyarakat di dalam maupun di sekitarnya. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) kini semakin banyak dikembangkan karena memiliki aneka potensi, dan potensi tersebut dapat berupa getah, minyak, serbuk, biji-bijian, kerajinan dan lain sebagainya. Salah satu potensi HHBK yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya adalah bambu. Baik sebagai bahan bangunan, alat rumah tangga maupun sebagai bahan kerajinan dan alat musik tradisional.


Hutan dan pedesaan di berbagai wilayah Indonesia banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman bambu, dan Indonesia memiliki sekitar 125 jenis bambu, termasuk yang masih liar dan belum jelas kegunannya. Sedangkan jenis bambu yang dapat dibudidayakan ada sekitar 20 jenis,   seperti bambu duri, bambu andong, bambu apus, bambu betung, bambu tali, bambu hitam (wulung) dan masih banyak lagi jenis-jenis bambu tersebut tumbuh subur di negeri Nusantara ini sebagai anugrahNYA. Bambu-bambu tersebut dapat tumbuh di berbagai iklim, semakin basah tipe iklimnya makin banyak jenis bambu yang tumbuh, sebab bambu termasuk tumbuhan yang membutuhkan banyak air. Kekayaan bambu dalam HHBK memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, bukan hanya sebagai bahan bangunan atau alat transportasi dan keperluan rumah tangga,      bambu memiliki potensi, kualitas, dan keunikan masing-masing sesuai fungsi dan kebutuhannya. Dan bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kertas, sumpit, plybamboo, furniture dan barang-barang kerajinan atau cinderamata, dan bahan produk ini sudah menjadi komoditi ekspor.

Hasil Hutan Bukan Kayu pada beberapa tahun  terakhir memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan kehutanan, terlebih dalam mendukung program pemerintah bidang pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Dan melalui bahan bambu, kerajinan dan karya seni dengan aneka bentuk maupun kreatifitasnya kini banyak diminati, bahkan tidak sedikit bentuk kerajinan bambu tersebut telah menembus ekspor ke berbagai negara. Maka keberadaan bambu perlu untuk dipertahankan sebagai HHBK yang berpotensi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Sehingga masyarakat  dapat berpartisipasi aktif dalam melestarikan habitat bambu yang ada di sekitarnya.
Berbagai bentuk musik tradisional banyak terbuat dan mempergunakan dari bahan bambu, seperti alat musik tradisional dari Jawa Barat yang terkenal yaitu Angklung dan Calung, dari NTT seperti Sasando, bahkan beberapa negara di Eropa juga memiliki alat musik yang dikenal dengan Bamboo String. Alat-alat musik tersebut memiliki bentuk berbeda-beda, nada dasar dan kemampuannya untuk bermusik pun berbeda-beda, namun semu itu telah memberikan warna tersendiri dalam kehidupan budaya masyarakat dimana alat musik itu dilahirkan.



Depok, merupakan kota yang kini sedang dalam perkembangannya, dan sejak dahulu telah diketahui sebagai salah satu daerah penghasil bambu guna memenuhi permintaan masyarakat di Jakarta dan sekitarnya. Sebagai salah satu kota dengan aneka budaya masyarakatnya, yang merupakan pendatang dari berbagai daerah dalam meniti perkembangannya sebagai kota yang baru berdiri di antara kota Jakarta dan Bogor dengan segala eksistensinya. Dengan perkembangan yang pesat, kota Depok telah banyak melahirkan tokoh  budayawan, sastrawan seperti misal WS Rendra, dan masih banyak lagi yang bermukim di kota ini hingga seniman dengan berbagai kreatifitasnya. Namun sampai saat ini belum memiliki budaya khas, yang dapat dijadikan ciri dan atau symbol daerah, tak ubahnya daerah lain yang pada umumnya telah memilki kekhususan budayanya.
Alat musik Bambu Gesek (Basek), terbuat dari bahan bambu hitam (wulung), yang kini masih banyak tumbuh di wilayah Depok. Merupakan hasil kreatifitas seniman yang sejak kecil telah bermukim di Depok, dan alat musik tersebut telah digelutinya sejak tahun 1996. Tentunya mengalami proses yang panjang dalam perkembangannya,  baik bentuk, ukuran hingga nada-nada yang sesuai untuk alat tersebut. Menurut Joko Suranto (35 th) si pencipta, alat musik dengan panjang sekitar 75 cm tersebut telah memiliki empat model dengan aneka variasi  guna menarik perhatian, baik sebagai benda seni maupun sebagai benda hias atau souvenir dari bahan bambu wulung. Hasil kreatifitas tersebut telah melalui uji coba dalam pentas di berbagai tempat dan acara. Aneka jenis musik dari klasik hingga pop dapat dimainkan oleh Joko dengan baik, dari irama lembut menyayat hingga cepat dan dinamis dalam berkolaborasi dengan alat musik guitar.  Bambu Gesek memang mirip dengan alat musik Biola dan Rebab, memiliki tiga buah senar, dimainkan dengan cara menggesek, namun memiliki nada dasar yang berbeda dari keduanya, dan Basek berada di antara keduanya, sehingga suara dan nadanya mampu menyesuaikan kedua alat musik tersebut (biola dan rebab).
Pameran Indogreen Forestry ke dua berlangsung pada tanggal 15 s/d 18 April 2010, bertempat di JHCC  Senayan-Jakarta, yang merupakan ajang tahunan dalam informasi kepada publik tentang pembangunan kehutanan dengan segala program dan kegiatannya. Kerjasama Kementrian Kehutanan dengan para pihak terkait, baik BUMN hingga swasta yang berkecimpung dalam bidang kehutanan. Dalam pameran banyak disuguhkan berbagai bentuk informasi menarik tentang segala potensi hutan dalam mendukung program pemerintah maupun perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Baik berupa kayu, jasa hingga HHBK, dan salah satu potensi HHBK tersebut yaitu bambu.
Dalam acara pembukaan pameran pada hari kamis tersebut, juga dilaksanakan pertemuan Bakohumas yang dihadiri oleh wakil-wakil dari Departemen dan Kementrian serta BUMN Pusat. Acara pembukaan pertemuan Bakohumas tersebut diisi oleh Sanggar Joker Basek Group, yang menampilkan Joko sebagai pencipta sekaligus pemain Bambu Gesek, bersama ketiga anak didiknya menyuguhkan sebuah lagu ciptaannya dengan judul Hijau Dambaan, diiringi dengan petikan guitar (Dimas) serta menghadirkan vokalis cilik (Fenia dan Icah) membuat lagu tersebut terasa hidup dalam menyampaikan pesannya kepada publik tentang hutan. Yaitu cerita hutan masa lalu, saat kini, dan hutan yang didambakan oleh semua orang di masa akan datang dalam memberikan kehidupan kepada mahluk hidup di dunia ini, dalam kelestarian yang berkesinambungan. Penampilan Joker Basek Group cukup baik dan mendapat applus dari peserta Bakohumas. Kemudian alat musik tersebut diserahkan sendiri secara langsung oleh Joko kepada Kepala Pusat Indormasi Kehutanan, yang dilanjutkan diserahkan kepada Ketua Bakohumas Pusat sebagai souvenir dari bahan bambu yang merupakan salah satu potensi HHBK dalam bentuk alat musik yaitu Bambu Gesek.
Bambu dengan segala potensinya telah memberikan inspirasi kepada Joko dalam berkreatifitas, dan melalui seni musik, bambu wulung (hitam) telah dijadikan sebagai media berekpresinya.  Hasil kreatifitas yang panjang dari seniman Depok tersebut telah melahirkan sebuah benda seni berupa alat musik gesek, yaitu sebuah alat musik yang dapat dipertanggung jawabkan, tak bedanya alat-alat musik yang telah lahir terlebih dahulu dalam mengisi budaya masyarakat di Indonesia. Dan saat ini memang baru Joko lah yang dapat memainkan alat tersebut dengan sempurna melalui berbagai irama yang dimainkannya.
Sebuah alat musik yang lahir dalam budaya Depok dengan segala keanekkaragamannya, tentunya dapat memberikan warna tersendiri bagi kota Depok sebagai kota yang kini sedang mencari identitas sebagai ciri dan atau kekhususan yang dapat dibanggakan sebagai simbol daerah beserta masyarakatnya. Apalagi alat musik berupa Bambu Gesek tersebut lahir hasil  ciptaan seniman Depok sendiri. Seorang pemuda sederhana namun penuh kreatifitas walau hanya dengan bahan bambu, tapi kiranya telah berhasil memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi daerah dan masyarakat dimana ia tinggal dan berkehidupan.
Kedudukan bambu memang memiliki peran penting dalam budaya dan kehidupan masyarakat, terlebih bagi masyarakat yang berada di pedesaan, di dalam maupun di sekitar hutan. Dan bambu memiliki nilai tersendiri dengan segala potensi maupun fungsinya, sehingga tetap bertahan dalam kehidupan yang serba global dengan berbagai teknologi modern ini. Pemanfaatannya pun semakin bervariasi dengan aneka bentuk serta fungsinya dalam mengisi kehidupan manusia. Menunjang perekonomian guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai aktifitas dengan memanfaatkan bahan baku bambu. Dengan lahirnya alat musik seperti bambu gesek di Depok diharapkan dapat memberikan peluang bagi pengrajin bambu di sekitarnya, sebagai wadah dalam memberikan lapangan kerja baru, sekaligus tempat penyaluran bagi generasi berbakat di wilayahnya dalam dunia musik melalui alat musik bambu gesek.
Dengan HHBK berupa bambu, kiranya masih banyak ide dan kegiatan yang dapat dicetuskan dan dilakukan oleh masyarakat guna menambah pendapatan. Dan merupakan tugas berat bagi para seniman maupun pihak terkait dalam pengelolaan bambu kedepan, sehingga bambu bukan hanya sekedar tanaman pelindung maupun peneduh sekitarnya, tapi dapat memberikan nilai yang lebih berarti bagi kehidupan di sekitarnya.  Lahirnya alat musik dari bahan baku bambu oleh seniman Depok, walau dengan bentuk sederhana, namun dapat merupakan sebuah warna baru dalam blantika musik tradisional maupun modern, terlebih bagi budaya masyarakat Depok. Karena alat musik seperti bambu gesek tersebut dapat berkolaborasi dengan berbagai alat musik lainnya, dan nada-nada yang dihasilkan pun dapat menyesuaikan berbagai jenis irama. Kiranya Joko telah memperhitungkan semua itu dalam ciptaannya melalui media bambu. Yang patut untuk dihargai, bahkan bagi para pihak perlu mendukung kreatifitasnya, sehingga jerih payah selama beberapa tahun ini tidak mubazir atau tertelan oleh arus modernisasi yang kini semakin gencar dengan berbagai kemajuan teknologinya, yang akhirnya berhenti dan mandul tanpa melahirkan apa-apa di hari-hari selanjutnya.
Bambu gesek memang erat dengan seniman muda asal Depok, Joko sebagai penciptanya mempunyai impian yang sebetulnya tidak muluk,  cukup sederhana, yaitu pada suatu saat nanti  bambu gesek ini dapat dimainkan dalam bentuk orchestra. Dan saat ini ia sedang merintis dengan membuka kursus kepada anak-anak berbakat untuk bermain musik dengan alat bambu gesek, gitar, dan olah vokal untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Satu persatu joko mendatangi murid-muridnya dengan tekun dan sabar, melatih dan memberi bimbingan kepada mereka agar dapat bermain dengan baik, sehingga pada suatu saat nanti dapat membuktikan kepada publik, bahwa dirinya memang serius dalam menciptakan bambu gesek ini sebagai alat yang berguna dan bermanfaat bagi blantika musik, khususnya pemda Depok dapat mengakui eksistensinya sebagai benda yang dapat dijadikan icon, juga merupakan benda seni dalam kehidupan budaya daerah Depok sebagai Kota  yang boleh dibilang baru muncul dan berkembang bersebelahan dengan ibu kota negara yaitu Jakarta.
Kekhasan bambu gesek memang dapat dijadikan icon kota Depok, dan pemerintah daerah melalui dinas-dinas terkait telah mengakui kemampuan alat tersebut ketika Joko mengisi acara lounching sebuah sanggar di Depok Jaya, Pancoran Mas. Perwakilan pemda kota Depok beserta tokoh masyarakat dan budayawan yang hadir memberikan applus dan kesan tersendiri dengan tampilnya Joko dengan permainan Bambu Geseknya. Terlihat hanyut dan kagum dengan nada dan irama yang terdengar dari alat musik tersebut, seolah mengakui apa yang menjadi kreatifitas seniman muda, yang telah mampu memberikan warna tersendiri bagi kota Depok. Namun tentunya bukan hanya sekedar kagum dengan apa yang dilihatnya tersebut, diharapkan adanya perhatian maupun penghargaanyang seimbang dari pemda dalam memberikan kesempatan kepada masyarakatnya yang memiliki prestasi dalam misi seni dan budaya.
Dengan diselenggarakannya pameran Indogreen Forestry tahun 2010 di JHCC telah memberikan sebuah informasi yang sangat berarti kepada publik tentang pembangunan kehutanan melalui berbagai kegiatan. Salah satu informasi tersebut melalui pegelolaan HHBK dengan bahan baku bambu yang tersaji dalam aneka produk, di sisi lain dalam bentuk alat musik bambu gesek yang didemontrasikan oleh penemunya, sekaligus sebagai souvenir dalam  pembukaan pertemuan Bakohumas.  Potensi bambu dalam HHBK kiranya masih perlu diinformasikan kepada publik, sehingga kekayaan aneka jenis bambu Indonesia dapat memberikan peran penting dalam mendukung perekonomian serta kesejahteraan rakyat ketika produk hutan berupa kayu saat ini sedang mengalami kelesuan. Jenis-jenis bambu yang telah lama dikenal dan hidup dalam budaya masyarakat Indonesia, terlihat tegar dalam rumpun habitatnya di sana, melambai dalam tiupan bayu, bambu-bambu bergesekan membentuk  alunan irama alam, di tepian sungai untuk melindungi keteduhan hingga erosinya lahan sekitar. (daniel,10)   

Rabu, 07 April 2010

PERANAN SANGGAR BAGI ANAK-ANAK

       Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa sanggar nerupakan wadah bagi anak-anak berbakat atau berkemauan keras dalam bidang kesenian. Memberikan bimbingan kepada nak-anak dalam menumbuhkan rasa percaya diri, berkreatifitas melalui sebuah karya seni sebagai bekal di kemudian hari. 
       Salah satu bidang seni yang kini sedang digemari dan diminati oleh anak-anak adalah bidang seni lukis. Di berbagai kota, sanggar lukis bermunculan dengan segala eksistensinya guna memberikan tempat kepada anak-anak dalam menggeluti dan berkegiatan melukis. Kini lukisan anak-anak banyak bermunculan dengan aneka jenis dan aliran, yang memang hasil kreatifitas anak-anak itu sendiri. Bahkan lomba telah banyak digelar oleh berbagai pihak guna memberikan saluran kepada anak-anak tersebut guna menjaring sekaligus prestasi bagi anak berbakat dalam bidang melukis.
        Anak-anak tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar banyak mengisi kegiatannya dengan melukis. Baik melalui kegiatan estra kurikuler di sekolahnya, maupun dalam mengikuti kegiatan di sanggar. Dari beberapa peserta memang memiliki keahlian dalam bidang tersebut, bahkan bisa dibilang cemerlang dan mengagumkan. Kreatifitas yang dimiliki untuk seorang bocah dapat disebut sempurna dengan karya-karya lukisnya. Hal tersebut tentunya tak luput dari dukungan orang tua selaku penunjang dalam memenuhi prasarana si anak dalam berkarya lukis.
       Sanggar lukis, bukan hanya sekedar wadah bagi anak-anak untuk berkarya melalui kegiatan melukis, namun memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan bimbingan kepada anak dalam menyatukan hati dengan apa yang dilakukan dalam kegiatan melukis. Bukan hanya sekedar anak dapat mewarnai dengan baik, dan bukan hanya sekedar anak dapat melukis secara baik. Tapi yang lebih penting lagi bagaimana anak dapat mengembangkan dirinya sendiri melalui sebuah karya lukis. Sehingga apa yang menjadi kreatifitasnya dapat memberikan kesan tersendiri, dan merupakan ciri atau kekhasan akan anak tersebut, dimana ekpressi jiwa anak dapat tersalur dalam karya lukisnya. Sebaliknya, karya lukis tersebut dapat mencerminkan si penciptanya, yaitu anak yang telah mengekpresikan segala kemampuan lewat goresan, warna dan bentuk dalam sebuah karya seni lukis.
       Di sini diperlukan seorang yang mengerti akan lukisan, memahami apa yang ada dalam seorang anak dengan segala kekuatannya. Membimbing agar anak lebih percaya diri dengan segala kemampuannya tersebut, menyalurkan bakatnya guna melatih kepekaann anak untuk mengembangkan ide maupun kreatifitasnya. Sehingga apa yang dilakukan dalam kegiatan melukis bukan hanya sekedar mengisi waktu luang, tapi lebih dari itu, yaitu menjadikan anak yang lebih bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya, apa yang ada dalam dirinya sebagai kekuatan yang dapat membentuk dirinya sebagai seniman lukis. Sehingga kekuatan tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari, bahkan sebagai profesi dalam kehidupannya nanti.
        Kedudukan sanggar dengan segala kemampuannya memang memiliki tanggung jawab yang berat kepada anak-anak didiknya. Namun belum memiliki kedudukan yang pasti dalam perkembangannya, karena masih banyak orang beranggapan sanggar hanya sebuah tempat untuk mengisi waktu luang agar anak tidak banyak bermain, sebagai wadah untuk mengenal, dan meningkatkan kemampuan dalam melukis. Sehingga banyak anak-anak meninggalkan sanggar sebelum matang dalam mengolah ide dan kreatifitasnya melalui kegiatan melukis. Atau pihak orang tua telah merasa puas dengan apa yang dicapai anaknya dalam melukis, walau pada dasarnya anak tersebut belum dapat merasakan apa yang menjadi kekuatannya dalam berkarya lukis.
        Menyatukan pikiran, perasaan, dan kemauan ke dalam sebuah bentuk karya memang tidak semudah seperti apa yang terlihat dalam karya tersebut. Hal tersebut melalui proses yang panjang, penuh kesabaran dan ketekunan yang timbul oleh adanya kesadaran pribadi yang kuat sebagai panggilan hati guna memenuhi tanggung jawabnya sebagai anak yang telah berkecimpung dalam dunia kesenian. Dapat mencari ide-ide baru dan segar guna mendukung kreatifitasnya melalui goresan-goresan jemarinya dengan media yang tepat membentuk sebuah karya seni, yang dapat memperkaya lingkungannya yaitu dunia lukis yang berdiri sendiri dengan segala kekhasannya.
Melukis bagi anak-anak memang menyenangkan, dapat melatih kepekaan dan naluri tersendiri, sehingga anak memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang lebih baik. Goresan-goresan dengan aneka bentuk dan warna memberikan motivasi kepada anak dalam melakukan sesuatu menurut kehendaknya. Mengatur, menyusun bentuk dan warna merupakan pancaran dari keseimbangan jiwa seorang anak. Ekpressi jiwa tersebut akan keluar melalui gerak tangan yang merupakan penyaluran ide-idenya dalam perpaduan bentuk dan warna sesuai apa yang diinginkan ng anak.  Maka bimbingan kepada anak sangat diperlukan dalam kegiatan melukis, agar anak tersebut dapat menemukan apa yang ada dalam dirinya, apa yang menjadi kekuatannya dalam melahirkan karya-karya lukisnya.
     
Salah satu contoh bentuk karya lukis anak-anak (kelas 3 SD), lukisan dengan crayon di atas kertas ini memperlihatkan keterampilannya dalam membuat dan menyususn gradasi warna. Idenya sederhana, namun bagi penghayat mudah untuk menangkap apa yang dilukiskan oleh anak tersebut. Di sini anak belum menampakkan keistimewaannya secara khas, tapi ia mulai menemukan ciri melalui goresan goresan dan warna yang dihadirkan dalam lukisan tersebut. Anak tersebut mulai nampak kekuatannya dalam menangkap atau membayangkan suatu keadaan, yaitu cerita dua orang sedang memancing di atas sebuah perahu di sebuah danau dengan alam di sekitarnya yang rindang akan pepohonan pada suatu sore hari ketika senja dengan mentari merahnya. Lukisan oleh anak kelas tiga SD di atas sesuai dengan perkembangan usianya, kelucuan dan kejujuran masih nampak kental namun telah memperlihatkan teknik mewarnai yang cukup baik sehingga dapat memperlihatkan dimensi benda sebagai obyeknya. 

Lukisan disamping ini adalah hasil karya seorang anak kelas 5 SD, ia menceritakan tentang kekayaan alam hutan dengan aneka satwa yang hidup dalam damai serta rukun satu sama lain.  Sebagai seorang anak SD, ia ingin mengungkapkan apa yang dilihat atau dibayangkan, bahwa satwa merupakan mahluk hidup yang memiliki kebebasan layaknya manusia dalam berinteraksi dengan satwa lainnya, bahwa hutan memiliki kehidupan aneka warna tersendiri.  Idenya baik, permainan dan gradasi warna mendukung bentuk-bentuk dimensi dari obyek-obyeknya, dan anak ini mulai menemukan kekuatannya, walau memang belum secara utuh, dan masih belum dapat meninggalkan lukisan layaknya anak-anak dalam pendidikan sanggar dengan kontur-kontur hitam pada setiap garisnya.
 Sedangkan lukisan anak tuna rungu dari SLB di samping ini menunjukkan ketekunan tersendiri dari seorang anak SLB. Obyek menarik yang menggambarkan kesejukan dan kedamaian alam, perpaduan air, rumput dan pepohonan di sekitarnya, yang didukung background hitam hingga abu-abu sebagai langit dan awan memberikan kesan dimensi yang cukup hidup. Proposional dari bentuk-bentuk yang dihadirkan sebagai obyeknya saling mendukung dan membentuk komposisi yang seimbang dengan gradasi warna membuat lukisan ini menarik untuk dihayati.
Lukisan dengan gambar anak-anak yang sedang bermain games ini hasil karya seorang anak kelas 5 SD. Memperlihatkan suasana anak-anak ketika bermain PS dalam sebuah ruangan seperti layaknya yang saat ini sedang digemari oleh anak-anak di berbagai tempat. Ia cukup cerdas mengolah ide tentang anak dalam zaman yang serba teknologi modern ini, bahwa permainan PS sudah menjamur dan banyak mempengaruhi anak-anak dengan berbagai akibat positif maupun negatifnya. Warna-warna cerah masih mendominasi lukisan ini seperti layaknya lukisan anak-anak pada umumnya. Anak ini telah memperlihatkan kemahirannya dalam membuat kompisisi dan gradasi warna, walau belum berani meninggalkan kontur-kontur pada lukisannya.
Sedangkan dalam lukisan berikut adalah hasil karya seorang anak kelas 4 SD, yang menggambarkan akan suasana perkampungan di tepi hutan dengan segala kedamaian dan kelestariannya. Ide anak ini memang cukup cemerlang, ia dapat membayangkan atau menangkap apa yang sebenarnya ada dan terjadi di sebuah desa dengan lingkungan hutan di sekitarnya. Gradasi maupun komposisi warna yang dihadirkan dalam lukisan tersebut cukup baik, dan membuat segar suasana, ia mulai menemukan apa yang menjadi kekuatannya melalui ide serta teknik-teknik yang dimiliki dalam membuat sebuah lukisan.

Lukisan tentang hutan ini hasil karya anak kelas 6 SD, ia mengolah idenya melalui hutan sebagai obyeknya. Anak ini mulai berani memperlihatkan kekuatannya dengan meninggalkan kontur-kontur hitam, sementara batang-batang pohon dengan lekuk-lekuknya memberikan kekuatan tersendiri dalam lukisan itu, dan permainan perpspektif warna serta pencahayaan yang cukup baik membuat karya ini menjadi pilihan pengunjung ketika mengikuti pameran lukis anak-anak di Bogor, sebagai karya favorit I.  Kekuatan tersebut tentunya sebagai modal bagi si anak dalam menggeluti seni lukis di hari-hari selanjutnya.

Lukisan berikut dibuat oleh anak kelas 6 SD, menggambarkan suasana di hutan dengan satwanya. Mengisahkan cerita yang cukup dramatis, dimana seekor ular sedang mendekati dua ekor bebek yang sedang bermain di sungai.  Ekpresi kedua ekor bebek yang sedang dalam ketakutan akan pemangsa, diperlihatkan dengan cukup baik oleh si anak tersebut. Goresan dan gradasi warnanya mendukung suasana sekitarnya yang dalam sunyi dan jauh keramaian. Sehingga cerita drama dua jenis satwa tersebut mengesankan dan menarik perhatian, bahkan merupakan daya tarik yang kuat dalam lukisan tersebut.
   Lukisan disamping ini hasil karya anak kelas 6 SD, menggambarkan suasana alam dengan aliran sungai yang tampak deras. Anak ini telah memiliki konsep yang baik melalui sebuah lukisan. Gaya ekpresif cukup menonjol melalui sapuan-sapuan tangannya  dengan media crayon, bayang-bayang sinar dan perspektif warna cukup baik, sehingga merupakan kesatuan yang utuh antara hati maupun idenya yang terlahir dalam sebuah karya. Anak ini memiliki bakat bidang seni lukis yang luar biasa, dan telah menunjukkan kekuatannya, sehingga karya-karya hasil kreatifitasnya telah mempunyai ciri khas tersendiri yang merupakan ungkapan dari anak tersebut. Kekuatan tersebut memang melalui proses yang cukup panjang, memerlukan ketekunan dan kepekaan tersendiri dalam menggeluti dan berproses kesenian melalui kegiatan melukis.
Perkembangan selanjutnya anak ini semakin matang dalam mengolah obyek dalam lukisannya, di sini ia menampilkan suasana pasar tradisional dengan bentuk sketsa orang yang berani dan proposional didukung warna-warna cerah dan dominan, sehingga suasana pasar terlihat kuat membawa kita dalam suasana tersebut. Seakan ia mengungkapkan sebuah kerinduan akan pasar yang sebenarnya, yang kini semakin terdesak dengan pesatnya mall serta pusat perbelanjaan yang modern.
Sketsa-sketsa tentang pasar tradisional semakin tajam dan matang pada lukisan berikut. Sosok orang dengan segala kegiatan jual beli terlihat sempurna bagi seorang bocah yang masih duduk di bangku SD tersebut. Bentuk proposional maupun warna serta permainan perspektifnya mengagumkan, menjadikan lukisan ini semakin kuat, artistik dengan teknik crayon yang matang. Idenya memang terolah dan terkonsep dengan baik sebelum dijabarkan dalam wadah selembar karton polos, memiliki keberanian yang luar biasa dalam menggoreskan crayon tanpa merasa takut akan salah dalam goresan tersebut. Hasilnya cukup sempurna dan memiliki nilai tersendiri yang merupakan khas dan ciri seniman cilik itu sendiri.
Sementara anak memiliki kreatifitas tinggi sebagai tanggung jawabnya sebagai anak yang berkecimpung dalam dunia seni lukis. Obyek-obyeknya dalam karya lukisnya semakin spesifik. Kita lihat dalam lukisan disamping ini, ia melukiskan sebuah adegan dari sekelompok orang dengan segala ekpresinya dalam sebuah tujuan yang sama. Sketsanya menonjol dan mendukung obyeknya, sehingga kita akan ditarik pada sebuah titik tentang pesan yang akan disampaikan oleh anak tersebut, disitu terlihat sifat gotong royong yang kuat dari sekelompok orang dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Warna background hijau kebiruan dengan sapuan putih, memberikan kesan suasana kelam yang sedang menimpa kelompok orang.  Lukisan ini amat bermakna dan memiliki keunikan tersendiri sebagai hasil kreatifitas seorang bocah.

Dia mengembangkan kembali kelompok orang tersebut dalam lukisan berikut ini, suasana suram dilukiskan dengan warna ungu bergradasi, mendukung obyek yang sebenarnya. Anak ini telah mampu memberikan signal kepada kita bahwa kehidupan saat ini tidak lepas dari kerumunan orang, kelompok orang, dan lupa akan gotong royong yang sebenarnya, yang dulu pernah dicontohkan oleh nenek moyang kita, sehingga bangsa ini dikenal dunia akan gotong royong dan tolong menolong sesama, walau penuh dalam perbedaan-perbedaan, tapi memiliki satu tujuan.
Lukisan memang hanya berdiri sebagai lukisan itu sendiri, namun disisi lain lukisan juga dapat memberikan sebuah arti, baik bagi pelukis itu sendiri maupun bagi orang lain selaku penghayat. Dan lukisan dapat membawa sesuatu yang baru dalam kehidupan budaya di sekitarnya, khususnya dalam blantika seni lukis anak-anak di Indonesia.
Dalam lukisan bunga yang dibuatnya ketika duduk di kelas 1 SLTP, anak ini semakin matang saja dalam mengolah obyek dalam lukisannya. Penghayat dibawanya lebih fokus pada obyek bunga tersebut, sementara background ungu tipis keputihan membuat lukisan semakin menarik, estetik dan artistik, dan memiliki nuansa kekuatan tersendiri. Kematangan si anak dalam proses kreatif memang perlu untuk selalu dibimbing, dibina, dan diarahkan kepada apa yang menjadi kekuatannya tersebut, sehingga anak tidak melenceng jauh dari apa yang menjadi miliknya, dan semua itu dapat membentuk anak lebih percaya diri, memiliki ciri dan kekhasan yang tidak dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak akan ada dalam lukisan hasil orang lain.  Di sini fungsi sanggar sebagai wadah anak-anak dalam berkreatifitas akan mendapat kepercayaan oleh orang lain tanpa harus diminta, tapi cukup melalui hasil karya lukisan anak-anak didiknya, dan sanggar hanya melahirkan anak-anak tersebut, sementara kekhasan atau ciri bukanlah milik sanggar, tetapi milik anak itu sendiri, karena pribadi anak itulah yang memproses dengan segala kreatifitasnya melalui karya-karyanya.

Kedua lukisan yang menggambarkan penari holahop dan seorang pelukis di atas dibuat oleh anak kelas 6 SD, obyeknya memang sederhana, namun disitulah letak kekuatan si anak dalam menampilkan obyek lukisannya. Mengajak kita untuk menikmati secara fokus kepada seorang penari holahop dan seorang pelukis dengan kegiatannya. Warna merah bergradasi hingga merah muda keputihan memperlihatkan kematangannya dalam mengolah warna, tidak perlu banyak warna seperti kebanyakan pada lukisan anak-anak lainnya, namun tetap memiliki nilai tersendiri dan menarik untuk dihayati. Sedangkan dalam karya seorang pelukis, ia memperlihatkan keteguhan jiwa seniman dalam mempertanggung jawabkan sebagai seorang pelukis, walau dalam kesederhanaan, hidup dalam kemiskinan tapi memiliki kesabaran dalam menghadapi kehidupan ini, tidak menyerah dengan keadaan, dan tetap berjuang melalui kreatifitasnya dalam sebuah karya lukis.
Kalau kita perhatikan lukisan ini cukup sederhana, warna-warnanya pun tidak banyak ditampilkan. Tapi anak tersebut telah mampu menuangkan idenya dengan obyeknya tentang keganasan alam, yang pada akhir-akhir ini sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia maupun dunia sendiri.  Ia menggambarkan suasana bencana alam dengan kekuatan ekpresinya dalam goresan-goresan warna yang kuat, seakan badai telah terjadi, menimbulkan gelombang dan menerpa rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Anak ingin mengingatkan kepada kita semua akan bahayanya bencana alam, bahwa alam perlu untuk dijaga dan dilestarikan, sehingga bencana seperti tersebut dapat dikurangi, atau dikendalikan, dan tidak lagi banyak menelan korban nyawa maupun harta benda. 
    Lukisan anak-anak memang memiliki kekuatan tersendiri, keluguan, kelucuan, keceriahan, bahkan masih banyak lagi ungkapan yang tergambar dalam lukisan-lukisan tersebut. Oleh karena itu perlu adanya wadah berupa sanggar untuk memberikan kebebasan berekpresi melalui karya lukis, sehingga anak-anak tidak terkungkung dalam ide-ide yang mandeg dan mandul. Mereka perlu dikembangkan dengan segala kekuatannya, dibimbing dengan kesabaran dalam menemukan kepercayaan diri, serta kekhasan sebagai anak untuk mengembangkan bakatnya kelak dikemudian hari.